Cukup dua puluh lima,
Jika umurku terhampar sampai delapan puluh,
Maka ada lima puluh lima musim yang terbuang,
Yang mengintip dari balik awan,
Tanpa suara, tanpa jejak.
Tak akan kubiarkan ketakutan ini mengikat,
Kunci besar kehidupan yang terpendam dalam diam,
Hari-hariku ragu,
Apakah langit bisa lebih luas dari sempitnya dunia ini?
Apakah aku lebih dari yang terlihat?
Tiap napas yang tersendat adalah beban,
Beban tak terlihat,
Namun mencabik hati yang mengidamkan kebebasan,
Mengabaikan bisikan ilahi,
Yang mengatakan, "Bangkit, anakku.
Kau bukan hanya untuk bertahan."
Kemelaratan, ataukah kesunyian jiwa?
Ketika tiap sudut ruang dihitung dengan harga,
Sedangkan aku berteriak pada kehampaan,
Mengharap lebih dari sekadar mengisi ruang ini.
Tapi dunia memaksaku untuk menatap tanah,
Sementara hati ingin terbang lebih tinggi.
Siapa yang berkata dunia itu abu?
Sementara aku berjalan di atas bara
Yang mengajarkan setiap langkah adalah nilai,
Setiap derap adalah doa,
Tak hanya untuk dunia yang kelabu,
Tapi untuk sesuatu yang tak tampak,
Yang bisa kugapai dari sini,
Walau hanya bayangannya yang ada.
--------------------
Terinspirasi dari :
"I want to live and not just survive"
Itung-itungan Umur, cita-cita, ketakutan dan keraguan
cukup 25 tahun! kalau-kalau umurku sampai 80 tahun : 80 - 25 = 55 tahun. rugilah aku jika sampai takut mengejar yang diimpikan. aku tidak mau terus-terusan hidup dalam ketakutan mengambil keputusan besar dalam hidupku sendiri. aku tidak mau setiap hariku meragukan kata hati bahwa aku bisa lebih dari ini. aku tersiksa setiap hari karena mengabaikan potensi yang dititipkan Tuhan karena hal keduniawian yang tak terpenuhi. aku terlalu takut untuk banyak hal, hatiku selalu berkata bahwa aku mampu melampaui ini, tapi ku abaikan. persetan memang kemelaratan! banyak kesempatan dalam hidup yang tak tergapai karna keterbatasan ekonomi. bagaimana bisa sampai pada tahap hablul minannas kalau alam sadar isinya hanya kiat-kiat agar token listrik tak mati?! siapa
yang bilang kalau dunia itu tidak penting dan membandingkan dengan akhirat? ku katakan dengan lantang bahwa keduanya penting dan terkait satu sama lain! selama kita masih hidup di dunia yang serba material ini kita
pasti butuh hal-hal duniawi, biar lah hari kematian dan pembalasan sebagai pembatas untuk tindakan tak manusiawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar