Tampilkan postingan dengan label #kucingajaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #kucingajaib. Tampilkan semua postingan

20.2.25

Matematika ft Kucing Ajaib

 "Menghitung 8x6 saja masih pakai jari. begitu mau jadi ahli matematika. "SAINTIS!"" Kata kucing triple ngeselin itu.

Obrolan ini sebenarnya dimulai sejak satu jam lalu dari topik yang bahkan sudah aku lupa apa. Dini hari jam 3 pagi, di kamar.

"Loh kamu ini gimana? matematika itu gak cuma hitung-hitungan. Matematika itu bahasa Tuham menciptakan jagad raya, logika, analitik dan seni."

kucing ngeselin ini cuma diam saja, ntah dia paham atau tidak atau cuma ngantuk dan lelah dengan obralan kami yang ngalur-ngidul di dini hari.

15.2.23

Gak Ada Ide ft Kuca

 Let's call him as Kuca, biar lebih gampang, singkatan dari kucing ajaib. Baru sadar kalau selama ini kucing yang kadang memacu kejengkelan itu belum punya nama.

Kali ini, tiba-tiba, dia muncul saat aku sedang rebahan sembari melanjutkan gambaran digitalku. Mungkin, dia muncul karena memang sudah waktunya, bulan Februari.

Sembari sesegukan, yang hampir mirip seperti suara kucing muntah setelah makan rumput, dia bilang, "Ka-kamu ngelupain aku!", sroootttt, rupanya dia ingusan.

Dengan reaksi yang biasa aja, cukup terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Aku jawab santai, masih dengan posisi yang sama, coloring gambaranku : Aliens.

"Gak ada ide."

"Did you lost your feelings? your inspirations, him?", dia tanya ke aku, yang setelah kusadari dia sudah merubah mimik wajahnya menjadi serius dan seolah-olah yang barusan dia lakukan itu cuma nangis akting. Aku cukup mengumpat sedikit lewat batin, 'Anjing nih kucing.'

"Gak, biasa aja..

Dan mungkin aku sedang di tahap flat, karena gak ada lagi pikiran yang bikin aku terjebak dalam perasaan menyakitkan itu, jadi aku lagi gak perlu media untuk "kabur", bercerita atau meluapkan rasa."

Lagi-lagi, dia melakukan anggukan sok iye itu.

"Ok, jadi lagi gak ada ide buat nulis ya? gpp."

.........  ............  ............. krik krik..

"Loh, tapi kok ada ide buat gambar?! hah? MAKSUDNYA AAAPAAAH?!" nadanya berubah sedikit kesal dan jealous.

Gemesin.

Yang kubalas dengan gestur cuek ala gak peduli elu, cuma dengan bahu dan mimik wajah, sembari tetap melanjutkan gambaranku.

18.10.21

Try Out jadi Netijen Julid

Kali ini tiba-tiba kucing itu muncul didepanku dan dengan cueknya mengomentari apa yang sedang kukerjakan..

"Iki opo tho? Kupu-kupu kok ngene? warnae gak masuk...."

"Loh he, kenapa anda muncul sekarang?" Tanyaku spontan memotong kalimatnya.

"Lha piye, saya yang selalu menemani anda berbicara setiap hari saat tidak ada siapapun. Saya ada dalam diri anda, selalu. Jadi saya bisa muncul kapanpun saya mau."

"Maksudku, sekarang kan masih Oktober, biasanya kamu datang bulan Februari lho. Gak salah jadwal ta?"

Dia tidak peduli dengan pertanyaanku karena terlalu fokus memperhatikan apa yang kukerjakan dengan seksama dan telili. Memicingkan mata, melihat dari sudut kiri, lalu kanan, dari jarak dekat, lalu dari jarak jauh. Sembari berkomentar laiknya juri Master cheff Indonesia..



"Ini warnanya gak masuk, ungu kok campur kuning dan oranye, terus itu jembret-jembret, blend warnanya kurang ok kelihatan kayak asal-asalan, lalu apa itu maksudnya kok sayapnya gak simetris? Ini sih kalau aku jadi dosen aku kasih nilai F. Kamu gak lulus!", katanya begitu serius.

"Ha? Styleku memang begini, cing. Bebas dan fun. Ini temanya Bitterfly : Let the butterfly takes your bitter(ness) away.  Ini salah satu caraku mengekspresikan rasa dan pikiranku alias curhat tapi tetep rahasia. Jadi, aku gak perlu penilaian dan validasi apapun dari siapapun, termasuk kamu."

HAHAHAHAHA...

Tiba-tiba si kucing kampret ini tertawa terbahak membuat aku sedikit kebingungan melihatnya (Aku kira sudah gila).

"Aku tadi cuma latihan jadi netijen julid mbak. Manteb gak ektingku?"

"OOH DOBOL!"

"Mon Maap.. hehe. Selamat bersenang-senang. Cu next year!"

2.2.21

*Miruoy noitani gami

M i r u o y n o i t a n i g a m i = i m a g i n a t i o n y o u r i m

I'm your imagination

Dibalik Kucing Ajaib

Suatu hari yang cerah di bulan ke dua abad ke dua puluh tahun dua puluh satu, aduh ribet! Intinya di hari Senin pagi 26 jam 40 menit 15 detik lalu. 

Tidak terasa setahun begitu cepat terlewati, kucing itu kembali menampakkan batang hidungnya. Kucing ajaib yang jadi teman berbagi rasa dan pikiran ku selepas-lepasnya.

"Wis suwi ra tau ketok, ning ndi ae?" Tanyanya sejenak saat aku duduk disampingnya.

"Seharuse aku sing takon cing, it's been a long day, how's life?" Tanyaku balik, dengannya aku merasa tidak punya rasa malu, sungkan, atau gak nyaman memamerkan pencapaian lisan bahasa inggrisku yang masih pletotan.

"Well, everything is allright, yours?"

Aku lumayan kaget dengan jawabannya. Lha baru kali ini eh ada kucing yang bisa ngomong pake bahasa Inggris kecuali Garfield dan Tom.

"Kayak sponsor cing, Life is never flat. Ngomong-ngomong kenopo kuwi mesti teko pas bulan Februari tok, liyane ning ndi?"

"Aku datang dan pergi sesuai yang kamu harapkan mbak.... Miruoy noitani gami." *

"Haaa? kuwi ki ngomong opo tho, aku ga iso bahasa Jepang, bahasa Inggris ae sik belajar"

Dia tidak menjawab.. Aku mikir-mikir mencerna apa arti dan maksud kalimat terakhir.

Beberapa menit otak bekerja, tiba-tiba.. kling! Lampu 5 WAT menyala diatas kepala.

"Serius cing? jadi selama iki...." Aku termangu sampai tidak bisa meneruskan kalimat yang seharusnya aku tanyakan.

"Yaaa, I never exist in this world, mbak."

"So, are you ALIVE or not?" Tanyaku lagi. (Beri penekanan di kata berhuruf balok)

Dia hanya mengangkat bahu, lalu sekejap mata menghilang.

Lima detik kemudian dia muncul kembali...

"Biar penasaran.." Sembari nyengir, lalu sedetik kemudian menghilang.

Aku terbengong-bengong sendiri.

14.2.20

Tongkol untuk kucing ajaib

Dua hari lalu, aku kembali lagi ke loteng rumah. Aku perlu waktu sendiri untuk berpikir dan merenung, atau sekadar duduk-duduk melamun. Ngobrol sama angin, tembok, langit dan akhir-akhir ini sama kucing.
klutaakk..

Refleks aku menolah ke arah suara itu berasal, 'Ealah kucing iku neh, tiwas tak kiro malaikat zabaniyah, jantungku kadung deg-degan tak pikir jatuh cinta', batinku. 'huft!'. aku menatap langit kembali. Dia--kucing itu-- seperti yang lalu, rebahan disebelahku.

"Tekan ndi ae kuwi?", tanyaku saat dia sudah mapan tiduran.

"Tolek pindang, nemu balunge tok. Asu tenan wong-wong iki!"

"Oalah", jawabku singkat tanpa melihat kearahnya.

"Jancik oalah tok, mbok yo sampeyan ki shodakohno iwake sampeyan ning aku sitik ae. Cerit nemen menungso iki!"

"Gelem tahu a?", tanyaku.

"Gak!! SUWON!!", dari nada suaranya nampak dia kesal sekali. "Yawis", balasku cuek, aku menahan tawa melihat dia jengkel sendiri.

Kita terdiam lagi. Dia tidur, aku memangku tangan diatas lutut, kurebahkan kepalaku, melihat kegiatan orang-orang dari atas sini. Saat itu, dari HP acak memutar lagu, Jamrud - Pelangi Dimatamu. 

Mungkin butuh kursus
Merangkai kata untuk bicara
Dan aku benci harus jujur padamu,
Tentang semua ini
........
Aku sayang padamu
Aku sayang padamu

Begitulah liriknya. Tiba-tiba aku ingat seseorang.

"Cing pernah gak kuwi naksir wong tapi ga wani ngomong?", tanyaku ke dia, memecah keheningan.

"Gak blas, nek naksir yo mestine diomongno, wong hak kabeh wong ngungkapno roso. toh iku yo guduk pilihane awakdewe naksir ning dee, pilihane awadewe yo ngungkapno o gak.".

Aku mengangguk-angguk, mengiyakan jawaban sok bijaknya tapi benar itu.

"Terus piye, cing? aku isin, gak nyongko sisan iso sampe seseneng iki ning wong"

"Lanang ta wedok?", tanyanya.

"Lanang lah cuk! jaluk di congor mbun-mbunane", aku menatapnya, dia menatapku balik dengan wajah serius..

"Omongno ae lah, sesuk iki loh pas valentinan. Tukokno saridele ning bulek Ju, mbek kembang kamboja jupuk ndek kuburan cidek samsat konoh."

Aku tertawa ngakak, Jancuk! mana ada orang ngasih kado valentine berupa sebungkus es saridele dan sekotak bunga kamboja? Tapi, boleh juga sih, perpaduan antara lucu, malu-maluin, antimainstream dan gak ada duwit.

"Tambahno surat tanah lak dee gelem", tambahnya. Semakin buatku ngakak tepingkal-pingkal. PARAH! kucing bisa ndagel.

"Nggak ah cing, sik gak wani"

"Ealah yawis, simpeno ae iku perasaan sampeyan sampe blenek", katanya.

"Iyo", jawabku singkat dan jelas. 'Nanti lama-lama juga aku lupa', tambahku dalam hati. Jawaban yang sama seperti jawabanku lima tahun lalu.

Lalu aku teringat sesuatu, aku turun kebawah, buka rak, kuambil separuh tongkol di mangkok lauk punya Ibuku. Lalu aku taruh didepannya. dia bangun dari tidurnya mendengus ikan tongkol tepat didepan hidungnya, terkejut, wajahnya sumringah.

"Gawe aku a, mbot? eh, sowry gak sopan, gawe aku ta, mbak? Gratis gak iki?", tanyanya dengan wajah berseri-seri bahagia.

"Yo'i, Gratis. Iku dalam rangka hari kasih sayang."

"Hari kasih sayang kan gak onok harine, sak mbendino, berarti sampeyan kudu ngeki aku iwak sak mbendino. Yo oraaaa?!" Katanya, dengan wajah yang semakin sumringah.

"Yoi", Jawabku singkat. "Wah, Suwon, mbak sampeyan pancen the best trulala", Tanpa basa-basi, dia langsung melahap tongkol yang kucuri dari rak rumahku sendiri. "Lho, gak moco bismillah sek", protesku.

"Aku atheis."....

4.2.20

Kucing Ajaib

Hari pertama di bulan Februari, kebetulan jatuh pada hari Sabtu, itu berarti di awal bulan kedua ini  setelah gajian aku pulang tiga jam lebih awal dari hari kerja biasanya. Hore! HAHAHA. Kalau sudah kehabisan kegiatan setelah kerja, pikiran secara otomatis buat to do list sederhana.

Seperti biasa kalau tidak ada kegiatan lain, tempat yang jadi tujuan pertama adalah loteng rumah. Tepat di tempat biasa aku duduk, ada kucing rebahan sambil ngopi dan sebat. Aku bercanda! Maklum, imajinasi memang gak masuk akal.

'Mana ada kucing ngopi apalagi rokokan?', batinku.

Tiba-tiba tepat dari sebelahku muncul suara kecil serak-serak basah membalas gejolak batinku..
"Lah piye arep ngopi mbek rokokan tho Mbak, mangan ae susah kudu tolek-tolek ning sampah sik. mending yo nyolong pindang luwih garai weteng wareg."

"JUANGKREK!!!", sialnya serangga itu yang tanpa disadari selalu keluar dari mulutku saat aku terkejut, bukan kalimat istigfar. Refleks aku langsung mundur beberapa langkah dari kucing itu.

"Plis mbak aku kucing, guduk jangkrek. Piye tho ra iso mbedakno mamalia mbek serangga, ngetarani gak tau nyimak pas pelajaran IPA.", kucing itu melihatku dengan sinis seakan-akan tidak terima dengan umpatanku.

Aku diam ditempat masih terkejut dan pastinya tidak percaya. Nalarku menggebu-gebu berusaha mencerna kejadian aneh ini. Aku melihat kucing itu lekat-lekat..

"Aku kucing ajaib, mbak. Aku bisa ngomong dan pendengar yang baik juga. Aku sering dengar sampeyan ngomong-ngomong sendiri disini. Aku jug...."

"Lho berarti kuwi ki sering nguping!"

"Astagfigrulloh, nggak mbak. Aku cuma gak sengaja dengar ocehannya sampeyan, wong sampeyan ngomongnya mesti berak-berok ya aku dengar lah. Su'udzhon ini!", dia tampak kesal.

Lucu, baru kali ini aku lihat kucing dengan raut wajah kesal.
"Hehe, maaf, cing", Tidak tau kenapa aku sudah tidak takut dengan kucing ajaib ini, aku mulai memaklumi. Pikirku, toh hadirnya dunia ini juga sama tidak masuk akalnya dengna kucing yang bicara itu. Akhirnya, aku mulai berani kembali duduk ke tempat dudukku semula. Aku terdiam sebentar..

Kemudian dia bertanya..
"Apa aku ini sudah gila ya mbak ngomong sama manusia?"

Aku menoleh kearahnya.. heran.
"Lho, kudune aku sing takon ngunu cing, guduk awamu.. Aneh iki!
Tapi, menurutku wi gak gendeng sih soale gak kabeh hal iso masuk ndek akal, cing. gak kabeh hal kudu mok eroi toh gak mungkin yoan awamu ero sak kabehne, gak kabeh hal kudu dipikirno yoan. Tapi ancen iki gak masuk akal yo, cing?"

Dia manggung-manggut setuju, terlihat seperti mikir dan berkata dengan yakin, "Nah, itu maksudku! Mung nek kabeh ning dunyo iki diukur mek atek nalar tok. Gampangane, film-film kartun favorit'e sampeyan ora bakal ono, mbak."

Sekarang gantian aku yang manggut-manggut setuju. Baru kali ini aku bertemu dengan hewan yang bisa berpikir selain manusia. Kami pun kembali tenggelam dengan dunianya masing-masing. Merenung, berpikir, atau hanya sekedar mengenang masa silam ditemani angin sepoi-sepoi dan langit sore menjelang malam.