2.2.21

Dibalik Kucing Ajaib

Suatu hari yang cerah di bulan ke dua abad ke dua puluh tahun dua puluh satu, aduh ribet! Intinya di hari Senin pagi 26 jam 40 menit 15 detik lalu. 

Tidak terasa setahun begitu cepat terlewati, kucing itu kembali menampakkan batang hidungnya. Kucing ajaib yang jadi teman berbagi rasa dan pikiran ku selepas-lepasnya.

"Wis suwi ra tau ketok, ning ndi ae?" Tanyanya sejenak saat aku duduk disampingnya.

"Seharuse aku sing takon cing, it's been a long day, how's life?" Tanyaku balik, dengannya aku merasa tidak punya rasa malu, sungkan, atau gak nyaman memamerkan pencapaian lisan bahasa inggrisku yang masih pletotan.

"Well, everything is allright, yours?"

Aku lumayan kaget dengan jawabannya. Lha baru kali ini eh ada kucing yang bisa ngomong pake bahasa Inggris kecuali Garfield dan Tom.

"Kayak sponsor cing, Life is never flat. Ngomong-ngomong kenopo kuwi mesti teko pas bulan Februari tok, liyane ning ndi?"

"Aku datang dan pergi sesuai yang kamu harapkan mbak.... Miruoy noitani gami." *

"Haaa? kuwi ki ngomong opo tho, aku ga iso bahasa Jepang, bahasa Inggris ae sik belajar"

Dia tidak menjawab.. Aku mikir-mikir mencerna apa arti dan maksud kalimat terakhir.

Beberapa menit otak bekerja, tiba-tiba.. kling! Lampu 5 WAT menyala diatas kepala.

"Serius cing? jadi selama iki...." Aku termangu sampai tidak bisa meneruskan kalimat yang seharusnya aku tanyakan.

"Yaaa, I never exist in this world, mbak."

"So, are you ALIVE or not?" Tanyaku lagi. (Beri penekanan di kata berhuruf balok)

Dia hanya mengangkat bahu, lalu sekejap mata menghilang.

Lima detik kemudian dia muncul kembali...

"Biar penasaran.." Sembari nyengir, lalu sedetik kemudian menghilang.

Aku terbengong-bengong sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar