★★★★★
Laut berdoaTujuh samudra, seluruhnya, angkat bicara
Ya Tuhan Raja Diraja, perkenankan kami meluapkan
air kami untuk menenggelamkan seluruh permukaan
bumi
Kami akan bungkus planet yang makin berbau
busuk ini dengan banjir total
Kami akan lumatkan kota-kota dan seluruh tempat
tinggal manusia, kami akan bikin mereka megap-megap,
memekik-mekik, kehabisan tenaga untuk berenang dan
gagal untuk coba-coba menyelamatkan diri
Ya Tuhan Raja Diraja, kami akan bikin kehidupan
mereka luluh lantak!
Para malaikat kaget bukan buatan mendengarnya
Kenapa, kenapa? mereka bertanya
Dan laut menjawab
Bukankah memang itu yang manusia kehendaki
Kalian para malaikat telah mengetahui bahkan sejak
sebelum manusia pertama diciptakan
Tapi kalian terlalu sabar, dan mungkin agak bodoh
Dari Tuhan kalian memperoleh jatah kesabaran yang
berlebihan
Itu tak wajar
Para malaikat mengepakkan sayapnya tinggi-tinggi: Wahai
samudra yang dipilih Allah untuk mengajarkan ilmu
semangat, kalian ini omong apa?
Manusia memande keris untuk mereka tikamkan
ke jantung mereka sendiri perlahan-lahan
Untuk apa?
Apakah kematian sedemikian memerlukan estetika,
memerlukan beribu seminar untuk merundingkan
bagaimana cara yang menarik untuk mati, memerlukan
sekian banyak biaya, ilmu dan teknologi serta berbagai
kerepotan sosial?
Ya Tuhan Raja Diraja, begitu total cara manusia
mementaskan ketololan
Perkenankan kami menenggelamkan kehidupan mereka
sekarang juga
Para malaikat menggeleng-gelengkan kepala, tapi belum
sempat mereka meneruskan pertanyaan, terdengar gunung-
gunung pun berdoa
Ya Tuhan Mahaadikuasa, izinkan kami meledak,
izinkan kami meletus, menumpahlan batu-batu
panas ke segala penjuru, bagai seribu naga berlidah
api yang mengangakan mulutnya, menyerbu pasar-
pasar, bangunan-bangunan pemerintahan, serta
menumbangkan rumah-rumah ibadah yang dipalsukan
Ya Tuhan Mahaadikuasa, izinkan telinga kami
memperoleh kelegaan dengan mendengar jutaan
manusia berjerit-jerit dengan wajah pucat pasi, berlari
ke sana-kemari dan bertabrakan satu sama lain
Izinkan mata kami menyaksikan naga-naga membelit
dan meremukkan tulang-belulang mereka, dan apabila
ada di antara manusia yang coba lari menghindar,
ekor naga-naga kami akan mencambuk: seribu orang
terlempar oleh satu kali cambukan
Kalian ini dihinggapi penyakit jiwa macam apa? Para
malaikat hampir membentakkan suaranya
Aku tak sabar lagi! Jawab gunung-gunung
Sedangkan seluruh hamparan alam ini bersujud kepada
Tuhan, tapi manusia saling menyakiti satu sama lain
Sedangkan planet dan bintang-bintang bertasbih, tapi
manusia sibuk merampok dan menindas
Sedangkan air bergemericik, melantunkan melodi-
melodi pemujaan, tapi manusia merampas waktu
untuk monopoli dan menghimpun batu-batu berhala
Sedangkan katak dan cengkerik paham ekosistem, tapi
manusia merusak tradisi hukum penciptaan
Sedangkan angin mengelus pepohonan, meniupkan
seruling cinta dan sembahyang, tapi manusia
menghabiskan biaya untuk makin gagal memahami
diri mereka sendiri, untuk terus salah sangka terhadap
kehidupan
Dan tiba-tiba terdengar suara pepohonan
Tingkah manusia membuat sembahyangku tidak
khusyuk
Aku ingin tumbang menimpa rumah-rumah mereka
Terdengar pula burung-burung mengumandangkan suara
Kamilah burung-burung, yang terbuat dari kata-kata
yang diucapkan oleh mulut manusia
Satu kata yang dilontarkan menjelma seekor burung
Berjuta-juta kata yang setiap hari memuncrat dari
mulut manusia menjelma jadi berjuta-juta burung yang
memenuhi angkasa
Kamilah burung-burung, kamilah berjuta-juta burung
yang kelaparan, yang dibiarkan kelaparan, karena tak
dihidupi oleh kejujuran perbuatan manusia
Kamilah berjuta-juta burung yang tak berbentuk, yang
kepala kami jadikan kaki, kaki kami dijadikan paruh,
paruh kami tanggal dan berjatuhan ke ladang-ladang
kering
Kamilah berjuta-juta burung yang disamarkan, dibolak-
balik, dikhianati dan kehilangan makna
Ya Tuhan Sang Pemenuh Janji, perbolehkan kami
sekarang menagih utang kepada manusia
Kami akan memenuhi angkasa, kami akan melingkari
bumi dengan tubuh dan sayap-sayap kami
Kami akan taburi langit dengan menjadikan diri kami
awan gelap yang mengirimkan cahaya kembali kepada
matahari
Kami akan bikin manusia tak disentuh lagi oleh cahaya
sehingga sempurnalah kegelapan yang mereka rancang
dan rekayasa sendiri
Kemudian kami akan kirim sebagian kami untuk turun
ke bumi, menerpa setiap manusia, mematuk kening
mereka, mencakar-cakar daging mereka, kemudian kami
paksa mereka mencucup darah mereka sendiri yang
mengucur
Kemudian beribu-ribu suara terdengar bersahutan
Seribu doa meluncur, melesat jauh ke tepian jagat
Matahari berdoa tentang kebutaan hati
Rembulan berdoa tentang keperawanan
Siang berdoa tentang kerakusan
Malam berdoa tentang kemaksiatan
Udara berdoa tentang pencemaran
Sungai berdoa tentang kotoran
Ruang berdoa tentang monopoli
Waktu berdoa tentang penjara
Logam berdoa tentang peluru
Api berdoa tentang mesiu
Doa-doa tak terkatakan
Doa-doa tak terumuskan
Doa-doa bertabur, berdesing, bergulung-gulung
Doa-doa menampar langit
Doa-doa hampir menjatuhkan bintang-bintang
Dan Jibril, Jibril, terbang dari 'Arsy
Menangkap semua itu
Menggenggamnya menjadi sunyi
Kemudia Tuhan berkata
meskipun tak setitik benda atau kehampaan pun
mengetahui dari mana dilontarkan
Kemudian Tuhan berkata
meskipun tak seserpih suara atau kesunyian pun
mengerti apakah itu suara atau bukan suara
Diamlah kalian
Karena Aku paham
Kalian tidak
Laut, gunung-gunung
Debu dan angin berdesir
Bintang beredar dan mengalirnya air
Kusabda untuk menjalin cinta
Namun tidak untuk memahaminya
Manusia adalah masterpiece ciptaanku
Kalian tak kuberi kemungkinan untuk menakar
betapa artinya itu bagiku
Manusia adalah haru-biru kekasihku,
yang kuungulkan dan kusayang sebagai kandungan
emas dalam butiran-butiran debu
Dengarkanlah, tentang hal itu pun kalian semua tak kuberi
ilmu
Kalian seribu samudra seribu laut akan menguap
mengering oleh panas api cintaku kepada
makhlukku yang bernama manusia
Kalian bijih besi baja segala logam akan meleleh
jika kuperdengarkan senandung cintaku kepada mereka
Sungai mengalirlah
Danau heninglah
Udara bertiuplah
Pepohonan bersujudlah
Gunung-gunung bersedekaplah
Bintang beredarlah dan langit tunduklah
Agar cintaku kepada kekasih unggulku tak menjelma
jadi amarah yang tak akan sanggup kalian tampung dan
mengerti
Kalian alam benda, alam nabati dan hayawani tak kuberi
hak untuk marah
Kalian semua yang menghuni wilayah kerendahan dari
langit-langitku, tak kuwarisi kewenangan untuk
mengubah atau membekukan, untuk mempercepat atau
memperlambat, untuk menghancurkan atau membangun
Kemerdekaan semacam itu hanya kupinjamkan sebagian
kepada manusia kekasih unggulku
Kalian alam langit bawah tak memerlukan kesabaran untuk
bersabar menampung polah-tingkah kekasihku
Karena kalian adalah persemayaman kesabaran itu sendiri
yang menunggu manusia menyusunnya dari puting
kalian
Kalian adalah jagat sujud itu sendiri di mana manusia
becermin untuk belajar tahu diri
Kalian adalah salah satu negeri ilmuku di mana manusia
meniti dan menyerap tanda-tandaku untuk menyuapi
kelaparan pengetahuan mereka
Kalian menyaksikan manusia kehilangan budi di puncak
akal budinya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia disakiti oleh kegagahan ilmu
kesehatannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia terbodoh-bodoh di ufuk
jauh pengetahuannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia menata batu bata
kehancuran di hari-hari gegap gempita pembangunannya
Tenanglah
Diamlah
Kalian tak akan tahu betapa aku menyayangi mereka
Dan apabila kalianlah yang dulu menciptakan manusia,
niscaya akan sedemikian besar pula cinta kalian
kepada mereka
Bahkan cinta kalian akan sedemikian buta, sehingga gerak
tangan kalian akan mempercepat kehancuran hidup
mereka
[Oleh : Emha Ainun Najib ; Buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya:1987]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar