4.2.20

Kucing Ajaib

Hari pertama di bulan Februari, kebetulan jatuh pada hari Sabtu, itu berarti di awal bulan kedua ini  setelah gajian aku pulang tiga jam lebih awal dari hari kerja biasanya. Hore! HAHAHA. Kalau sudah kehabisan kegiatan setelah kerja, pikiran secara otomatis buat to do list sederhana.

Seperti biasa kalau tidak ada kegiatan lain, tempat yang jadi tujuan pertama adalah loteng rumah. Tepat di tempat biasa aku duduk, ada kucing rebahan sambil ngopi dan sebat. Aku bercanda! Maklum, imajinasi memang gak masuk akal.

'Mana ada kucing ngopi apalagi rokokan?', batinku.

Tiba-tiba tepat dari sebelahku muncul suara kecil serak-serak basah membalas gejolak batinku..
"Lah piye arep ngopi mbek rokokan tho Mbak, mangan ae susah kudu tolek-tolek ning sampah sik. mending yo nyolong pindang luwih garai weteng wareg."

"JUANGKREK!!!", sialnya serangga itu yang tanpa disadari selalu keluar dari mulutku saat aku terkejut, bukan kalimat istigfar. Refleks aku langsung mundur beberapa langkah dari kucing itu.

"Plis mbak aku kucing, guduk jangkrek. Piye tho ra iso mbedakno mamalia mbek serangga, ngetarani gak tau nyimak pas pelajaran IPA.", kucing itu melihatku dengan sinis seakan-akan tidak terima dengan umpatanku.

Aku diam ditempat masih terkejut dan pastinya tidak percaya. Nalarku menggebu-gebu berusaha mencerna kejadian aneh ini. Aku melihat kucing itu lekat-lekat..

"Aku kucing ajaib, mbak. Aku bisa ngomong dan pendengar yang baik juga. Aku sering dengar sampeyan ngomong-ngomong sendiri disini. Aku jug...."

"Lho berarti kuwi ki sering nguping!"

"Astagfigrulloh, nggak mbak. Aku cuma gak sengaja dengar ocehannya sampeyan, wong sampeyan ngomongnya mesti berak-berok ya aku dengar lah. Su'udzhon ini!", dia tampak kesal.

Lucu, baru kali ini aku lihat kucing dengan raut wajah kesal.
"Hehe, maaf, cing", Tidak tau kenapa aku sudah tidak takut dengan kucing ajaib ini, aku mulai memaklumi. Pikirku, toh hadirnya dunia ini juga sama tidak masuk akalnya dengna kucing yang bicara itu. Akhirnya, aku mulai berani kembali duduk ke tempat dudukku semula. Aku terdiam sebentar..

Kemudian dia bertanya..
"Apa aku ini sudah gila ya mbak ngomong sama manusia?"

Aku menoleh kearahnya.. heran.
"Lho, kudune aku sing takon ngunu cing, guduk awamu.. Aneh iki!
Tapi, menurutku wi gak gendeng sih soale gak kabeh hal iso masuk ndek akal, cing. gak kabeh hal kudu mok eroi toh gak mungkin yoan awamu ero sak kabehne, gak kabeh hal kudu dipikirno yoan. Tapi ancen iki gak masuk akal yo, cing?"

Dia manggung-manggut setuju, terlihat seperti mikir dan berkata dengan yakin, "Nah, itu maksudku! Mung nek kabeh ning dunyo iki diukur mek atek nalar tok. Gampangane, film-film kartun favorit'e sampeyan ora bakal ono, mbak."

Sekarang gantian aku yang manggut-manggut setuju. Baru kali ini aku bertemu dengan hewan yang bisa berpikir selain manusia. Kami pun kembali tenggelam dengan dunianya masing-masing. Merenung, berpikir, atau hanya sekedar mengenang masa silam ditemani angin sepoi-sepoi dan langit sore menjelang malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar