tadi siang baca di quora jawaban dari pertanyaan “apakah nasib seseorang itu bisa berubah?” dan aku sejutu dengan jawabannya. mencoba mengubah nasib dari miskin ke kaya tuh susahnya minta ampun, aku yang dari low class untuk bisa mengubah nasib dari miskin ke kaya kerjanya harus 10x lipat dari orang yang lahir dari kelas diatasku. aku kerja dari 2018an, sampai sekarang (total kerja 8 tahun) masih belum kaya kaya juga, apalagi cuma jadi karyawan kantoran yang gajinya imut dan dibagi-bagi buat keluarga. dijawabannya itu juga ada beberapa poin yang bikin aku bereaksi : ‘iya juga’. dari situ, aku jadi ingat ambisiku dulu waktu masih sekolah : (1) mengubah nasib keluarga. dulu tuh aku tidak pernah mikirin diri sendiri, di otakku cuma ada how to escape from poverty. ini problem yang aku hadapi dari kecil sampai sekarang.
bagi perempuan, menikah dengan cowok tajir tuh bisa jadi opsi paling cepet buat jadi kaya—ini salah satu poinnya di jawaban itu—. tapi di posisiku, aku sadar diri, mana mau cowok kaya sama perempuan medium ugly? minimal cantiknya tuh kayak Angelina Jolie—merendah untuk meroket irl kecantikanku 11 12 triliun lah sama Angelina Jolie—, pendidikan cuma menegah keatas, ortunya kismin, body gak bahenol—kosa kataku bahlil banget ya? maap :(—pokoknya secara fisik dan latar belakang tuh sulit dilirik sama cowok-cowok tajir melintir kayak Reino Barack. kalaupun ada ya gak tau sih lihat dari mananya, mungkin dari valueku as a human? tapi kan cewek cantik kaya raya berpendidikan keluarga cemara dan bahenol juga biasanya valuenya bagus. terus plusku apa biar dilirik? yasudah deh, daripada berharap menikah sama Reino Barack, aku memilih untuk fokus ke pendidikan—karena pendidikan bisa jadi salah satu jalan untuk mengubah nasib—lalu berencana untuk jadi mbak-mbak korporat 9-5 di big company yang gajinya 2 digit terus 10 tahun kemudian jadi CEO, kayak di film-film. jadilah aku mencoba kuliah malam dan paginya cari duit buat biayai kuliah. kaya pakai cara instan dengan cara nipu orang juga gak berani, mentalku mental kerupuk mlempem, gak sejalan juga sih sama prinsip dan hati nurani—who's nurani?—(it's a joke please laugh!).
sebagai orang yang lahir dalam keadaan miskin, tujuan kuliah ya untuk bisa mengubah nasib biar setelah lulus dapat pekerjaan yang minimal gajinya gak cuma buat memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi bisa buat nabung, beli rumah, beli iphone 10 biji—candaa—, bantu finansial keluarga, dsbnya. pinginnya sih dari low class pindah ke middle class lah ya minimal. tapiiii, kok kuliahnya tidak worth it?—kuliah di swasta, yang univnya “yang penting kuliah” karena murah—. pingin kuliah di tempat dan pengajarnya bagus tapi mahal, dompetku gak sanggup, mana ortu secara halus merengek minta bantuan finansial lagi—sandwich gen detected—. terus pas lulus juga belum tentu dapat kerjaan yang gajinya gede :( saaddd! lalu gimana caranya biar aku bisa merubah nasib dari miskin ke kaya raya? masa judol? gak mau ah, gblk bgt itu—boleh miskin tapi maap itu pilihan gak pake akal a.k.a GBLK BGT ANJ! astagfigrulloh.. GBLK! hehe maap.. GBLK! *ngomong gblknya pakai nada dr. tirta ya*—kalau ngepet? gak juga deh, babi mah jorok. ga suka, gelaiikkk. pelihara tuyul? iyuuhh.. no no ya.
seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa kerja keras doang tuh gak cukup buat ngubah nasib, apalagi yang startnya dari nol bahkan minus. butuh luck juga. kadang ya, memang ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah sekeras apapun usahanya kalau belum waktunya ya tidak bisa. jadi karena terlalu sering dihajar realita sampai babak belur, aku memilih untuk berdamai dan tidak terlalu keras pada diri sendiri. no big ambition for materials things anymore, as long as I can afford myself and my family—plus punya tanah 1000 hektar, rumah 20, saham bca 10000 lot dan jadi CEO di PT. Mencari Cinta Sejati—I’m enough. belajar untuk lebih bersyukur dengan hasil jerih payahku dan belajar lebih menghargai proses yang berhasil kulalui. I'm proud of myself. bisa ubah nasib lebih baik alhamdulillah, gak bisa ya gak apa-apa. for the younger me, it’s okay if you can’t help your family out from poverty, sometimes that's how life works. it’s not on you. usaha seporsinya, secukupnya, semampunya. ayo makan enaakk! amor fati!

