28.8.20

Menjajah Diri Sendiri
Bungkam bergelantungan pada pita-pita
Suara didada berontak ingin keluar
Bibir terkatup rapat tak acuh mendengar
Pikiran dikepala dipecuti dipaksa diam
Sayang, ia menjarah kebebasannya sendiri. 

19.8.20

Katakatakatakatakatakatakataka...

dst. 
dsb.

Manusia penuh kata-kata
Tulisan atau verbal
Dan aku pingin rehat berkata-kata

Dadah. 

13.8.20


Aku mau jadi diri sendiri
Hidup sama kucing
Dirumah kecil nan asri
Dipinggir jalan atau pedesaan
Punya perpustakaan dan sepeda engkol
Aku cukup
Asal bisa melakukan kegiatan yang bikin aku senang
Bekerja dan menghasilkan uang sendiri
Sudah lebih dari cukup
Lain-lain urusan nanti.

11.8.20

Melankolis

Malam ini ia duduk dikursi plastik warna biru pucat. Dibalik pagar putih besi bermotif bunga warna emas. Menikmati nyanyian sunyi diiringi gemuruh angin malam meniupi helai-helai rambut puan. Kepalanya meriak menggelombang satu bundel ingatan. Sekejap bercecaran di udara, bergelantungan di langit-langit atap rumah. Ia terpaku memandang elok taburan bintang, adakah jawaban disana?

6.7.20

Kongkalikong sama Tuhan

Kataku ke Tuhan :
Tuhan aku ingin jadi burung agar aku bisa terbang leluasa di angkasa
Eh jangan! nanti aku ditembak manusia buluku dijadikan hiasan di topinya
Tuhan aku ingin jadi kucing kecil lucu di pasar
Eh gak jadi ah! nanti aku ditendang, dipukul, atau gak sengaja ditabrak kendaraan manusia
Tuhan aku ingin jadi pohon agar bisa memberi tempat teduh dan oksigen ke makhluk lain
Ehh nggak ah nanti aku ditebang jadi kertas atau tisu atau lahan untuk bangun pabrik
Kalau gitu aku ingin jadi udara saja, Tuhan! Yang menyelubungi bumi agar makhluk lain bisa tinggal disini. Tapi gak jadi deh soalnya aku takut nanti decemari polusi dari kendaraan dan pabrik-pabrik.
Ehm aku ingin jadi singa saja Tuhan! Gagah berani berdiri di tengah hutan mengaum aauuuhhmm
Eh sebentar! tidak jadi Tuhan nanti aku diburu manusia kulitku dijadikan pakaian
Jadi ikan saja lah. Eh jangan! nanti aku mati karena racun yang dibuang ke laut oleh manusia
Tuhan, aku jadi Iblis saja, boleh tidak? Eh tunggu tunggu! gak mau ah nanti aku dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan manusia
Tanya-Nya : Jadi malaikat?
Kataku : Nggak ah, kurang greget. Aduh enaknya jadi apa ya Tuhan?
Tuhan bertanya antusias : Nah, jadi benda-benda langit saja gimana?
Jawabku pasrah dan sedikit menuntut : Tapi mereka tidak punya kesadaran atas dirinya, tidak bisa berpikir apalagi merasa?? Tapi, Ah yasudah lah! Apa saja deh Tuhan yang penting jauh dari manusia dan tidak seperti manusia. Aku muak jadi manusia!

20.6.20

Macam-macam hamba

/1/
didendangkan nada-nada cinta
ditulis puisi kekaguman atas kuasaNya
menatap ciptaanNya penuh takjub luar biasa
tak lupa menyebut namaNya kala bicara
tapi tau tidak? itu hanya bualan semata!
saat tidak ada manusia yang melihat
tak segan dilanggar laranganNya
tak ragu abaikan perintahNya

/2/
Obsesi pada simbol-simbol agama
menyiarkan hukum-hukum Tuhan, sampai lupa
seolah hakim bagi yang tak seiman
seolah sempurna benar bagi yang tak sejalan
tanpa sadar, mengkerdilkan Tuhan
padahal, jangan-jangan,
pikiran sendiri yang dangkal?

/3/
darinya Tuhan menjelma penuh kasih sayang
tuturnya lemah lembut pada siapa saja yang datang
mencintai Tuhan sebanding mengasihi ciptaanNya
cintaNya masuk ke relung-relung hati
memenuhi darah, mengiringi detak jantung
menemani tiap langkah laki, hembusan nafas
bahkan kedipan mata
yang nampak hanya cintaNya
yang keluar dari bibir adalah kasihNya
yang terpancar dari perilakunya ialah cahayaNya

/4/
ibadah sebab suatu keharusan
kebiasaan turun temurun
lakunya tak ubah penggugur kewajiban
sembari meminta ini itu
sembari bercerita begini begitu
bak wadah untuk mengadu
bagai ombak di lautan
kadang kejam menghantam bebatuan
kadang kala tenang dalam kedangkalan

15.6.20

do'a

tak ada jarak
tak laku waktu
doa melanglang buana ke penjuru dunia

tak ada sekat
tak laku liku
doa menulusuk bilik- bilik ragu

tak ada batas
tak laku kelas
doa 'kan menggema di angkasa luas

tak ada raga
tak laku ras, agama, suku
doa selalu berlayar menuju yang dituju

14.6.20

Milik siapa?

Saat muda-mudi dilanda cinta..

Aku mencintaimu karena itu aku ingin kamu jadi milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!, katanya dengan suara penuh penekanan, yakin.

Aku pun mencintaimu, tapi bagaimana kamu bisa memiliki ku jika ragaku saja bukan milik ku?, jawab lainnya sekaligus tanya.

Seketika hening. Mungkin keduanya sibuk mencari jawaban yang tepat.

9.5.20

Haru Biru Kekasihku (Oleh : Cak Nun)

★★★★★
Laut berdoa
Tujuh samudra, seluruhnya, angkat bicara
     Ya Tuhan Raja Diraja, perkenankan kami meluapkan
     air kami untuk menenggelamkan seluruh permukaan
     bumi
     Kami akan bungkus planet yang makin berbau
     busuk ini dengan banjir total
     Kami akan lumatkan kota-kota dan seluruh tempat
     tinggal manusia, kami akan bikin mereka megap-megap,
     memekik-mekik, kehabisan tenaga untuk berenang dan
     gagal untuk coba-coba menyelamatkan diri
     Ya Tuhan Raja Diraja, kami akan bikin kehidupan
     mereka luluh lantak!

Para malaikat kaget bukan buatan mendengarnya
Kenapa, kenapa? mereka bertanya
Dan laut menjawab
     Bukankah memang itu yang manusia kehendaki
     Kalian para malaikat telah mengetahui bahkan sejak
     sebelum manusia pertama diciptakan
     Tapi kalian terlalu sabar, dan mungkin agak bodoh
     Dari Tuhan kalian memperoleh jatah kesabaran yang 
     berlebihan
     Itu tak wajar

Para malaikat mengepakkan sayapnya tinggi-tinggi: Wahai
samudra yang dipilih Allah untuk mengajarkan ilmu
semangat, kalian ini omong apa?
     Manusia memande keris untuk mereka tikamkan 
     ke jantung mereka sendiri perlahan-lahan
     Untuk apa?
     Apakah kematian sedemikian memerlukan estetika,
     memerlukan beribu seminar untuk merundingkan
     bagaimana cara yang menarik untuk mati, memerlukan
     sekian banyak biaya, ilmu dan teknologi serta berbagai 
     kerepotan sosial?
     Ya Tuhan Raja Diraja, begitu total cara manusia
     mementaskan ketololan
     Perkenankan kami menenggelamkan kehidupan mereka
     sekarang juga

Para malaikat menggeleng-gelengkan kepala, tapi belum
sempat mereka meneruskan pertanyaan, terdengar gunung-
gunung pun berdoa
     Ya Tuhan Mahaadikuasa, izinkan kami meledak,
     izinkan kami meletus, menumpahlan batu-batu
     panas ke segala penjuru, bagai seribu naga berlidah
     api yang mengangakan mulutnya, menyerbu pasar-
     pasar, bangunan-bangunan pemerintahan, serta
     menumbangkan rumah-rumah ibadah yang dipalsukan
     Ya Tuhan Mahaadikuasa, izinkan telinga kami
     memperoleh kelegaan dengan mendengar jutaan
     manusia berjerit-jerit dengan wajah pucat pasi, berlari
     ke sana-kemari dan bertabrakan satu sama lain
     Izinkan mata kami menyaksikan naga-naga membelit
     dan meremukkan tulang-belulang mereka, dan apabila
     ada di antara manusia yang coba lari menghindar,
     ekor naga-naga kami akan mencambuk: seribu orang
     terlempar oleh satu kali cambukan

Kalian ini dihinggapi penyakit jiwa macam apa? Para
malaikat hampir membentakkan suaranya
     Aku tak sabar lagi! Jawab gunung-gunung
     Sedangkan seluruh hamparan alam ini bersujud kepada
     Tuhan, tapi manusia saling menyakiti satu sama lain
     Sedangkan planet dan bintang-bintang bertasbih, tapi
     manusia sibuk merampok dan menindas
     Sedangkan air bergemericik, melantunkan melodi-
     melodi pemujaan, tapi manusia merampas waktu
     untuk monopoli dan menghimpun batu-batu berhala
     Sedangkan katak dan cengkerik paham ekosistem, tapi
     manusia merusak tradisi hukum penciptaan
     Sedangkan angin mengelus pepohonan, meniupkan
     seruling cinta dan sembahyang, tapi manusia
     menghabiskan biaya untuk makin gagal memahami
     diri mereka sendiri, untuk terus salah sangka terhadap 
     kehidupan

Dan tiba-tiba terdengar suara pepohonan
     Tingkah manusia membuat sembahyangku tidak
     khusyuk
     Aku ingin tumbang menimpa rumah-rumah mereka
Terdengar pula burung-burung mengumandangkan suara
     Kamilah burung-burung, yang terbuat dari kata-kata
     yang diucapkan oleh mulut manusia
     Satu kata yang dilontarkan menjelma seekor burung
     Berjuta-juta kata yang setiap hari memuncrat dari
     mulut manusia menjelma jadi berjuta-juta burung yang
     memenuhi angkasa
     Kamilah burung-burung, kamilah berjuta-juta burung
     yang kelaparan, yang dibiarkan kelaparan, karena tak
     dihidupi oleh kejujuran perbuatan manusia
     Kamilah berjuta-juta burung yang tak berbentuk, yang
     kepala kami jadikan kaki, kaki kami dijadikan paruh,
     paruh kami tanggal dan berjatuhan ke ladang-ladang
     kering
     Kamilah berjuta-juta burung yang disamarkan, dibolak-
     balik, dikhianati dan kehilangan makna
     Ya Tuhan Sang Pemenuh Janji, perbolehkan kami
     sekarang menagih utang kepada manusia
     Kami akan memenuhi angkasa, kami akan melingkari
     bumi dengan tubuh dan sayap-sayap kami
     Kami akan taburi langit dengan menjadikan diri kami
     awan gelap yang mengirimkan cahaya kembali kepada
     matahari
     Kami akan bikin manusia tak disentuh lagi oleh cahaya
     sehingga sempurnalah kegelapan yang mereka rancang
     dan rekayasa sendiri
     Kemudian kami akan kirim sebagian kami untuk turun
     ke bumi, menerpa setiap manusia, mematuk kening
     mereka, mencakar-cakar daging mereka, kemudian kami
     paksa mereka mencucup darah mereka sendiri yang
     mengucur

Kemudian beribu-ribu suara terdengar bersahutan
Seribu doa meluncur, melesat jauh ke tepian jagat

Matahari berdoa tentang kebutaan hati
Rembulan berdoa tentang keperawanan
Siang berdoa tentang kerakusan
Malam berdoa tentang kemaksiatan
Udara berdoa tentang pencemaran
Sungai berdoa tentang kotoran
Ruang berdoa tentang monopoli
Waktu berdoa tentang penjara
Logam berdoa tentang peluru
Api berdoa tentang mesiu
Doa-doa tak terkatakan
Doa-doa tak terumuskan
Doa-doa bertabur, berdesing, bergulung-gulung
Doa-doa menampar langit
Doa-doa hampir menjatuhkan bintang-bintang
Dan Jibril, Jibril, terbang dari 'Arsy
Menangkap semua itu
Menggenggamnya menjadi sunyi

Kemudia Tuhan berkata
meskipun tak setitik benda atau kehampaan pun
mengetahui dari mana dilontarkan
Kemudian Tuhan berkata
meskipun tak seserpih suara atau kesunyian pun
mengerti apakah itu suara atau bukan suara
     Diamlah kalian
     Karena Aku paham
     Kalian tidak

     Laut, gunung-gunung
     Debu dan angin berdesir
     Bintang beredar dan mengalirnya air
     Kusabda untuk menjalin cinta
     Namun tidak untuk memahaminya
Manusia adalah masterpiece ciptaanku
Kalian tak kuberi kemungkinan untuk menakar
     betapa artinya itu bagiku
Manusia adalah haru-biru kekasihku,
     yang kuungulkan dan kusayang sebagai kandungan
     emas dalam butiran-butiran debu
Dengarkanlah, tentang hal itu pun kalian semua tak kuberi
     ilmu

Kalian seribu samudra seribu laut akan menguap
     mengering oleh panas api cintaku kepada
     makhlukku yang bernama manusia
Kalian bijih besi baja segala logam akan meleleh
     jika kuperdengarkan senandung cintaku kepada mereka
Sungai mengalirlah
Danau heninglah
Udara bertiuplah
Pepohonan bersujudlah
Gunung-gunung bersedekaplah
Bintang beredarlah dan langit tunduklah
Agar cintaku kepada kekasih unggulku tak menjelma
      jadi amarah yang tak akan sanggup kalian tampung dan 
     mengerti

Kalian alam benda, alam nabati dan hayawani tak kuberi
hak untuk marah
Kalian semua yang menghuni wilayah kerendahan dari 
     langit-langitku, tak kuwarisi kewenangan untuk
     mengubah atau membekukan, untuk mempercepat atau
     memperlambat, untuk menghancurkan atau membangun
Kemerdekaan semacam itu hanya kupinjamkan sebagian
     kepada manusia kekasih unggulku

Kalian alam langit bawah tak memerlukan kesabaran untuk
     bersabar menampung polah-tingkah kekasihku

Karena kalian adalah persemayaman kesabaran itu sendiri
     yang menunggu manusia menyusunnya dari puting 
     kalian
Kalian adalah jagat sujud itu sendiri di mana manusia
     becermin untuk belajar tahu diri
Kalian adalah salah satu negeri ilmuku di mana manusia
     meniti dan menyerap tanda-tandaku untuk menyuapi
     kelaparan pengetahuan mereka

Kalian menyaksikan manusia kehilangan budi di puncak
     akal budinya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia disakiti oleh kegagahan ilmu
     kesehatannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia terbodoh-bodoh di ufuk
     jauh pengetahuannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia menata batu bata
     kehancuran di hari-hari gegap gempita pembangunannya
Tenanglah
Diamlah

Kalian tak akan tahu betapa aku menyayangi mereka
Dan apabila kalianlah yang dulu menciptakan manusia,
     niscaya akan sedemikian besar pula cinta kalian
     kepada mereka
Bahkan cinta kalian akan sedemikian buta, sehingga gerak
     tangan kalian akan mempercepat kehancuran hidup
     mereka

[Oleh : Emha Ainun Najib ; Buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya:1987]

3.5.20

Analogi Pohon

sc : unplash.com

Bermula dari sebuah biji kecil. Tertanam di dasar tanah. Disiram air mata. Diberi pupuk harapan. Dibentur terik matahari. Diguyur deras hujan. Diterpa angin kencang. Awalnya batangnya mungil. Menyisakan banyak ruang. Jika dicabut seakar-akarnya masih gampang.

Seiring berjalannya waktu tumbuh jadi pohon raksasa. Akarnya kuat menghujam bumi. Masuk ke dasar menyatu dengan tanah. Batangnya besar dan kokoh menjulang ke langit. Daunnya rimbun. Rantingnya menjulur kemana-mana. Meneduhkan siapa saja yang berteduh dibawahnya.

Suatu hari, pohon akan dirobohkan. Tidak mungkin dicabut, akarnya terlalu kuat. Pohon itu sudah menyatu dengan bumi. Ditebang pun akarnya masih tertancap di dasar. Namun, tanah tak lagi gambut. Bumi gersang. Udara bersih berkurang.

12.4.20

Si Warbler

Ku perhatikan dia selalu memeluk angin. Menengger diantara tangga-tangga langit. Menari berlari-lari berputar bermain kesana-kemari.

Andai aku bisa, akan kutanyakan banyak hal padanya mengenai dunia. Ku paksa dia menceritakan semua negara yang pernah dia lewati dan manusia-manusia yang pernah dia temui. Aku ingin melihat melalui matanya.

Woy, Beler!

Pernahkah kau mengintip manusia yang sedang bercerita dengan semilir angin, bergurau dengan capung-capung dan mangutuk hal sederhana?, ku teriaki dia dari bawah sini. Kali saja dia dengar meski dia tidak pernah dengar.

Si Beler terus mendaki ke udara, menukik menerobos arak awan. Semakin kecil.. kecil.. kecil.. hampir tidak terlihat.. sampai tidak terlihat sama sekali. Bagai debu. Begitu kecil.

Dasar si Beler! mana pernah dia mendengarkan aku!

1.3.20

What a Wonderful World

Kota Pahlawan dilanda hujan sejak sore tadi. Saya di teras rumah makan kue buatan Ibu ditemani What a Wonderfull World cover by Playing for Change. Aroma hujan membawa angan melayang menembus ruang dan waktu, menjelajahi imajinasi.

***
Suatu sore di teras rumah, hanya duduk-duduk santai dikursi kayu bercat biru. Menulis surat untuk seorang teman, ditemani induk ayam dan anaknya yang berkeliaran kesana-kemari. Kumbang-kumbang bersenda gurau dengan bunga liar, kupu-kupu bersayap abstrak dan semilir angin bersekutu  akan menebar nektar. Ranting-ranting berkolaborasi dengan gemericik air menghasilkan musik alam.

Kuperhatikan langit oren berawan abu-abu pertanda mendung. Ilalang menari berduet dengan burung merpati, sesekali kulihat tupai memanjat pohon mangga. Daun-daun kering berguguran, angin membawanya terbang.

Terdengar lagu What a Wonderfull World yang dinyanyikan oleh Louis Amstrong dari radio milik tetangga. Ku hirup udara segar, berharap dan berdoa agar bumi selalu sesehat ini. Terima kasih sudah hidup.

"..And I think to myself, what a wonderful world."

14.2.20

Tongkol untuk kucing ajaib

Dua hari lalu, aku kembali lagi ke loteng rumah. Aku perlu waktu sendiri untuk berpikir dan merenung, atau sekadar duduk-duduk melamun. Ngobrol sama angin, tembok, langit dan akhir-akhir ini sama kucing.
klutaakk..

Refleks aku menolah ke arah suara itu berasal, 'Ealah kucing iku neh, tiwas tak kiro malaikat zabaniyah, jantungku kadung deg-degan tak pikir jatuh cinta', batinku. 'huft!'. aku menatap langit kembali. Dia--kucing itu-- seperti yang lalu, rebahan disebelahku.

"Tekan ndi ae kuwi?", tanyaku saat dia sudah mapan tiduran.

"Tolek pindang, nemu balunge tok. Asu tenan wong-wong iki!"

"Oalah", jawabku singkat tanpa melihat kearahnya.

"Jancik oalah tok, mbok yo sampeyan ki shodakohno iwake sampeyan ning aku sitik ae. Cerit nemen menungso iki!"

"Gelem tahu a?", tanyaku.

"Gak!! SUWON!!", dari nada suaranya nampak dia kesal sekali. "Yawis", balasku cuek, aku menahan tawa melihat dia jengkel sendiri.

Kita terdiam lagi. Dia tidur, aku memangku tangan diatas lutut, kurebahkan kepalaku, melihat kegiatan orang-orang dari atas sini. Saat itu, dari HP acak memutar lagu, Jamrud - Pelangi Dimatamu. 

Mungkin butuh kursus
Merangkai kata untuk bicara
Dan aku benci harus jujur padamu,
Tentang semua ini
........
Aku sayang padamu
Aku sayang padamu

Begitulah liriknya. Tiba-tiba aku ingat seseorang.

"Cing pernah gak kuwi naksir wong tapi ga wani ngomong?", tanyaku ke dia, memecah keheningan.

"Gak blas, nek naksir yo mestine diomongno, wong hak kabeh wong ngungkapno roso. toh iku yo guduk pilihane awakdewe naksir ning dee, pilihane awadewe yo ngungkapno o gak.".

Aku mengangguk-angguk, mengiyakan jawaban sok bijaknya tapi benar itu.

"Terus piye, cing? aku isin, gak nyongko sisan iso sampe seseneng iki ning wong"

"Lanang ta wedok?", tanyanya.

"Lanang lah cuk! jaluk di congor mbun-mbunane", aku menatapnya, dia menatapku balik dengan wajah serius..

"Omongno ae lah, sesuk iki loh pas valentinan. Tukokno saridele ning bulek Ju, mbek kembang kamboja jupuk ndek kuburan cidek samsat konoh."

Aku tertawa ngakak, Jancuk! mana ada orang ngasih kado valentine berupa sebungkus es saridele dan sekotak bunga kamboja? Tapi, boleh juga sih, perpaduan antara lucu, malu-maluin, antimainstream dan gak ada duwit.

"Tambahno surat tanah lak dee gelem", tambahnya. Semakin buatku ngakak tepingkal-pingkal. PARAH! kucing bisa ndagel.

"Nggak ah cing, sik gak wani"

"Ealah yawis, simpeno ae iku perasaan sampeyan sampe blenek", katanya.

"Iyo", jawabku singkat dan jelas. 'Nanti lama-lama juga aku lupa', tambahku dalam hati. Jawaban yang sama seperti jawabanku lima tahun lalu.

Lalu aku teringat sesuatu, aku turun kebawah, buka rak, kuambil separuh tongkol di mangkok lauk punya Ibuku. Lalu aku taruh didepannya. dia bangun dari tidurnya mendengus ikan tongkol tepat didepan hidungnya, terkejut, wajahnya sumringah.

"Gawe aku a, mbot? eh, sowry gak sopan, gawe aku ta, mbak? Gratis gak iki?", tanyanya dengan wajah berseri-seri bahagia.

"Yo'i, Gratis. Iku dalam rangka hari kasih sayang."

"Hari kasih sayang kan gak onok harine, sak mbendino, berarti sampeyan kudu ngeki aku iwak sak mbendino. Yo oraaaa?!" Katanya, dengan wajah yang semakin sumringah.

"Yoi", Jawabku singkat. "Wah, Suwon, mbak sampeyan pancen the best trulala", Tanpa basa-basi, dia langsung melahap tongkol yang kucuri dari rak rumahku sendiri. "Lho, gak moco bismillah sek", protesku.

"Aku atheis."....

4.2.20

Kucing Ajaib

Hari pertama di bulan Februari, kebetulan jatuh pada hari Sabtu, itu berarti di awal bulan kedua ini  setelah gajian aku pulang tiga jam lebih awal dari hari kerja biasanya. Hore! HAHAHA. Kalau sudah kehabisan kegiatan setelah kerja, pikiran secara otomatis buat to do list sederhana.

Seperti biasa kalau tidak ada kegiatan lain, tempat yang jadi tujuan pertama adalah loteng rumah. Tepat di tempat biasa aku duduk, ada kucing rebahan sambil ngopi dan sebat. Aku bercanda! Maklum, imajinasi memang gak masuk akal.

'Mana ada kucing ngopi apalagi rokokan?', batinku.

Tiba-tiba tepat dari sebelahku muncul suara kecil serak-serak basah membalas gejolak batinku..
"Lah piye arep ngopi mbek rokokan tho Mbak, mangan ae susah kudu tolek-tolek ning sampah sik. mending yo nyolong pindang luwih garai weteng wareg."

"JUANGKREK!!!", sialnya serangga itu yang tanpa disadari selalu keluar dari mulutku saat aku terkejut, bukan kalimat istigfar. Refleks aku langsung mundur beberapa langkah dari kucing itu.

"Plis mbak aku kucing, guduk jangkrek. Piye tho ra iso mbedakno mamalia mbek serangga, ngetarani gak tau nyimak pas pelajaran IPA.", kucing itu melihatku dengan sinis seakan-akan tidak terima dengan umpatanku.

Aku diam ditempat masih terkejut dan pastinya tidak percaya. Nalarku menggebu-gebu berusaha mencerna kejadian aneh ini. Aku melihat kucing itu lekat-lekat..

"Aku kucing ajaib, mbak. Aku bisa ngomong dan pendengar yang baik juga. Aku sering dengar sampeyan ngomong-ngomong sendiri disini. Aku jug...."

"Lho berarti kuwi ki sering nguping!"

"Astagfigrulloh, nggak mbak. Aku cuma gak sengaja dengar ocehannya sampeyan, wong sampeyan ngomongnya mesti berak-berok ya aku dengar lah. Su'udzhon ini!", dia tampak kesal.

Lucu, baru kali ini aku lihat kucing dengan raut wajah kesal.
"Hehe, maaf, cing", Tidak tau kenapa aku sudah tidak takut dengan kucing ajaib ini, aku mulai memaklumi. Pikirku, toh hadirnya dunia ini juga sama tidak masuk akalnya dengna kucing yang bicara itu. Akhirnya, aku mulai berani kembali duduk ke tempat dudukku semula. Aku terdiam sebentar..

Kemudian dia bertanya..
"Apa aku ini sudah gila ya mbak ngomong sama manusia?"

Aku menoleh kearahnya.. heran.
"Lho, kudune aku sing takon ngunu cing, guduk awamu.. Aneh iki!
Tapi, menurutku wi gak gendeng sih soale gak kabeh hal iso masuk ndek akal, cing. gak kabeh hal kudu mok eroi toh gak mungkin yoan awamu ero sak kabehne, gak kabeh hal kudu dipikirno yoan. Tapi ancen iki gak masuk akal yo, cing?"

Dia manggung-manggut setuju, terlihat seperti mikir dan berkata dengan yakin, "Nah, itu maksudku! Mung nek kabeh ning dunyo iki diukur mek atek nalar tok. Gampangane, film-film kartun favorit'e sampeyan ora bakal ono, mbak."

Sekarang gantian aku yang manggut-manggut setuju. Baru kali ini aku bertemu dengan hewan yang bisa berpikir selain manusia. Kami pun kembali tenggelam dengan dunianya masing-masing. Merenung, berpikir, atau hanya sekedar mengenang masa silam ditemani angin sepoi-sepoi dan langit sore menjelang malam.

6.1.20

Itung-itungan sholat

Berapakah waktu yang dibutuhkan Mat, Ema dan Tika untuk beribadah (sholat fardhu) dalam setahun jika seandainya mereka tidak pernah meninggalkan sholat sekalipun? hitunglah dengan detail beserta penjelasannya! lalu jadikan presentase!

Jawaban :

Ket :
Sehari = 24 jam
Setahun = 365 hari
Setahun = 24 x 365 = 8.760 jam

Jika..
> sholat yang terdiri dari 4 rokaat membutuhkan waktu 15 menit beserta zikir dan doanya.
> sehari ada 3 sholat wajib 4 rokaat.
> sholat yang terdiri dari 3 rokaat membutuhkan waktu 12 menit beserta zikir dan doanya.
> sehari ada 1 sholat wajib 3 rokaat.
> sholat yang terdiri dari 2 rokaat membutuhkan waktu 10 menit beserta zikir dan doanya pula.
> sehari ada 1 sholat wajib 2 rokaat.

Waktu yang dibutuhkan untuk Ibadah dalam setahun :

1 jam = 60 menit
15 menit = 15/60 menit = 1/4 jam
12 menit = 12/60 menit = 1/5 jam
10 menit = 10/60 menit = 1/6 jam

Sholat 4 rokaat dalam setahun :
1/4 x 3 x 365 = 273,75 jam = 274 jam (dibulatkan)

Sholat 3 rokaat dalam setahun :
1/5 x 1 x 365 = 73 jam

Sholat 2 rokaat dalam setahun :
1/6 x 1 x 365 = 60,83 jam = 61 jam (dibulatkan)

Jumlah jam Ibadah wajib selama setahun :
274 + 73 + 61 = 408
Presentase jam Ibadah wajib selama setahun :
408/8.760 = 0,0465 = 4,65 %

Jadi, Mat, Ema dan Tika menggunakan 4,65% waktunya dalam setahun untuk melakukan sholat wajib atau ibadah.

24.10.19

Waktu, Hidup, Mati


Jam dilambangkan sebagai waktu, pohon gersang dilambangkan sebagai mati, tumbuhan yang melilit pohon dilambangkan sebagai hidup.

"SETIAP YANG BERNYAWA PASTI AKAN MERASAKAN MATI"

diambil dari ayat Al-Quran: Ali Imran; 3:185.

"..kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa, hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa." - Kesaksian Sederhana; Cak Nun; 2003.

24.8.19

O.K

This is not what I had planned,
It's all out of my control.
Whatever will be, then will be.
Nobody knows.
I'm not ok, but it's ok.