Kucing itu datang lagi, kali ini dia langsung menyodorkan pertanyaan yang cukup personal.
"Mbak kenapa sampeyan buka kerudung, apa itu berarti anda mengalami degradasi iman?"
Aku yang mendengar itu otomatis lolak-lolok, "Degradasi iman? bahasamu ndakik banget, maksudnya ini gimana?"
Kucing kampret sok iye itu menghabisi jarak, dia duduk disebelahku seperti biasa, lalu menjelaskan, "Jadi gini, intinya yang membuat anda memutuskan untuk menanggalkan kerudung yang sudah anda pertahankan 4-5 tahun kebelakang itu apa? Apakah itu berarti menurunnya keimanan anda? Atau lebih ektrim lagi, apa hijrah agama atau malah seperti saya, atheis? HAHA"
Tanpa sadar aku juga meniru gayanya yang sok iye, menyilangkan tangan ke dada lalu sok-sokan menganggukkan kepala, jari telunjuk kananku menyentuh ujung dahi kanan sebagai tanda bahwa aku sedang berpikir. (Note: epok-epok mikir ben koyok wong yes)
"Ok, nice question, cing!", aku acungi dua jari jempol.
Aku mikir sebentar.. sepuluh menit berlalu.. duapuluh menit.. dua jam.. tiga jam.. lima jam... lalu akhirnya..
"Jadi gini cing..."
Dia sedikit terkejut bangun dari tidurnya yang belum terlelap, "ASTAGFIGRULLOH! Sik kaet sampeyan jawab?!"
"Lha sepurane cing. Wong otekku lemot, kamu tau sendiri kan cara berpikirku bagaimana? Jangan marah dong, mau tak jawab atau nggak nih, kalau nggak aku tak balik kamar aja!", jawabku ketus.
"YA ALLAH.." Dia menahan emosinya dengan teknik mengatur nafas. "Silahkan anda jawab, SE-KA-RANG!"
Hehehe aku tersenyum senang melihat dia sedikit geram. Lucu! Kali ini tanpa babibu langsung aku tekan tombol [Aku versi Serius..] di otakku.
"Ok, jadi gini cing.. Sebenarnya kalau masalah lepas kerudung itu sudah lama aku lakukan, kalau aku lagi tidur atau dirumah aja, apalagi pas lagi mandi ya gak pake kerudung..."
"MBAK..!!" Kucing kampret itu langusng mendelik ke aku!
Dan ternyata tadi aku salah pencet tombol [Aku versi Serius, tapi bo'ong, papalepapale..] diotakku. Maaf ya. Kali ini beneran tombol [Aku versi Serius] ori no kaleng-kaleng aku pencet. Lalu tiba-tiba, KLING! Aku versi serius menguasai otak, jiwa, dan tubuhku.
"Kamu ingat kan, setelah lulus SD aku sudah niat pakai kerudung secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari? Waktu itu juga aku masih ngaji di TPA kampung, jadi narasi mengenai perempuan berkerudung itu sudah lekat dalam ingatan. Pas daftar SMP pun aku memilih seragam untuk siswi berkerudung. Tapi lucunya, waktu itu kalau lagi gerah, kerudungnya tak lepas. Bodo amat haha. Kamu tau sendiri kan cing, dalam hal berpakaian aku lebih memprioritaskan nyaman dan gak ribet?"
"Iya sih mbak, sampeyan memang paling cuek dan anti ribet kalau soal berpakaian."
"Bener, kalau bisa sih ke manapun pakai baju seadanya. Kaos, celana, sendalan.. budal! Tapi gak bisa, aku tetap harus ngikutin norma-norma maupun tradisi yang berlaku karena aku manusia. Kalau kucing kan gak ribet masalah penampilan."
Dia mengangguk-angguk lagi, "Iya juga sih, hamdalah jadi kucing. Ok lanjut tentang kerudung mbak."
"Sebelum aku memutuskan untuk istiqomah memakai kerudung, sekitar tahun 2015an, aku mencari tau apapun tentang kewajiban seorang muslimah untuk memakai kerudung/hijab/jilbab. Tapi kayaknya definisi mereka bertiga ini beda deh, cing. Tapi yawis ben, biar lebih gampang kita sebut aja kerudung ya, cing..", Dia ngangguk doang.
"Aku gak mau keputusanku ini hanya dipengaruhi oleh trend hijrah atau sekadar ikut-ikutan aja, makanya sebelum pakai kerudung aku cari tau dulu karena aku maunya keputusanku ini diambil dari kesadaran berpikirku sendiri. Dan itu juga karena biar aku bisa istiqomah, aku butuh pondasi yang kuat. Aku butuh niat atau nawaitu yang jejeg, cing."
Aku turun sebentar ngambil minum, snack ciki, dan pindang lalu kembali lagi ke loteng. Duduk, memberikan pindang ke kucing itu, minum beberapa teguk, lalu bercerita kembali..
"..Jadi saat itu, aku sebatas mencari melalui baca-baca di internet sampai pinjam buku entah dari siapa, aku lupa. Disisi lain karena aku gak tau harus tanya dan berdiskusi mengenai ini ke siapa. Jadi aku cari-cari sendiri. Intinya buku itu membahas wajibnya seorang perempuan menutup aurat dengan memakai kerudung tapi disitu ya isinya sekadar perintah-perintah gitu, cing. Long story short, karena pencarianku itu mulailah aku berkerudung. Awalnya sih biasa aja, tapi seiring berjalannya waktu persepsiku tentang kerudung berubah."
Nampak dia sedang menjilati kakinya. Rupanya pindang yang tadi kuberikan tinggal tulang saja. Lalu kembali dia mengangguk-angguk, sok iye.
"Oh I see. Setauku ya mbak, konteks kerudung dijaman nabi itu sebagai identitas dan pembeda antara budak dan perempuan terhormat agar tidak diganggu oleh laki-laki hidung belang. Lantas apakah karena itu anda berpikir bahwa kerudung sudah tidak relate di jaman sekarang karena perempuan pakai kerudung atau nggak tetap digoda dan lagipula sekarang perbudakan sudah gak ada, sudah ada HAM. Gitu ta?"
Tanpa ragu-ragu dan dibumbui kegoblokan aku langsung menjawab.
"Iya cing. Itu juga yang mempengaruhi aku. Dan entah kenapa semakin dewasa semakin merasa I lost my old self. Aku kehilangan diriku muda dulu. Aku kangen rambut panjangku tanpa poni yang dikuncir sedikit berantakan, rambut pendekku yang tetep aja aku kuncir dan terlihat lebih berantakan tapi aku suka style begini, pakai kalung taring atau gelang warna-warni kayak dulu, aduh! hahaha dll. Meskipun sebenarnya jaman sekarang fashion berjilbab sudah bermacam-macam dan sama sekali tidak membatasi gerak dan kebebasan bereskpresi, tapi aku merasa lebih nyaman dan lebih jadi diri sendiri saat tidak pakai kerudung. Simple dan tetep aku. Hehe konyol dan goblok ya?"
"OK... emm.." Lalu dia mengangguk-angguk lagi, tapi kali ini gak sok iye.
"Mungkin bisa dibilang ini suatu degradasi iman, cing. Aku kadang masih mikir keputusanku ini bener atau nggak dan masih bertanya-tanya aku mengambil keputusan ini sebenarnya berdasarkan apa. Dan sekarang kalau diamati kerudung itu pragmatis aja, gak ada relasi antara kualitas spiritual seseorang dengan kerudung/jilbab/hijab nya."
"Ok, kalau misal anda mengartikan kualitas spiritual adalah akhlak dan cinta ke Allah, itu terlalu abstrak dan personal mbak. Orang sholat pun belum tentu akhlaknya baik dan bermoral, meskipun hakikatnya sholat itu adalah untuk mencegah keburukan dan mengajak ke kebaikan, yang nantinya membuat kita menjadi orang shaleh secara sosial, menjadi manusia yang berakhlakul kharimah, dan bermanfaat untuk semua makhluk Tuhan; manusia, tumbuhan, hewan, dsb. Kalau sholatnya gak bener yaa sholat cuma jadi sebatas ritual saja. Orang sholat pun ya belum berarti juga dia melakukan itu karena cinta ke Tuhan, hanya kebiasaan semata juga bisa. Tapi, didalam Al-quran menutup aurat bagi perempuan adalah suatu kewajiban mbak. Meskipun memang sih ada perbedaan pendapat batas aurat diantara para ulama.... dan mungkin kita juga perlu mengelaborasi lagi mengenai menutup aurat dengan hijab/jilbab maupun kerudung."
Aku yang mendengar ini hanya mengangguk-angguk tapi gak sok iye.
"Iya cing. Gimana ya.. aku lebih nyaman begini. Perbedaan pendapat itu juga sih yang mempengaruhi aku memandang hijab/kerudung/jilbab, dan banyak hal. Dan alhamdulillah sekarang aku mulai paham kalau Islam itu agama yang begitu kompleks, gak sekaku atau sehitam putih yang selama ini aku tau dan pikirkan, dan alhamdulillah lagi aku lebih bisa merasakan bahwa Rahmat Allah itu luasssss sekali, gak terbayangkan olehku, bahkan oleh siapapun."
Tiba-tiba dia diam sejenak, "Hmmm.... menarik juga ya mbak, kita harus belajar lebih banyak lagi deh tentang Islam dan banyak hal lainnya."
"Memang cing. Rasanya mempelajari Islam itu gak akan ada selesainya kayak mempelajari hidup dan alam semesta."
"Ya, karena Islam adalah hidup dan alam semesta itu sendiri.", gumamnya.
"Apa cing? Barusan kamu ngomong apa?" Tanyaku tidak dengar apa yang barusan dia bicarakan.
"Aku setuju kata sampeyan waktu lalu mbak, 'Selama kita hidup kita gak akan pernah berhenti belajar.'...... btw, cikinya gak dimakan nih? Minta boleh?"
"Oh ya lupa, ok."
"Thanks mbak"
Percakapan ini pun ditutup dengan makan ciki bareng-bareng.