Hatiku… seolah tanah yang tak subur untuk benih perasaannya. Bukan karena ia kurang, melainkan karena aku memang tak memiliki ruang yang bisa ditempati oleh bayangnya. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum sopan, bukan getar rindu. Dan aku pun menyesal, sebab siapa yang ingin mengecewakan hati sebaik ia?
Aku bertahan, bukan karena cinta, tapi karena ia meredakan sepi yang lama bersarang di hidupku. Hadirnya sungguh hangat, tenang, dan aku ingin percaya bahwa itu cukup. Tapi ternyata tidak. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum yang hampa—bukan getar yang datang dari hati.
Aku telah mencoba meraba-raba, barangkali perasaan itu akan datang pelan-pelan, tumbuh seperti bunga liar yang tak disangka-sangka. Tapi waktu menjawab jujur: hatiku tak pernah tumbuh ke arahnya. Ia kosong. Datar. Tidak mencintai siapa-siapa. Seperti ladang luas yang kehilangan musim—yang mungkin lebih kelabu, tapi entah kenapa, justru di sanalah ia hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar