3.9.23

Si Pembual

Aku si baik hati yang tidak tega melihat orang lain kesusahan. 

Hanya rangkaian kata yang tak menyesap dalam laku kesehariannya.

Tulisan-tulisan mengenai Tuhan, kebaikan, kebajikan, bahkan soal ibadah, hanya hidup dalam tempurung kepalanya. Namun kosong dalam sikap-hidupnya.

Jadi..
Jangan pernah percaya apa yang pembual ini tulis. Apalagi sampai menganggap si pembual ini manusia suci, baik, sholeh hanya dari kata yang ia rangkai. Hapus itu dalam benakmu! Bahkan, saat ini saja dia sedang membual.

15.2.23

Gak Ada Ide ft Kuca

 Let's call him as Kuca, biar lebih gampang, singkatan dari kucing ajaib. Baru sadar kalau selama ini kucing yang kadang memacu kejengkelan itu belum punya nama.

Kali ini, tiba-tiba, dia muncul saat aku sedang rebahan sembari melanjutkan gambaran digitalku. Mungkin, dia muncul karena memang sudah waktunya, bulan Februari.

Sembari sesegukan, yang hampir mirip seperti suara kucing muntah setelah makan rumput, dia bilang, "Ka-kamu ngelupain aku!", sroootttt, rupanya dia ingusan.

Dengan reaksi yang biasa aja, cukup terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Aku jawab santai, masih dengan posisi yang sama, coloring gambaranku : Aliens.

"Gak ada ide."

"Did you lost your feelings? your inspirations, him?", dia tanya ke aku, yang setelah kusadari dia sudah merubah mimik wajahnya menjadi serius dan seolah-olah yang barusan dia lakukan itu cuma nangis akting. Aku cukup mengumpat sedikit lewat batin, 'Anjing nih kucing.'

"Gak, biasa aja..

Dan mungkin aku sedang di tahap flat, karena gak ada lagi pikiran yang bikin aku terjebak dalam perasaan menyakitkan itu, jadi aku lagi gak perlu media untuk "kabur", bercerita atau meluapkan rasa."

Lagi-lagi, dia melakukan anggukan sok iye itu.

"Ok, jadi lagi gak ada ide buat nulis ya? gpp."

.........  ............  ............. krik krik..

"Loh, tapi kok ada ide buat gambar?! hah? MAKSUDNYA AAAPAAAH?!" nadanya berubah sedikit kesal dan jealous.

Gemesin.

Yang kubalas dengan gestur cuek ala gak peduli elu, cuma dengan bahu dan mimik wajah, sembari tetap melanjutkan gambaranku.