10.11.25

Destiny

"Meski akhirnya tak bisa mencapaimu, 
tidak tumbuh bersamamu, 
senang rasanya bisa menemukanmu 
di dunia yang luas ini" 

- 23:18

5.11.25

Pada Jarak yang Abadi

aku titipkan namamu pada angin,
agar tersesat di jalan yang tak menuju aku.
jika kelak aku meniti tepi terang,
biarlah cahaya tak mengenang wajahmu.
biar sunyi menjaga batas di antara kita—
tak ingin lagi takdirku bersilang denganmu.
dan andai takdir mencoba mempertemukan kita lagi,
akan kulawan seluruh semesta untuk tidak menemuimu.

Mimpi dan Pertanyaan Aneh Itu

Aku bertemu seseorang yang tidak ku kenal tapi entah bagaimana, aku merasa cinta sekali padanya—seperti mengenalnya dengan wajah dan tubuh yang berbeda. Tapi hatiku tau, itu dia. Ia duduk di depanku, di antara pagar kaca yang membatasi kami, berjarak beberapa centi aku duduk tepat di belakangnya. kulihat punggungnya, dia memakai jas dan celana warna hitam. aku menyandarkan dahiku pada kaca itu, tampak lesu menunggu, memandangi pemandangan hijau di sekeliling, indah sekali, seperti saat kami sedang berjalan-jalan di alam terbuka.

Dalam mimpi itu, aku sedang mengambil suatu kelas mata kuliah. Tak kusangka, dia juga mengambil kelas yang sama. Kami sama-sama sekolah, hanya saja berbeda tingkat.

Saat itu dia tidak sendiri—ada temannya yang berdiri di sebelahnya, mengobrol santai. Sementara aku, duduk diam seperti sedang menunggu seseorang yang akan menjemputku. Hingga tiba-tiba, ketika temannya pergi, dia berpindah duduk ke tempat temannya tadi berdiri. jadi seolah kita duduk berdampingan tapi masih berjarak. Aku masih di posisi yang sama, menyandarkan dahiku pada pagar kaca itu.

Lalu, tiba-tiba, dia membuka sedikit pagar tempat dahiku bersandar. aku refleks menjauhkan kepalaku dari situ, dan menoleh padanya. Tatapannya jatuh ke arahku, dan ia mulai mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang cukup rumit. Dia berbicara mengenai kehidupan, tapi dengan sebuah istilah-istilah yang aku tidak paham maksudnya. Aku mencondongkan kepalaku, berusaha menyimak, mengernyitkan dahi, bingung. Sayangnya, aku lupa detailnya seperti apa. Saat pertanyaan itu terucap, tiba-tiba tiga atau empat perempuan mendekatinya, ikut menyimak apa yang dia bicarakan.

Aku bilang padanya dengan jujur, bahwa pertanyaannya cukup rumit dan aku tidak paham. Ketika dia mencoba untuk menjelaskan lagi padaku, ada salah satu perempuan yang berdiri di sampingnya—yang tadi ikut menyimak—menyela dan menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku dengan bahasa yang sama rumitnya, dengan sesekali memberikan senyum dan sedikit menggodanya. Karena kupikir dia sudah memiliki teman untuk berbicara, aku menutup kembali pagar kaca itu dan kembali pada kesibukanku: merenung, menunggu, menatap pemandangan yang tenang, membiarkan mereka bercengkrama.

Aku masih ingat jelas, saat perempuan itu menjawab pertanyaannya dengan sedikit kalimat menggoda, dia hanya tersenyum lalu membuat gesture tangan seperti berkata maaf dan idak tertarik pada jawabannya, kemudian menanggapi jawaban perempuan lain sebentar. Entah kenapa, waktu itu aku merasa sedih. Kupikir dia tidak mau mengajakku bicara lagi—jawaban dari perempuan-perempuan itu kupikir akan menarik perhatiannya dan dia akan segera melupakan jawabanku.

Namun tidak kusangka, dia malah masuk dan duduk dibelakang samping kananku, bertumpu pada lutut dan ujung jari kakinya, tubuhnya sedikit condong ke depan—bukan benar-benar jongkok, tapi juga bukan duduk. Seolah ia tengah berhenti di antara dua gerak: menunggu atau hendak bangkit—, dia meninggalkan mereka, kita lebih dekat, tanpa jeda, dan batas kaca itu tak pernah ada. aku dengan sedikit mencondongkan badanku kearahnya memberikan telingaku, menopang tubuhku dengan lengan yang kuletakkan dipahanya dengan sedikit bersandar pada lengannya, bersiap mendengar dan mencerna pertanyaan yang akan keluar dari bibirnya. Dia menatap mataku sejenak, lalu kembali bertanya, pertanyaan yang masih rumit, tapi dia coba untuk menyederhanakannya agar aku paham :

“Kalau misal suatu saat nanti kamu memasuki ruang-ruang yang berbeda...”

Sialnya—sebelum sempat kujawab dan kudengar seluruh pertanyaannya, alarmku berbunyi. Aku terbangun, membawa tanya yang belum sempat kutemukan ujungnya.

Bahkan dalam wujud yang berbeda aku mengenalmu sebagai Cinta

Sejak masa dunia masih sederhana,
aku jatuh cinta pada cara matamu menatap mataku—
seolah-olah kau menyelami jiwaku,
dan menemukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tak tahu ada.

Tahun berganti,
aku tumbuh, patah, belajar, menunggu.
Kau tetap tinggal di ruang tak bernama,
antara kenangan dan kemungkinan.

Setelah waktu berjalan begitu jauh,
kau datang dalam mimpi
bukan dengan wajah yang dulu,
bukan tubuh yang kukenal,
namun jiwaku bergetar seolah berkata,
“itu dia.”

Aku mengenalmu bukan dengan mata,
tapi dengan sesuatu yang lebih purba,
lebih tua dari waktu dan nama.
seolah ada bagian di dalam diriku
yang mengenalmu sejak sebelum dunia mengenal nama.

Namun aku lelah.
Cinta ini seperti api kecil
yang tak padam tapi juga tak menghangatkan.
Aku berdiri di antara ingin percaya dan ingin bebas,
antara menunggu dan melupakan.

Mungkin saatnya aku menyerah,
bukan karena tak cinta,
tapi karena ingin pulang pada diriku sendiri.

Jika memang jiwamu adalah rumahku,
biarlah semesta yang menunjukkan jalan pulang—
entah padamu,
atau pada ketenangan tanpa namamu.