18.10.21

Try Out jadi Netijen Julid

Kali ini tiba-tiba kucing itu muncul didepanku dan dengan cueknya mengomentari apa yang sedang kukerjakan..

"Iki opo tho? Kupu-kupu kok ngene? warnae gak masuk...."

"Loh he, kenapa anda muncul sekarang?" Tanyaku spontan memotong kalimatnya.

"Lha piye, saya yang selalu menemani anda berbicara setiap hari saat tidak ada siapapun. Saya ada dalam diri anda, selalu. Jadi saya bisa muncul kapanpun saya mau."

"Maksudku, sekarang kan masih Oktober, biasanya kamu datang bulan Februari lho. Gak salah jadwal ta?"

Dia tidak peduli dengan pertanyaanku karena terlalu fokus memperhatikan apa yang kukerjakan dengan seksama dan telili. Memicingkan mata, melihat dari sudut kiri, lalu kanan, dari jarak dekat, lalu dari jarak jauh. Sembari berkomentar laiknya juri Master cheff Indonesia..



"Ini warnanya gak masuk, ungu kok campur kuning dan oranye, terus itu jembret-jembret, blend warnanya kurang ok kelihatan kayak asal-asalan, lalu apa itu maksudnya kok sayapnya gak simetris? Ini sih kalau aku jadi dosen aku kasih nilai F. Kamu gak lulus!", katanya begitu serius.

"Ha? Styleku memang begini, cing. Bebas dan fun. Ini temanya Bitterfly : Let the butterfly takes your bitter(ness) away.  Ini salah satu caraku mengekspresikan rasa dan pikiranku alias curhat tapi tetep rahasia. Jadi, aku gak perlu penilaian dan validasi apapun dari siapapun, termasuk kamu."

HAHAHAHAHA...

Tiba-tiba si kucing kampret ini tertawa terbahak membuat aku sedikit kebingungan melihatnya (Aku kira sudah gila).

"Aku tadi cuma latihan jadi netijen julid mbak. Manteb gak ektingku?"

"OOH DOBOL!"

"Mon Maap.. hehe. Selamat bersenang-senang. Cu next year!"

21.9.21

I Know How to Having Fun

Don't tell me how to having fun, I already know it.
Just walking around my way home or crank my bike in Sunday morning to see the differ on every trees, people, stores, and anything I can see.
Don't tell me how to having fun, I know it. Just walking bare foot, let my sole freely touch the grass or wet ground and let my palm feel the leaves.
Oh, don't you tell me how to having fun, don't even try. I know how to having myself fun.
Just sitting down in the cloister of my upstairs, behind the power cables. Just sitting down watching the sky and birds. Quite, peaceful, and little bit dangerous. Haha.
No, don't tell me how to having fun. I know it already. Playing music from my smart phone, then do free style dancing in front of big mirror, alone in my room. Only me dancing, music, and my reflection. And that's work my happiness successfully. Haha I call it crazy but fun.
Don't you dare tell me how to having fun. I know it. Buy ice cream on my random mood sometimes. It's enough and make me happy.
Oh, No, dude, don't tell me how to make me happy. I know it. Read again my most favorite books before bed. oh, it's more than enough.
No need to tell me how to make me happy. Do experiment with my paint and mixed any color that I want. Don't care the rule how to make 'stunning painting' or how to be an artist. I don't need that, I just want to having myself fun.
I don't need people to tell me how to having fun coz I really know it clearly.

16.9.21

Kau tau kenapa aku menulis doa-doa?
Tuhan, tolong disetiap hariku, ingatkan aku untuk selalu mengasah empati. Jangan biarkan hatiku tumpul melihat sodara-sodaraku yang membutuhkan uluran tangan. Tolong, ingatkan aku jika suatu hari nanti lupa dengan perasaan ini. Tegur aku, cubit lenganku, jika suatu hari aku semena-mena mengambil hak orang lain.

Jika suatu hari kesombongan menenggelamkan nuraniku, Tuhan, tolong selalu ingatkan aku bahwa aku bagian kecil dari perjalanan ruang dan waktu. Jika suatu hari keserakahan memudarkan rasa kemanusiaanku, Tuhan, tolong ingatkan aku bahwa ragaku tidak hidup selamanya dan banyak sekali yang tidak mungkin aku mengerti dan tidak semua hal mampu aku miliki.

Tuhan, jika pandanganku terhadap orang lain terbiaskan oleh hal-hal yang diluar dirinya, yang tidak terlibat dalam sisi kemanusiaanya. Tolong ingatkan aku bahwa sejatinya kita setara.

Tuhan, jika aku lupa siapa aku, tolong ingatkan. Tegur aku, sentuh hatiku. Jangan biarkan aku lupa. Tolong, teriakkan dengan lantang pada telingaku jika pada suatu hari nanti aku menyerah atas hidup; Beri kedamaian dalam hati dan pikiranku, tegarkan hatiku dan kuatkan langkahku. Terima kasih.
..... karena aku seorang pelupa.

1.8.21

Berserah Diri

Sungguh manusiawi jika kita merasa susah dan mengeluh. Tuhan Maha adil membagikan gembira dan lara pada semua orang sesuai porsinya masing-masing, tanpa pandang bulu. Setiap orang memiliki arenanya sendiri. 

Sesuatu yang wajar jika kadang kita merasa bahwa dunia sedang menghantam wajah kita atau kaki-kaki kenyataan mendorong punggung kita agar terjatuh sehingga muka bersilaturahmi dengan trotoar kehidupan. Lebam dan beset sudah risiko. 

Saya semogakan kita selalu memiliki jiwa legowo, ikhlas, dan berserah diri padaNya dalam menjalani proses hidup yang saya rasa hanya sekejap mata ini. Semoga kelak kita akan kembali keharibaanNya dalam keadaan husnul khatimah.

5.7.21

Secuil Jejak Waktu

Kalau-kalau nanti tiga puluh atau delapan puluh tahun umurku
Aku harap diberi setahun atau enam bulan atau sebulan, seminggu
Sehari, sejam, sepuluh menit, atau dua menit
Agar aku bisa lebih memahami dan mengosongkan tanya
yang memburuku tanpa ampun, biar setidak-tidaknya eksistensiku diakui
Sekali dalam genggaman jejak waktu

Dua menit, sepuluh menit, sejam, sehari, apalagi seminggu
Tak pernah tertinggal sejejak pun waktu
Yang sotoynya ku tebak takkan mampu hingga nanti
Aku cemburu pada waktu-waktu yang haram ku katakan secara gamblang
Yang samar-samarnya mengkristal jadi artefak di angan, menghantui tiba-tiba
Sebulan, enam bulan, setahun, tujuh tahun atau sepertiga abad lamanya

Dua menit, sepuluh menit, sejam, sehari, atau setahun
Tak ada jejakku dalam jatah waktu
Maka tak sepetak pun ruang khusus untukku
Kecuali sedikit waktu yang sekadar berdetak tak berbekas
Dua menit, sepuluh menit, sejam, sehari, seminggu, setahun,
Tujuh tahun, tak pernah ada secuil jejak waktu

10.6.21

Biarkan langit memutuskan

Dalam tahun-tahun panjang,
dengan beribu tanda yang terbata-bata terbaca.

Langit masih tak tersentuh.. terlalu jauh.

Dilepasnya dengan lapang, 
biar berserakan di al t a r p  e na n t ia  n.

3.6.21

Sembahyangku hari ini

Perasaan tenang dan dada yang lapang hari ini tidak kau dapat dari sembahyang. Sembahyang bukan lagi kebutuhan tuk merasakan kehadiran Tuhan dalam diri. Sembahyangmu hanyalah berupa gerakan badan. Tak sedikitpun menyentuh jiwa, tak menghangatkan hati, maupun menjernihkan pikiran. Sembahanyangmu disetiap hari, tak lebih dari rutinitas penggugur kewajiban.

24.5.21

Suicide Thought
Everything feels too hard
 She couldn't handle it,
"Take the pills or cut the pulse."
Some people are fighting for their lives,
and she was just hoping to die.*
How pity her mind.
Suicide.

*Dari film Daisy Winters

#feelingnmeaning

There is beauty in simplicity: Flowers
05 | 21


#Imagination #Selfexpression


#Flowerblooms #Imperfections

==========

Kesederhanaan dan keindahan.

Meterial :
Kertas A2, cat acrylic, bulpoin, water color.

18.5.21

Different road

"See you soon, or never."
        She said, unwell, unsure.
        Just some rain tapping the roof.

4.5.21

I don't know what love is

Is love just a woman and a man?
Whether love is life itself and the world, isn't it?
Flowers and butterflies and bees,
Water stream and its gurgling,
Leaves fall and whirlwind,
You and me,
I and live,
Life and the world,
Poets and poetry,
Tea or coffee,
Guitar and music,
Isn't it?

This Sunday evening,
splash water on my face,
A second gone by itself,
The cold linger occupy my mind.
Actually, my heart mystify warm.

27.4.21

Jika aku terlahir tuli buta dan bisu (Siapa lah aku)

Jika aku terlahir tuli.
Akan kah dunia begitu sunyi?
Apakah aku bisa dengar berisiknya suara alam?
Jika aku terlahir buta.
Bisa kah aku lihat warna cahaya?
Akankah aku tetap kagum pada indahnya dunia?
Jika aku terlahir bisu.
Mampukah orang-orang memahami gerakan tangan,
tulisan bahkan maksud dari igauanku?
Bisakah mereka membaca raga, batin, dan jiwaku?
Jika aku terlahir tuli, buta, dan bisu.
Meski tak cacat sedikit pun intuisi, perasaan, dan akalku.
Mampukah aku tetap menerima gelap dan terang dalam aku?
Tapi, bagaimana jika aku terlahir cacat pikiranku.
Bisa kah aku mengenal diri sendiri dan mengenal-Mu?
Lantas, marah kah Engkau karena itu?
Jika aku, tidak pernah lahir, Tuhan..
Jika aku, tidak pernah ada.
Jika aku tidak pernah diciptakan..
Bagaimana jadinya aku?
Adakah aku?..
Siapa lah aku.

25.4.21

Under the vast sky

At night in a crowded city,
People rest themselves.
I sit alone under the vast sky,
On the silent street.
Dream, dream on,
I find solitude and peace.

24.4.21

That years

Tell me-
What will it be?
I find that seasons too,
has come and gone.
Flowers will bloom;
to fall under the wind.
Frolicking by destiny's whirl,
over and over again.

22.4.21

Hopeless

The gloomy clouds above in the dark night
Covering the sky by its pitch black
How will I ever see the light?

10.4.21

Hal yang tidak ingin dilupakan..

Bumi berputar di porosnya mengelilingi matahari dan dikelilingi bulan di salah satu galaksi dari ratusan milyar galaksi; Bima Sakti. Betapa agungnya, menakjubkan, ajaib, Tuhan! Aku, ternyata disini satu percikan kecil dari kesadaran.

10.3.21

Ah, Kita seharusnya Sedih

Semakin kesini makin lawak. Yang disentuh hanya permukaannya saja, masih jauh dari inti. Terpaku pada formalitas, lupa hakikat. Ah, ya Allah, siapa dan apalah aku ini ngomong begini? Tapi, ini membuat aku sedih sekaligus miris melihatnya. Jaman apa ini, aku hidup di masa apa? Sekarang yang di jual tidak cuma berupa barang. Empati, atensi, dan agama jadi produk paling laris.

Hari ini, agama jadi barang dagangan. Shampo hijab, handbody hijab, deterjen hijab bahkan seminar poligami yang paling sering digembor-gemborkan. Ketakwaan dan iman seseorang hanya dinilai dari seberapa panjang hijabnya dan seberapa lebat janggutnya. Bahkan hari ini kita dapat menilai kadar keimanan dan isi hati orang dari postingan di akun instagram. Ah, ya Allah, entah kenapa aku sedih. Apa sekarang jamannya menggerus esensi? Apa jaman sekarang hanya materi yang dijunjung tinggi?

Hari ini bukan jamannya menjajah fisik. HAM begitu kokoh ditegakkan, perang fisik sudah hampir tidak ada. Hari ini kita dijajah dan menjajah pikiran, kepercayaan, psikologis orang. Kita kontrol dan dikontrol apa yang disuka dan dibenci orang. Kita menutupi borok-borok kita dengan kalimat manis berbau amis. Ah, ya Allah. Jaman apa ini?

Hari ini, betapa kita sering menduakan, mentigakan, meseratus ribukan Engkau, Allah. Belanja gila-gilaan, kita sembah ideologi konsumerisme secara sadar atau tidak. Kita lakukan apa saja untuk dapatkan kesenangan sementara. Lupa diri sendiri. Lupa hakikat. Bahkan Tuhan, kita berani menggadaikan hati nurani untuk selembar kertas atau kedudukan. Kita bacok saudara kita. Kita rampok hak-haknya. Ah, ya Allah, aku sedih. Jaman apa ini?

* Setelah nonton sponsor deterjen hijab :(