9.5.20

Haru Biru Kekasihku (Oleh : Cak Nun)

★★★★★
Laut berdoa
Tujuh samudra, seluruhnya, angkat bicara
     Ya Tuhan Raja Diraja, perkenankan kami meluapkan
     air kami untuk menenggelamkan seluruh permukaan
     bumi
     Kami akan bungkus planet yang makin berbau
     busuk ini dengan banjir total
     Kami akan lumatkan kota-kota dan seluruh tempat
     tinggal manusia, kami akan bikin mereka megap-megap,
     memekik-mekik, kehabisan tenaga untuk berenang dan
     gagal untuk coba-coba menyelamatkan diri
     Ya Tuhan Raja Diraja, kami akan bikin kehidupan
     mereka luluh lantak!

Para malaikat kaget bukan buatan mendengarnya
Kenapa, kenapa? mereka bertanya
Dan laut menjawab
     Bukankah memang itu yang manusia kehendaki
     Kalian para malaikat telah mengetahui bahkan sejak
     sebelum manusia pertama diciptakan
     Tapi kalian terlalu sabar, dan mungkin agak bodoh
     Dari Tuhan kalian memperoleh jatah kesabaran yang 
     berlebihan
     Itu tak wajar

Para malaikat mengepakkan sayapnya tinggi-tinggi: Wahai
samudra yang dipilih Allah untuk mengajarkan ilmu
semangat, kalian ini omong apa?
     Manusia memande keris untuk mereka tikamkan 
     ke jantung mereka sendiri perlahan-lahan
     Untuk apa?
     Apakah kematian sedemikian memerlukan estetika,
     memerlukan beribu seminar untuk merundingkan
     bagaimana cara yang menarik untuk mati, memerlukan
     sekian banyak biaya, ilmu dan teknologi serta berbagai 
     kerepotan sosial?
     Ya Tuhan Raja Diraja, begitu total cara manusia
     mementaskan ketololan
     Perkenankan kami menenggelamkan kehidupan mereka
     sekarang juga

Para malaikat menggeleng-gelengkan kepala, tapi belum
sempat mereka meneruskan pertanyaan, terdengar gunung-
gunung pun berdoa
     Ya Tuhan Mahaadikuasa, izinkan kami meledak,
     izinkan kami meletus, menumpahlan batu-batu
     panas ke segala penjuru, bagai seribu naga berlidah
     api yang mengangakan mulutnya, menyerbu pasar-
     pasar, bangunan-bangunan pemerintahan, serta
     menumbangkan rumah-rumah ibadah yang dipalsukan
     Ya Tuhan Mahaadikuasa, izinkan telinga kami
     memperoleh kelegaan dengan mendengar jutaan
     manusia berjerit-jerit dengan wajah pucat pasi, berlari
     ke sana-kemari dan bertabrakan satu sama lain
     Izinkan mata kami menyaksikan naga-naga membelit
     dan meremukkan tulang-belulang mereka, dan apabila
     ada di antara manusia yang coba lari menghindar,
     ekor naga-naga kami akan mencambuk: seribu orang
     terlempar oleh satu kali cambukan

Kalian ini dihinggapi penyakit jiwa macam apa? Para
malaikat hampir membentakkan suaranya
     Aku tak sabar lagi! Jawab gunung-gunung
     Sedangkan seluruh hamparan alam ini bersujud kepada
     Tuhan, tapi manusia saling menyakiti satu sama lain
     Sedangkan planet dan bintang-bintang bertasbih, tapi
     manusia sibuk merampok dan menindas
     Sedangkan air bergemericik, melantunkan melodi-
     melodi pemujaan, tapi manusia merampas waktu
     untuk monopoli dan menghimpun batu-batu berhala
     Sedangkan katak dan cengkerik paham ekosistem, tapi
     manusia merusak tradisi hukum penciptaan
     Sedangkan angin mengelus pepohonan, meniupkan
     seruling cinta dan sembahyang, tapi manusia
     menghabiskan biaya untuk makin gagal memahami
     diri mereka sendiri, untuk terus salah sangka terhadap 
     kehidupan

Dan tiba-tiba terdengar suara pepohonan
     Tingkah manusia membuat sembahyangku tidak
     khusyuk
     Aku ingin tumbang menimpa rumah-rumah mereka
Terdengar pula burung-burung mengumandangkan suara
     Kamilah burung-burung, yang terbuat dari kata-kata
     yang diucapkan oleh mulut manusia
     Satu kata yang dilontarkan menjelma seekor burung
     Berjuta-juta kata yang setiap hari memuncrat dari
     mulut manusia menjelma jadi berjuta-juta burung yang
     memenuhi angkasa
     Kamilah burung-burung, kamilah berjuta-juta burung
     yang kelaparan, yang dibiarkan kelaparan, karena tak
     dihidupi oleh kejujuran perbuatan manusia
     Kamilah berjuta-juta burung yang tak berbentuk, yang
     kepala kami jadikan kaki, kaki kami dijadikan paruh,
     paruh kami tanggal dan berjatuhan ke ladang-ladang
     kering
     Kamilah berjuta-juta burung yang disamarkan, dibolak-
     balik, dikhianati dan kehilangan makna
     Ya Tuhan Sang Pemenuh Janji, perbolehkan kami
     sekarang menagih utang kepada manusia
     Kami akan memenuhi angkasa, kami akan melingkari
     bumi dengan tubuh dan sayap-sayap kami
     Kami akan taburi langit dengan menjadikan diri kami
     awan gelap yang mengirimkan cahaya kembali kepada
     matahari
     Kami akan bikin manusia tak disentuh lagi oleh cahaya
     sehingga sempurnalah kegelapan yang mereka rancang
     dan rekayasa sendiri
     Kemudian kami akan kirim sebagian kami untuk turun
     ke bumi, menerpa setiap manusia, mematuk kening
     mereka, mencakar-cakar daging mereka, kemudian kami
     paksa mereka mencucup darah mereka sendiri yang
     mengucur

Kemudian beribu-ribu suara terdengar bersahutan
Seribu doa meluncur, melesat jauh ke tepian jagat

Matahari berdoa tentang kebutaan hati
Rembulan berdoa tentang keperawanan
Siang berdoa tentang kerakusan
Malam berdoa tentang kemaksiatan
Udara berdoa tentang pencemaran
Sungai berdoa tentang kotoran
Ruang berdoa tentang monopoli
Waktu berdoa tentang penjara
Logam berdoa tentang peluru
Api berdoa tentang mesiu
Doa-doa tak terkatakan
Doa-doa tak terumuskan
Doa-doa bertabur, berdesing, bergulung-gulung
Doa-doa menampar langit
Doa-doa hampir menjatuhkan bintang-bintang
Dan Jibril, Jibril, terbang dari 'Arsy
Menangkap semua itu
Menggenggamnya menjadi sunyi

Kemudia Tuhan berkata
meskipun tak setitik benda atau kehampaan pun
mengetahui dari mana dilontarkan
Kemudian Tuhan berkata
meskipun tak seserpih suara atau kesunyian pun
mengerti apakah itu suara atau bukan suara
     Diamlah kalian
     Karena Aku paham
     Kalian tidak

     Laut, gunung-gunung
     Debu dan angin berdesir
     Bintang beredar dan mengalirnya air
     Kusabda untuk menjalin cinta
     Namun tidak untuk memahaminya
Manusia adalah masterpiece ciptaanku
Kalian tak kuberi kemungkinan untuk menakar
     betapa artinya itu bagiku
Manusia adalah haru-biru kekasihku,
     yang kuungulkan dan kusayang sebagai kandungan
     emas dalam butiran-butiran debu
Dengarkanlah, tentang hal itu pun kalian semua tak kuberi
     ilmu

Kalian seribu samudra seribu laut akan menguap
     mengering oleh panas api cintaku kepada
     makhlukku yang bernama manusia
Kalian bijih besi baja segala logam akan meleleh
     jika kuperdengarkan senandung cintaku kepada mereka
Sungai mengalirlah
Danau heninglah
Udara bertiuplah
Pepohonan bersujudlah
Gunung-gunung bersedekaplah
Bintang beredarlah dan langit tunduklah
Agar cintaku kepada kekasih unggulku tak menjelma
      jadi amarah yang tak akan sanggup kalian tampung dan 
     mengerti

Kalian alam benda, alam nabati dan hayawani tak kuberi
hak untuk marah
Kalian semua yang menghuni wilayah kerendahan dari 
     langit-langitku, tak kuwarisi kewenangan untuk
     mengubah atau membekukan, untuk mempercepat atau
     memperlambat, untuk menghancurkan atau membangun
Kemerdekaan semacam itu hanya kupinjamkan sebagian
     kepada manusia kekasih unggulku

Kalian alam langit bawah tak memerlukan kesabaran untuk
     bersabar menampung polah-tingkah kekasihku

Karena kalian adalah persemayaman kesabaran itu sendiri
     yang menunggu manusia menyusunnya dari puting 
     kalian
Kalian adalah jagat sujud itu sendiri di mana manusia
     becermin untuk belajar tahu diri
Kalian adalah salah satu negeri ilmuku di mana manusia
     meniti dan menyerap tanda-tandaku untuk menyuapi
     kelaparan pengetahuan mereka

Kalian menyaksikan manusia kehilangan budi di puncak
     akal budinya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia disakiti oleh kegagahan ilmu
     kesehatannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia terbodoh-bodoh di ufuk
     jauh pengetahuannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia menata batu bata
     kehancuran di hari-hari gegap gempita pembangunannya
Tenanglah
Diamlah

Kalian tak akan tahu betapa aku menyayangi mereka
Dan apabila kalianlah yang dulu menciptakan manusia,
     niscaya akan sedemikian besar pula cinta kalian
     kepada mereka
Bahkan cinta kalian akan sedemikian buta, sehingga gerak
     tangan kalian akan mempercepat kehancuran hidup
     mereka

[Oleh : Emha Ainun Najib ; Buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya:1987]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar