Aku bertemu seseorang yang tidak ku kenal tapi entah bagaimana, aku merasa cinta sekali padanya—seperti mengenalnya dengan wajah dan tubuh yang berbeda. Tapi hatiku tau, itu dia. Ia duduk di depanku, di antara pagar kaca yang membatasi kami, berjarak beberapa centi aku duduk tepat di belakangnya. kulihat punggungnya, dia memakai jas dan celana warna hitam. aku menyandarkan dahiku pada kaca itu, tampak lesu menunggu, memandangi pemandangan hijau di sekeliling, indah sekali, seperti saat kami sedang berjalan-jalan di alam terbuka.
Dalam mimpi itu, aku sedang mengambil suatu kelas mata kuliah. Tak kusangka, dia juga mengambil kelas yang sama. Kami sama-sama sekolah, hanya saja berbeda tingkat.
Saat itu dia tidak sendiri—ada temannya yang berdiri di sebelahnya, mengobrol santai. Sementara aku, duduk diam seperti sedang menunggu seseorang yang akan menjemputku. Hingga tiba-tiba, ketika temannya pergi, dia berpindah duduk ke tempat temannya tadi berdiri. jadi seolah kita duduk berdampingan tapi masih berjarak. Aku masih di posisi yang sama, menyandarkan dahiku pada pagar kaca itu.
Lalu, tiba-tiba, dia membuka sedikit pagar tempat dahiku bersandar. aku refleks menjauhkan kepalaku dari situ, dan menoleh padanya. Tatapannya jatuh ke arahku, dan ia mulai mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang cukup rumit. Dia berbicara mengenai kehidupan, tapi dengan sebuah istilah-istilah yang aku tidak paham maksudnya. Aku mencondongkan kepalaku, berusaha menyimak, mengernyitkan dahi, bingung. Sayangnya, aku lupa detailnya seperti apa. Saat pertanyaan itu terucap, tiba-tiba tiga atau empat perempuan mendekatinya, ikut menyimak apa yang dia bicarakan.
Aku bilang padanya dengan jujur, bahwa pertanyaannya cukup rumit dan aku tidak paham. Ketika dia mencoba untuk menjelaskan lagi padaku, ada salah satu perempuan yang berdiri di sampingnya—yang tadi ikut menyimak—menyela dan menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku dengan bahasa yang sama rumitnya, dengan sesekali memberikan senyum dan sedikit menggodanya. Karena kupikir dia sudah memiliki teman untuk berbicara, aku menutup kembali pagar kaca itu dan kembali pada kesibukanku: merenung, menunggu, menatap pemandangan yang tenang, membiarkan mereka bercengkrama.
Aku masih ingat jelas, saat perempuan itu menjawab pertanyaannya dengan sedikit kalimat menggoda, dia hanya tersenyum lalu membuat gesture tangan seperti berkata maaf dan idak tertarik pada jawabannya, kemudian menanggapi jawaban perempuan lain sebentar. Entah kenapa, waktu itu aku merasa sedih. Kupikir dia tidak mau mengajakku bicara lagi—jawaban dari perempuan-perempuan itu kupikir akan menarik perhatiannya dan dia akan segera melupakan jawabanku.
Namun tidak kusangka, dia malah masuk dan duduk dibelakang samping kananku, bertumpu pada lutut dan ujung jari kakinya, tubuhnya sedikit condong ke depan—bukan benar-benar jongkok, tapi juga bukan duduk. Seolah ia tengah berhenti di antara dua gerak: menunggu atau hendak bangkit—, dia meninggalkan mereka, kita lebih dekat, tanpa jeda, dan batas kaca itu tak pernah ada. aku dengan sedikit mencondongkan badanku kearahnya memberikan telingaku, menopang tubuhku dengan lengan yang kuletakkan dipahanya dengan sedikit bersandar pada lengannya, bersiap mendengar dan mencerna pertanyaan yang akan keluar dari bibirnya. Dia menatap mataku sejenak, lalu kembali bertanya, pertanyaan yang masih rumit, tapi dia coba untuk menyederhanakannya agar aku paham :
“Kalau misal suatu saat nanti kamu memasuki ruang-ruang yang berbeda...”
Sialnya—sebelum sempat kujawab dan kudengar seluruh pertanyaannya, alarmku berbunyi. Aku terbangun, membawa tanya yang belum sempat kutemukan ujungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar