Ku perhatikan dia selalu memeluk angin. Menengger diantara tangga-tangga langit. Menari berlari-lari berputar bermain kesana-kemari.
Andai aku bisa, akan kutanyakan banyak hal padanya mengenai dunia. Ku paksa dia menceritakan semua negara yang pernah dia lewati dan manusia-manusia yang pernah dia temui. Aku ingin melihat melalui matanya.
Woy, Beler!
Pernahkah kau mengintip manusia yang sedang bercerita dengan semilir angin, bergurau dengan capung-capung dan mangutuk hal sederhana?, ku teriaki dia dari bawah sini. Kali saja dia dengar meski dia tidak pernah dengar.
Si Beler terus mendaki ke udara, menukik menerobos arak awan. Semakin kecil.. kecil.. kecil.. hampir tidak terlihat.. sampai tidak terlihat sama sekali. Bagai debu. Begitu kecil.
Dasar si Beler! mana pernah dia mendengarkan aku!