Sejak masa dunia masih sederhana,
aku jatuh cinta pada cara matamu menatap mataku—
seolah-olah kau menyelami jiwaku,
dan menemukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tak tahu ada.
Tahun berganti,
aku tumbuh, patah, belajar, menunggu.
Kau tetap tinggal di ruang tak bernama,
antara kenangan dan kemungkinan.
Setelah waktu berjalan begitu jauh,
kau datang dalam mimpi
bukan dengan wajah yang dulu,
bukan tubuh yang kukenal,
namun jiwaku bergetar seolah berkata,
“itu dia.”
Aku mengenalmu bukan dengan mata,
tapi dengan sesuatu yang lebih purba,
lebih tua dari waktu dan nama.
seolah ada bagian di dalam diriku
yang mengenalmu sejak sebelum dunia mengenal nama.
Namun aku lelah.
Cinta ini seperti api kecil
yang tak padam tapi juga tak menghangatkan.
Aku berdiri di antara ingin percaya dan ingin bebas,
antara menunggu dan melupakan.
Mungkin saatnya aku menyerah,
bukan karena tak cinta,
tapi karena ingin pulang pada diriku sendiri.
Jika memang jiwamu adalah rumahku,
biarlah semesta yang menunjukkan jalan pulang—
entah padamu,
atau pada ketenangan tanpa namamu.
5.11.25
Bahkan dalam wujud yang berbeda aku mengenalmu sebagai Cinta
10.9.25
Soul Recognition (Love)
Love?
It’s when I lose myself in his eyes,
and something deep inside me remembers.
My soul knows him—
not as a stranger,
but as someone it has been aching to find.
As if I’ve known him long before
the day we first met here.
30.6.25
Love Me Not
inspired by Ravyn Lenae & the forget-me-not flower
In the hush between midnight and morning light,
I whispered your name to the edge of might.
You spoke with eyes once warm, now cold,
a story half-written, a hand left untold.
I am the bloom they always forget—
a forget-me-not with quiet regret.
Small and fragile, yet I remain,
growing in shadows, loving through pain.
We were once a verse, bold and bright,
now just echoes fading into night.
You ask me still, “Do you love me or love me not?”
But your heart was the first thing I forgot.
It’s not that I can’t fall or feel,
I’ve just grown tired of love that won’t heal.
Like Ravyn’s melody, soft and bittersweet,
you danced in the dark, but skipped the beat.
Maybe I was never the flower you’d choose,
just a season’s sigh, a beautiful bruise.
But if you ever turn and look behind,
there I’ll be—blue, gentle,
etched in your mind.
23.6.25
hatiku tak pernah tumbuh ke arahnya
Hatiku… seolah tanah yang tak subur untuk benih perasaannya. Bukan karena ia kurang, melainkan karena aku memang tak memiliki ruang yang bisa ditempati oleh bayangnya. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum sopan, bukan getar rindu. Dan aku pun menyesal, sebab siapa yang ingin mengecewakan hati sebaik ia?
Aku bertahan, bukan karena cinta, tapi karena ia meredakan sepi yang lama bersarang di hidupku. Hadirnya sungguh hangat, tenang, dan aku ingin percaya bahwa itu cukup. Tapi ternyata tidak. Setiap usahanya menyentuh, aku hanya bisa membalas dengan senyum yang hampa—bukan getar yang datang dari hati.
Aku telah mencoba meraba-raba, barangkali perasaan itu akan datang pelan-pelan, tumbuh seperti bunga liar yang tak disangka-sangka. Tapi waktu menjawab jujur: hatiku tak pernah tumbuh ke arahnya. Ia kosong. Datar. Tidak mencintai siapa-siapa. Seperti ladang luas yang kehilangan musim—yang mungkin lebih kelabu, tapi entah kenapa, justru di sanalah ia hidup.
20.2.25
Matematika ft Kucing Ajaib
"Menghitung 8x6 saja masih pakai jari. begitu mau jadi ahli matematika. "SAINTIS!"" Kata kucing triple ngeselin itu.
Obrolan ini sebenarnya dimulai sejak satu jam lalu dari topik yang bahkan sudah aku lupa apa. Dini hari jam 3 pagi, di kamar.
"Loh kamu ini gimana? matematika itu gak cuma hitung-hitungan. Matematika itu bahasa Tuham menciptakan jagad raya, logika, analitik dan seni."
kucing ngeselin ini cuma diam saja, ntah dia paham atau tidak atau cuma ngantuk dan lelah dengan obralan kami yang ngalur-ngidul di dini hari.
13.2.25
Gak patheken, Gusti!
In lam takun 'alayya ghodlobun fala ubali.
Asalkan engkau tidak marah kepada-Ku ya Allah akan aku terima nasibku didunia.
10.2.25
Dear a Gentleman,
6.1.25
marah-marah tapi sedih
muakku sudah sampai ubun-ubun,
ku lewati seribu cara, menghapus resah.
ku rapal doa-doa pada Tuhan, sering.
air mataku tumpah ruah di atas sajadah, sudah.
berdoa di jalanan, pernah.
tapi kenapa tentangnya masih jadi opsi?
apa perlu aku ke dukun, agar cinta ini pergi?
atau ke kyai saja, biar jiwa ini diruqyah?
atau bersekutu dengan setan sekalian?
aku bingung, sumpah!
ini kasih sungguh rekat di angan.
kau apakan aku, Tuhan?
pagi syukurku terganti dengan dukacita,
saat ia mampir ke mimpiku tanpa bicara.
pakai cara apalagi biar aku rela?
..."ku sumpahi kau cepat nikah!
carilah wanita cantik seperti biasanya.
punya anak sepuluh kalau bisa!
biar pahamku khatam,
kalau aku tak punya harapan."
tapi sumpah ini pun tak cukup,
cinta masih mengendap, merajut pilu.
aku terjebak dalam labirin rindu,
di mana langkahku selalu kembali padamu.
1.1.25
20.11.24
Sisa Waktu yang Tak Terucap
Cukup dua puluh lima,
Jika umurku terhampar sampai delapan puluh,
Maka ada lima puluh lima musim yang terbuang,
Yang mengintip dari balik awan,
Tanpa suara, tanpa jejak.
Tak akan kubiarkan ketakutan ini mengikat,
Kunci besar kehidupan yang terpendam dalam diam,
Hari-hariku ragu,
Apakah langit bisa lebih luas dari sempitnya dunia ini?
Apakah aku lebih dari yang terlihat?
Tiap napas yang tersendat adalah beban,
Beban tak terlihat,
Namun mencabik hati yang mengidamkan kebebasan,
Mengabaikan bisikan ilahi,
Yang mengatakan, "Bangkit, anakku.
Kau bukan hanya untuk bertahan."
Kemelaratan, ataukah kesunyian jiwa?
Ketika tiap sudut ruang dihitung dengan harga,
Sedangkan aku berteriak pada kehampaan,
Mengharap lebih dari sekadar mengisi ruang ini.
Tapi dunia memaksaku untuk menatap tanah,
Sementara hati ingin terbang lebih tinggi.
Siapa yang berkata dunia itu abu?
Sementara aku berjalan di atas bara
Yang mengajarkan setiap langkah adalah nilai,
Setiap derap adalah doa,
Tak hanya untuk dunia yang kelabu,
Tapi untuk sesuatu yang tak tampak,
Yang bisa kugapai dari sini,
Walau hanya bayangannya yang ada.
--------------------
Terinspirasi dari :
"I want to live and not just survive"
Itung-itungan Umur, cita-cita, ketakutan dan keraguan
cukup 25 tahun! kalau-kalau umurku sampai 80 tahun : 80 - 25 = 55 tahun. rugilah aku jika sampai takut mengejar yang diimpikan. aku tidak mau terus-terusan hidup dalam ketakutan mengambil keputusan besar dalam hidupku sendiri. aku tidak mau setiap hariku meragukan kata hati bahwa aku bisa lebih dari ini. aku tersiksa setiap hari karena mengabaikan potensi yang dititipkan Tuhan karena hal keduniawian yang tak terpenuhi. aku terlalu takut untuk banyak hal, hatiku selalu berkata bahwa aku mampu melampaui ini, tapi ku abaikan. persetan memang kemelaratan! banyak kesempatan dalam hidup yang tak tergapai karna keterbatasan ekonomi. bagaimana bisa sampai pada tahap hablul minannas kalau alam sadar isinya hanya kiat-kiat agar token listrik tak mati?! siapa
yang bilang kalau dunia itu tidak penting dan membandingkan dengan akhirat? ku katakan dengan lantang bahwa keduanya penting dan terkait satu sama lain! selama kita masih hidup di dunia yang serba material ini kita
pasti butuh hal-hal duniawi, biar lah hari kematian dan pembalasan sebagai pembatas untuk tindakan tak manusiawi.
18.10.24
Degradasi Iman
diantara tumpukan kain-kain urban bermerk
sajadahku usang berdebu tak pernah tersentuh
secara sadar ku tanggalkan sajadahku
aku terlalu sibuk menumpuk mengepul kain-kain itu
dari yang murah sampai yang mahal
sedang sajadahku hanya satu
itu pun usang sudah lama tak tersentuh
hatiku tersentak bersedih
semakin tua mendekat ajal
semakin luruh sujudku
mungkinkah karena dosaku sudah menggunung?
mungkin Tuhan sudah tak mau memaafkanku
tak pernahnya ku ditegur, disapa, seperti biasa
sudah tertutup mata hatiku oleh yang lain
sajadahku berdebu usang tak kusentuh
sudikah Tuhan menaruh kembali nikmat itu?
9.10.24
Kata Jiwa :
"tidak ada satu pun di dunia ini yang memberatkan 'ku untuk terus disini."
ini antara mahabbah atau putus asa?
15.8.24
Imagining a Day of Freedom
In the realm of freedom, 24 hours to spend,
Each moment a treasure, each hour my friend.
Could every day sparkle, feel like a grand play?
Would boredom creep in, or joy lead the way?
At ten on a Monday, I’d dive into tales,
With Spy x Family, where adventure prevails.
Awake ‘til the morning, just staring in space,
Finding stillness in time, a soothing embrace.
Sipping warm tea, at eleven I’d dwell,
Finishing sketches, my heart’s little spell.
In a whirl of creation, my thoughts take their flight,
Writing stories that dance in the soft morning light.
At noon, I would cook, with delight I would sway,
While music surrounds me, I’d let worries stray.
As the washer hums softly, I’d sway with the tune,
And lose track of time, ‘neath the afternoon moon.
Yet, as evening descends, at seven I’ll paint,
Uploading my visions, a world so quaint.
I’d feast on the colors, my palette a dream,
While budgeting life, my future to scheme.
At nine, I would wander where silence prevails,
Gazing up at the stars, while the night gently hails.
Talking to shadows, as the music flows sweet,
My heart whispers secrets, in the night’s quiet beat.
With avocado bites and a chat with the stray,
Under the vast sky, I’d let worries decay.
Then, by eleven, to bed I would glide,
A day filled with wonder, with freedom as guide.
And the next dawn would beckon with fresh, vibrant plans,
Another mosaic, painted by my hands.
A slice of the heavens, wrapped in joy's embrace—
To live in a world where time’s filled with grace.
14.8.24
keluh kesah pekerja 9-5, mana ada kebebasan? apalagi idealisme passion untuk kaum proletar, omong kosong!
Muak!
Bisa gak beli tahu tempe beras pakai idealisme?
Kalau pakai passion gimana?
Aku bisa gambar dikit, nulis bebas juga bisa,
Tapi gak bisa ikut selera orang apalagi pasar,
ini soal perasaan;
Ah, sudahlah!
Ternyata, betul kata pak Bismarck:
"Kebebasan adalah kemewahan yang tidak semua orang mampu."
haha aku tidak mampu, jadi, ya sudahlah!
9 - 5 jalan ninjaku.
Hidup kaum buruh!
12.6.24
Thanks to a man who said that long hair suits me
thank you for gave all your love to this flawed woman.
love you~
8.5.24
Adulting
Cover up my sadness with jokes.
Hiding a crushed spirit behind a job.
Who knew living a tragic life could feel so lavish?
God and I have a pretty tight relationship,
I talk to him every night when my fingers hold the tears.
Somehow I will have to find a way to fulfill my adult responsibilities.
The smell of bitter grapes unwarrented affections
I need to stop letting myself drown in these adulting things.
No, I can't. I let me older by the time.
7.5.24
A Marriage
I used to think that I will end up being "Single" all the rest of my life. If common people think that they will get married and have family (well, I do too!), but I am on the opposite.
My thoughts on relationship sphere are 90% thinking about--the worst--possibilities--on relationship--that will happen to me someday :
1. Single all the time (60%)
2. Then, die (30%)
the 10% are in relationship : getting married, have my little family, etc.
My thoughts are separated between those 2 terms : SINGLE and DIE. the percentage are fluctuating. Sometimes the percentage of the die higher than the single and vice verca.
But, if I finally get married someday, it'll be with a gentleman who is reliable, full of love, caring and kind. Who have provider mindset and able to make me feel safe around him to be whoever I wanna be.
It’s one thing to love someone, but a whole other level to commit to a marriage.


