30.6.25

Love Me Not

inspired by Ravyn Lenae & the forget-me-not flower

In the hush between midnight and morning light,
I whispered your name to the edge of might.
You spoke with eyes once warm, now cold,
a story half-written, a hand left untold.

I am the bloom they always forget—
a forget-me-not with quiet regret.
Small and fragile, yet I remain,
growing in shadows, loving through pain.

We were once a verse, bold and bright,
now just echoes fading into night.
You ask me still, “Do you love me or love me not?”
But your heart was the first thing I forgot.

It’s not that I can’t fall or feel,
I’ve just grown tired of love that won’t heal.
Like Ravyn’s melody, soft and bittersweet,
you danced in the dark, but skipped the beat.

Maybe I was never the flower you’d choose,
just a season’s sigh, a beautiful bruise.
But if you ever turn and look behind,
there I’ll be—blue, gentle,
etched in your mind.


23.6.25

hatiku tak pernah tumbuh ke arahnya

Hatiku… seolah tanah yang tak subur untuk benih perasaannya. Bukan karena ia kurang, melainkan karena aku memang tak memiliki ruang yang bisa ditempati oleh bayangnya. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum sopan, bukan getar rindu. Dan aku pun menyesal, sebab siapa yang ingin mengecewakan hati sebaik ia?

Aku bertahan, bukan karena cinta, tapi karena ia meredakan sepi yang lama bersarang di hidupku. Hadirnya sungguh hangat, tenang, dan aku ingin percaya bahwa itu cukup. Tapi ternyata tidak. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum yang hampa—bukan getar yang datang dari hati.

Aku telah mencoba meraba-raba, barangkali perasaan itu akan datang pelan-pelan, tumbuh seperti bunga liar yang tak disangka-sangka. Tapi waktu menjawab jujur: hatiku tak pernah tumbuh ke arahnya. Ia kosong. Datar. Tidak mencintai siapa-siapa. Seperti ladang luas yang kehilangan musim—yang mungkin lebih kelabu, tapi entah kenapa, justru di sanalah ia hidup.