15.1.26

hanya—diantara aku

ah, tau!
aku—puing tak bersuara—
di rongga riangmu.

Ada?

adakah yang lebih gigih dari jiwaku, meski sepi?
oh, ya, — pergilah!

Tidak usah dimengerti, ini ocehan absurd (2022)

Terlalu banyak rintangan, namun secara tidak sadar terkadang ku nikmati bahkan sering aku rindui. Tapi sekarang aku sudah kehabisan tenaga. Aku ingin berhenti seingin aku berharap untuk tidak kembali. Sejak awal datang, tidak pernah muncul sepatah tanya siapa atau sekadar jawaban karena. Kalau dipikir memang tidak masuk akal, kekeuh bertahan entah sampai kapan akan tinggal. Kalaupun pergi, cuma sebentar, lalu kembali lagi seolah ini rumah tempatku pulang.