5.3.26

#personalspace

Apreciate To My Man

As a woman who’s about to turn 27, my mind keeps drifting toward thoughts about getting married, owning a house, and living with a life partner. There’s barely any space left in my head for career dreams anymore. I guess I’ve kind of surrendered to the way life keeps taking me to places I never really expected to end up in.

Even though I’m currently in a relationship that’s been going on for three years, the doubts and the fear of ending up alone — of not getting married — still creep in sometimes. It’s not because my partner doesn’t have intentions to take things seriously. It’s more like… life just unpredictable. Things don’t always turn out the way we imagine them to.

My brain keeps coming back to the same thought: ending up with someone doesn’t really depend on how long you’ve been together or how deep the relationship has been. I’ve seen people who were together for years but never made it to marriage—if we see marriage as the “end goal” of a relationship. And then there are people who actually get married but eventually get divorced.

So what does it even mean to live a life with someone-for the rest of our lifes?

When I look at my parents’ marriage, sometimes it feels like they just stayed together because they had to. Like they were stuck together because of the kids. It’s not like their marriage was terrible or full of drama—it was mostly just… normal. Ordinary. But that also makes me wonder: what is marriage, really?

I asked my partner once. He said marriage is about living life together. Doing things side by side. Taking care of the house, watching movies, being each other’s person to talk to, managing money, traveling to new places—just sharing life. But somehow that answer makes me scared. Because if you get used to doing everything with someone, what happens if one day, because of some problem you can’t fix, you have to start doing all those things alone again? And for someone like me, who struggles a lot with adapting to changes in routine, that thought feels really heavy. Maybe it’s because I’ve become so comfortable with what I have now, the thought of being on my own again feels scary.

I used to think not getting married would be totally fine. But now I’m used to being with someone, relying on him. I used to be over-independent, but now, I'm having him around in my daily life. He makes my life easier. He pampers me so much that I’ve become a little spoiled too. And honestly? I’m comfortable with it. Then the fear sneaks in—what if one day he leaves me? Maybe that’s why these doubts and fears show up, that's why my survival instincts keep whispering that I should be ready to go back to being on my own.

I keep that thought just 1% with me—what if I don’t get married and end up alone, like I used to think I would when I was younger? It’s a tiny voice, almost ignorable, but it’s always there, reminding me of the life I once thought I’d be okay with. Even though most of me feels comfortable and happy with how things are now, that small fear sometimes sneaks in and makes me pause. 

To calm those negative thoughts, I usually tell myself: "let’s just see where this goes, let time decide where life will take me." I guess I’m just trying to let things be and see where life takes me. But sometimes these thoughts still affect me—and my relationship too. They make it harder for me to fully trust him, even though he has shown so much effort and patience just to make me feel secure. Thankfully, I’m with a man who’s really kind and very, very patient with me. How lucky I am. He’s always reassuring me, always trying to calm the negative thoughts in my head. I know sometimes it probably makes him tired, maybe even makes him want to give up. But he’s still here, still choosing to stay, still reminding me that whatever comes, we’ll get through it together. I guess that’s what it’s like to be loved.

Let’s see where this journey will take us!

11.2.26

doa yang kupanjatkan saat namamu terlintas dipikiranku

 "semoga di kehidupan dan pertemuan mana pun, jalan kita tidak pernah bersinggungan sedikit pun."

15.1.26

hanya—diantara aku

ah, tau!
aku—puing tak bersuara—
di rongga riangmu.

Ada?

adakah yang lebih gigih dari jiwaku, meski sepi?
oh, ya, — pergilah!

Tidak usah dimengerti, ini ocehan absurd (2022)

Terlalu banyak rintangan, namun secara tidak sadar terkadang ku nikmati bahkan sering aku rindui. Tapi sekarang aku sudah kehabisan tenaga. Aku ingin berhenti seingin aku berharap untuk tidak kembali. Sejak awal datang, tidak pernah muncul sepatah tanya siapa atau sekadar jawaban karena. Kalau dipikir memang tidak masuk akal, kekeuh bertahan entah sampai kapan akan tinggal. Kalaupun pergi, cuma sebentar, lalu kembali lagi seolah ini rumah tempatku pulang.

18.12.25

mungkin dikehidupan lain?

kalau aku financially freedom, mau jadi scientiest dibidang matematika (sebagai tempat untuk menyalurkan/menyumbang pengetahuan untuk kepentingan banyak orang), seniman lepas (mengekspresikan diri melaui seni lukis, bisa jadi media untuk "bersuara"), keliling dunia (nomaden, bertemu banyak orang dari latar belakang yang berbeda), tulis puisi atau buku, jadi orang yang biayai perusahaan non profit in private :)

10.11.25

Destiny

"Meski akhirnya tak bisa mencapaimu, 
tidak tumbuh bersamamu, 
senang rasanya bisa menemukanmu 
di dunia yang luas ini" 

- 23:18

5.11.25

Pada Jarak yang Abadi

aku titipkan namamu pada angin,
agar tersesat di jalan yang tak menuju aku.
jika kelak aku meniti tepi terang,
biarlah cahaya tak mengenang wajahmu.
biar sunyi menjaga batas di antara kita—
tak ingin lagi takdirku bersilang denganmu.
dan andai takdir mencoba mempertemukan kita lagi,
akan kulawan seluruh semesta untuk tidak menemuimu.

Mimpi dan Pertanyaan Aneh Itu

Aku bertemu seseorang yang tidak ku kenal tapi entah bagaimana, aku merasa cinta sekali padanya—seperti mengenalnya dengan wajah dan tubuh yang berbeda. Tapi hatiku tau, itu dia. Ia duduk di depanku, di antara pagar kaca yang membatasi kami, berjarak beberapa centi aku duduk tepat di belakangnya. kulihat punggungnya, dia memakai jas dan celana warna hitam. aku menyandarkan dahiku pada kaca itu, tampak lesu menunggu, memandangi pemandangan hijau di sekeliling, indah sekali, seperti saat kami sedang berjalan-jalan di alam terbuka.

Dalam mimpi itu, aku sedang mengambil suatu kelas mata kuliah. Tak kusangka, dia juga mengambil kelas yang sama. Kami sama-sama sekolah, hanya saja berbeda tingkat.

Saat itu dia tidak sendiri—ada temannya yang berdiri di sebelahnya, mengobrol santai. Sementara aku, duduk diam seperti sedang menunggu seseorang yang akan menjemputku. Hingga tiba-tiba, ketika temannya pergi, dia berpindah duduk ke tempat temannya tadi berdiri. jadi seolah kita duduk berdampingan tapi masih berjarak. Aku masih di posisi yang sama, menyandarkan dahiku pada pagar kaca itu.

Lalu, tiba-tiba, dia membuka sedikit pagar tempat dahiku bersandar. aku refleks menjauhkan kepalaku dari situ, dan menoleh padanya. Tatapannya jatuh ke arahku, dan ia mulai mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang cukup rumit. Dia berbicara mengenai kehidupan, tapi dengan sebuah istilah-istilah yang aku tidak paham maksudnya. Aku mencondongkan kepalaku, berusaha menyimak, mengernyitkan dahi, bingung. Sayangnya, aku lupa detailnya seperti apa. Saat pertanyaan itu terucap, tiba-tiba tiga atau empat perempuan mendekatinya, ikut menyimak apa yang dia bicarakan.

Aku bilang padanya dengan jujur, bahwa pertanyaannya cukup rumit dan aku tidak paham. Ketika dia mencoba untuk menjelaskan lagi padaku, ada salah satu perempuan yang berdiri di sampingnya—yang tadi ikut menyimak—menyela dan menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku dengan bahasa yang sama rumitnya, dengan sesekali memberikan senyum dan sedikit menggodanya. Karena kupikir dia sudah memiliki teman untuk berbicara, aku menutup kembali pagar kaca itu dan kembali pada kesibukanku: merenung, menunggu, menatap pemandangan yang tenang, membiarkan mereka bercengkrama.

Aku masih ingat jelas, saat perempuan itu menjawab pertanyaannya dengan sedikit kalimat menggoda, dia hanya tersenyum lalu membuat gesture tangan seperti berkata maaf dan idak tertarik pada jawabannya, kemudian menanggapi jawaban perempuan lain sebentar. Entah kenapa, waktu itu aku merasa sedih. Kupikir dia tidak mau mengajakku bicara lagi—jawaban dari perempuan-perempuan itu kupikir akan menarik perhatiannya dan dia akan segera melupakan jawabanku.

Namun tidak kusangka, dia malah masuk dan duduk dibelakang samping kananku, bertumpu pada lutut dan ujung jari kakinya, tubuhnya sedikit condong ke depan—bukan benar-benar jongkok, tapi juga bukan duduk. Seolah ia tengah berhenti di antara dua gerak: menunggu atau hendak bangkit—, dia meninggalkan mereka, kita lebih dekat, tanpa jeda, dan batas kaca itu tak pernah ada. aku dengan sedikit mencondongkan badanku kearahnya memberikan telingaku, menopang tubuhku dengan lengan yang kuletakkan dipahanya dengan sedikit bersandar pada lengannya, bersiap mendengar dan mencerna pertanyaan yang akan keluar dari bibirnya. Dia menatap mataku sejenak, lalu kembali bertanya, pertanyaan yang masih rumit, tapi dia coba untuk menyederhanakannya agar aku paham :

“Kalau misal suatu saat nanti kamu memasuki ruang-ruang yang berbeda...”

Sialnya—sebelum sempat kujawab dan kudengar seluruh pertanyaannya, alarmku berbunyi. Aku terbangun, membawa tanya yang belum sempat kutemukan ujungnya.

Bahkan dalam wujud yang berbeda aku mengenalmu sebagai Cinta

Sejak masa dunia masih sederhana,
aku jatuh cinta pada cara matamu menatap mataku—
seolah-olah kau menyelami jiwaku,
dan menemukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tak tahu ada.

Tahun berganti,
aku tumbuh, patah, belajar, menunggu.
Kau tetap tinggal di ruang tak bernama,
antara kenangan dan kemungkinan.

Setelah waktu berjalan begitu jauh,
kau datang dalam mimpi
bukan dengan wajah yang dulu,
bukan tubuh yang kukenal,
namun jiwaku bergetar seolah berkata,
“itu dia.”

Aku mengenalmu bukan dengan mata,
tapi dengan sesuatu yang lebih purba,
lebih tua dari waktu dan nama.
seolah ada bagian di dalam diriku
yang mengenalmu sejak sebelum dunia mengenal nama.

Namun aku lelah.
Cinta ini seperti api kecil
yang tak padam tapi juga tak menghangatkan.
Aku berdiri di antara ingin percaya dan ingin bebas,
antara menunggu dan melupakan.

Mungkin saatnya aku menyerah,
bukan karena tak cinta,
tapi karena ingin pulang pada diriku sendiri.

Jika memang jiwamu adalah rumahku,
biarlah semesta yang menunjukkan jalan pulang—
entah padamu,
atau pada ketenangan tanpa namamu.

10.9.25

Soul Recognition (Love)

Love?
It’s when I lose myself in his eyes,
and something deep inside me remembers.
My soul knows him—
not as a stranger,
but as someone it has been aching to find.
As if I’ve known him long before
the day we first met here.

30.6.25

Love Me Not

inspired by Ravyn Lenae & the forget-me-not flower

In the hush between midnight and morning light,
I whispered your name to the edge of might.
You spoke with eyes once warm, now cold,
a story half-written, a hand left untold.

I am the bloom they always forget—
a forget-me-not with quiet regret.
Small and fragile, yet I remain,
growing in shadows, loving through pain.

We were once a verse, bold and bright,
now just echoes fading into night.
You ask me still, “Do you love me or love me not?”
But your heart was the first thing I forgot.

It’s not that I can’t fall or feel,
I’ve just grown tired of love that won’t heal.
Like Ravyn’s melody, soft and bittersweet,
you danced in the dark, but skipped the beat.

Maybe I was never the flower you’d choose,
just a season’s sigh, a beautiful bruise.
But if you ever turn and look behind,
there I’ll be—blue, gentle,
etched in your mind.


23.6.25

hatiku tak pernah tumbuh ke arahnya

Hatiku… seolah tanah yang tak subur untuk benih perasaannya. Bukan karena ia kurang, melainkan karena aku memang tak memiliki ruang yang bisa ditempati oleh bayangnya. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum sopan, bukan getar rindu. Dan aku pun menyesal, sebab siapa yang ingin mengecewakan hati sebaik ia?

Aku bertahan, bukan karena cinta, tapi karena ia meredakan sepi yang lama bersarang di hidupku. Hadirnya sungguh hangat, tenang, dan aku ingin percaya bahwa itu cukup. Tapi ternyata tidak. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum yang hampa—bukan getar yang datang dari hati.

Aku telah mencoba meraba-raba, barangkali perasaan itu akan datang pelan-pelan, tumbuh seperti bunga liar yang tak disangka-sangka. Tapi waktu menjawab jujur: hatiku tak pernah tumbuh ke arahnya. Ia kosong. Datar. Tidak mencintai siapa-siapa. Seperti ladang luas yang kehilangan musim—yang mungkin lebih kelabu, tapi entah kenapa, justru di sanalah ia hidup.


20.2.25

Matematika ft Kucing Ajaib

 "Menghitung 8x6 saja masih pakai jari. begitu mau jadi ahli matematika. "SAINTIS!"" Kata kucing triple ngeselin itu.

Obrolan ini sebenarnya dimulai sejak satu jam lalu dari topik yang bahkan sudah aku lupa apa. Dini hari jam 3 pagi, di kamar.

"Loh kamu ini gimana? matematika itu gak cuma hitung-hitungan. Matematika itu bahasa Tuham menciptakan jagad raya, logika, analitik dan seni."

kucing ngeselin ini cuma diam saja, ntah dia paham atau tidak atau cuma ngantuk dan lelah dengan obralan kami yang ngalur-ngidul di dini hari.

13.2.25

Gak patheken, Gusti!

In lam takun 'alayya ghodlobun fala ubali.
Asalkan engkau tidak marah kepada-Ku ya Allah akan aku terima nasibku didunia.

10.2.25

Dear a Gentleman,

Dear a gentleman, please love me right. I am not come to this life for suffer, you know, right? I am deserve a love from your bottom of the heart. Please, love me purely and harder, show me that no any man can loved me like you do! I wanna feel drunk in your love. I want to hear that your dream is to sleep beside me every night until our skin wrinkles and our hair turn to white one by one, that you want having kids that smart as I am and have eyes as deep as mine. Promise me that you are able to fight to fulfill all my wishes and needs, hug me when I feel the world unfair, and become my safe place to be whoever I wanna be. Tell me that you wouldn't leave me after our worst arguments or my mood swing before periods. Promise me that you will stay by my side until my soul leaves my body. Dear a gentleman, I will love you like you loved me!

6.1.25

marah-marah tapi sedih

muakku sudah sampai ubun-ubun,
ku lewati seribu cara, menghapus resah.
ku rapal doa-doa pada Tuhan, sering.
air mataku tumpah ruah di atas sajadah, sudah.
berdoa di jalanan, pernah.
tapi kenapa tentangnya masih jadi opsi?

apa perlu aku ke dukun, agar cinta ini pergi?
atau ke kyai saja, biar jiwa ini diruqyah?
atau bersekutu dengan setan sekalian?
aku bingung, sumpah!
ini kasih sungguh rekat di angan.

kau apakan aku, Tuhan?
pagi syukurku terganti dengan dukacita,
saat ia mampir ke mimpiku tanpa bicara.
pakai cara apalagi biar aku rela?

..."ku sumpahi kau cepat nikah!
carilah wanita cantik seperti biasanya.
punya anak sepuluh kalau bisa!
biar pahamku khatam,
kalau aku tak punya harapan."

tapi sumpah ini pun tak cukup,
cinta masih mengendap, merajut pilu.
aku terjebak dalam labirin rindu,
di mana langkahku selalu kembali padamu.