18.5.21

Different road

"See you soon, or never."
        She said, unwell, unsure.
        Just some rain tapping the roof.

4.5.21

I don't know what love is

Is love just a woman and a man?
Whether love is life itself and the world, isn't it?
Flowers and butterflies and bees,
Water stream and its gurgling,
Leaves fall and whirlwind,
You and me,
I and live,
Life and the world,
Poets and poetry,
Tea or coffee,
Guitar and music,
Isn't it?

This Sunday evening,
splash water on my face,
A second gone by itself,
The cold linger occupy my mind.
Actually, my heart mystify warm.

27.4.21

Jika aku terlahir tuli buta dan bisu (Siapa lah aku)

Jika aku terlahir tuli.
Akan kah dunia begitu sunyi?
Apakah aku bisa dengar berisiknya suara alam?
Jika aku terlahir buta.
Bisa kah aku lihat warna cahaya?
Akankah aku tetap kagum pada indahnya dunia?
Jika aku terlahir bisu.
Mampukah orang-orang memahami gerakan tangan,
tulisan bahkan maksud dari igauanku?
Bisakah mereka membaca raga, batin, dan jiwaku?
Jika aku terlahir tuli, buta, dan bisu.
Meski tak cacat sedikit pun intuisi, perasaan, dan akalku.
Mampukah aku tetap menerima gelap dan terang dalam aku?
Tapi, bagaimana jika aku terlahir cacat pikiranku.
Bisa kah aku mengenal diri sendiri dan mengenal-Mu?
Lantas, marah kah Engkau karena itu?
Jika aku, tidak pernah lahir, Tuhan..
Jika aku, tidak pernah ada.
Jika aku tidak pernah diciptakan..
Bagaimana jadinya aku?
Adakah aku?..
Siapa lah aku.

25.4.21

Under the vast sky

At night in a crowded city,
People rest themselves.
I sit alone under the vast sky,
On the silent street.
Dream, dream on,
I find solitude and peace.

24.4.21

That years

Tell me-
What will it be?
I find that seasons too,
has come and gone.
Flowers will bloom;
to fall under the wind.
Frolicking by destiny's whirl,
over and over again.

22.4.21

Hopeless

The gloomy clouds above in the dark night
Covering the sky by its pitch black
How will I ever see the light?

10.4.21

Hal yang tidak ingin dilupakan..

Bumi berputar di porosnya mengelilingi matahari dan dikelilingi bulan di salah satu galaksi dari ratusan milyar galaksi; Bima Sakti. Betapa agungnya, menakjubkan, ajaib, Tuhan! Aku, ternyata disini satu percikan kecil dari kesadaran.

10.3.21

Ah, Kita seharusnya Sedih

Semakin kesini makin lawak. Yang disentuh hanya permukaannya saja, masih jauh dari inti. Terpaku pada formalitas, lupa hakikat. Ah, ya Allah, siapa dan apalah aku ini ngomong begini? Tapi, ini membuat aku sedih sekaligus miris melihatnya. Jaman apa ini, aku hidup di masa apa? Sekarang yang di jual tidak cuma berupa barang. Empati, atensi, dan agama jadi produk paling laris.

Hari ini, agama jadi barang dagangan. Shampo hijab, handbody hijab, deterjen hijab bahkan seminar poligami yang paling sering digembor-gemborkan. Ketakwaan dan iman seseorang hanya dinilai dari seberapa panjang hijabnya dan seberapa lebat janggutnya. Bahkan hari ini kita dapat menilai kadar keimanan dan isi hati orang dari postingan di akun instagram. Ah, ya Allah, entah kenapa aku sedih. Apa sekarang jamannya menggerus esensi? Apa jaman sekarang hanya materi yang dijunjung tinggi?

Hari ini bukan jamannya menjajah fisik. HAM begitu kokoh ditegakkan, perang fisik sudah hampir tidak ada. Hari ini kita dijajah dan menjajah pikiran, kepercayaan, psikologis orang. Kita kontrol dan dikontrol apa yang disuka dan dibenci orang. Kita menutupi borok-borok kita dengan kalimat manis berbau amis. Ah, ya Allah. Jaman apa ini?

Hari ini, betapa kita sering menduakan, mentigakan, meseratus ribukan Engkau, Allah. Belanja gila-gilaan, kita sembah ideologi konsumerisme secara sadar atau tidak. Kita lakukan apa saja untuk dapatkan kesenangan sementara. Lupa diri sendiri. Lupa hakikat. Bahkan Tuhan, kita berani menggadaikan hati nurani untuk selembar kertas atau kedudukan. Kita bacok saudara kita. Kita rampok hak-haknya. Ah, ya Allah, aku sedih. Jaman apa ini?

* Setelah nonton sponsor deterjen hijab :(

5.3.21

Time forgets

24.2.21

Beginning Middle End

There's magic in details

14.2.21

#Feelingnmeaning

Connected I | 01.21

Connected II | 02.21

Pro dan Kontra, yin dan yang, b&w, benar dan salah, proton dan neutron dsb. Berbeda tapi saling melengkapi, yang beda tidak sepenuhnya beda, yang sama juga tidak sepenuhnya sama. Ada perbedaan dalam persamaan, dan ada persamaan dalam perbedaan. Semua terhubung dalam entitas yang besar, yaitu kehidupan.

==========

Identity | 02.21

Sebenarnya ini terinspirasi dari sajak yang aku baca di salah satu blog stranger di internet. Identitas manusia terdiri dari nomer-nomer dan dokumen : tanggal lahir, No.KK, NIK, KTP, Akte, No. absen, BB, TB. Dan kita juga punya nilai-nilai personal yang membentuk kita, lalu jadi identitas kita.

==========

Feeling Blue | 09.20

Dari lagunya Bob Marley yang No Woman No Cry. Aku kira kalimat itu bermakna keangkuhan, tapi Setelah aku baca-baca konteks dari lagunya ternyata makna dari judul lagu itu lebih ke mangayomi dan menenangkan. No, woman, no cry.

==========

Ugly Duckling | 12.20

Terinspirasi dari spongebob waktu scene "I'm ugly and I'm proud" dan terpikirkan juga standar kecantikan yang dibicarakan banyak orang. But I think, we are beyond than those standards. We are more than flesh and blood.

“I'm not a body with a soul, I'm a soul that has a
visible part called the body.”

― Paulo Coelho, Eleven Minutes

7.2.21

/Us/
We've got our wings and we're chasing the wind
We have to believe that there's more than it seems
More than a soul in a boat in a sea of sinking dreams
We're all looking for something, for someone, for anything
For anyone and we're gonna fly on a white wind
We're gonna dance through a blue sky. 
Will the faithful be rewarded when we come to the end?
Will we miss the final warning from the lie that we have lived?
Have we wasted all our days?
Are we born from the seed of disguise?
Do we pray to become undone?
We are gonna walk this life til we're outta breath til we're outta sight
And every road we take will lead us to home, our home
Just shine till there's nothing left, but us.

/Us-II/
And who's gonna make us fall in love?
We don't say much at all
Did we realize that it breaks our heart? 
Every time we see our tears
We part like rivers, rivers do. 
We wanna see what we see when we sleep
We wanna know where we gonna go
We only know we feel it in our bones 
and wear it on our skin
But there is no use in right or wrong
When a heart must go where it belongs.

/Us-III/
We'll take a quite places
A heart that's full up like a landfill
We look so tired at the bruises that won't heal
Seems like time can't erase a strong feeling
And we know how just to cry
And we know how just to happy
And we know how just to touchy
We don't know how to stop loving it purposely.

*Dari lagu-lagu yang diputar acak

4.2.21

Ilusi

Tiba-tiba aku berlari kemanapun langkahnya pergi. Memperhatikan setiap gerak yang dilakukan. Aku mencoba untuk tidak berbalik, menoleh, mendongak, menunduk, bahkan tidak mau berkedip. Terpaksa melihat peristiwa yang tidak ingin aku lihat. Lecet, tersandung, tersungkur, karat sampai sekarat; Aku tetap mengikuti.

Ketika aku melirik kearah lain barang sedetik, muncul sebuah tanda. Seolah seperti sihir, aku langsung membelalakkan mata kembali fokus. Meski tidak pernah terlontar satu huruf pun dari bibir, meski hanya tanda aneh tak masuk akal. Seolah aku mengerti tatapan mata, mimik, gerak-gerik; berkat intuisi dan analisa gilaku, selalu kutemukan makna yang lebih gila diluar nalar.

Dia terus berlari.. aku berlari sekuat tenaga untuk berada sejajar. Semakin aku pacu lariku, semakin jauh. Aku sempat berhenti. Dia ikut berhenti seolah--mungkin berpura-pura--menunggu, lalu muncul lagi tanda aneh. Aku kira aku mengerti. Aku berlari lagi, dia berlari lagi. Aku berhenti. Dia berhenti. Aku lari, dia lari. Aku berhenti dia berhenti. Aku bertanya, dia tidak mendengar. Aku memberi tanda, "Siapa namamu?"; Dia memberi tanda : 

"I.. L.. U.. S.. I."

2.2.21

*Miruoy noitani gami

M i r u o y n o i t a n i g a m i = i m a g i n a t i o n y o u r i m

I'm your imagination

Dibalik Kucing Ajaib

Suatu hari yang cerah di bulan ke dua abad ke dua puluh tahun dua puluh satu, aduh ribet! Intinya di hari Senin pagi 26 jam 40 menit 15 detik lalu. 

Tidak terasa setahun begitu cepat terlewati, kucing itu kembali menampakkan batang hidungnya. Kucing ajaib yang jadi teman berbagi rasa dan pikiran ku selepas-lepasnya.

"Wis suwi ra tau ketok, ning ndi ae?" Tanyanya sejenak saat aku duduk disampingnya.

"Seharuse aku sing takon cing, it's been a long day, how's life?" Tanyaku balik, dengannya aku merasa tidak punya rasa malu, sungkan, atau gak nyaman memamerkan pencapaian lisan bahasa inggrisku yang masih pletotan.

"Well, everything is allright, yours?"

Aku lumayan kaget dengan jawabannya. Lha baru kali ini eh ada kucing yang bisa ngomong pake bahasa Inggris kecuali Garfield dan Tom.

"Kayak sponsor cing, Life is never flat. Ngomong-ngomong kenopo kuwi mesti teko pas bulan Februari tok, liyane ning ndi?"

"Aku datang dan pergi sesuai yang kamu harapkan mbak.... Miruoy noitani gami." *

"Haaa? kuwi ki ngomong opo tho, aku ga iso bahasa Jepang, bahasa Inggris ae sik belajar"

Dia tidak menjawab.. Aku mikir-mikir mencerna apa arti dan maksud kalimat terakhir.

Beberapa menit otak bekerja, tiba-tiba.. kling! Lampu 5 WAT menyala diatas kepala.

"Serius cing? jadi selama iki...." Aku termangu sampai tidak bisa meneruskan kalimat yang seharusnya aku tanyakan.

"Yaaa, I never exist in this world, mbak."

"So, are you ALIVE or not?" Tanyaku lagi. (Beri penekanan di kata berhuruf balok)

Dia hanya mengangkat bahu, lalu sekejap mata menghilang.

Lima detik kemudian dia muncul kembali...

"Biar penasaran.." Sembari nyengir, lalu sedetik kemudian menghilang.

Aku terbengong-bengong sendiri.

26.1.21

Niat terselubung

Selalu begini :
Jalan pelan-pelan..
Basah kuyup di bawah derasnya hujan
Menengadah menatap air jatuh dari awan
Perih..
Air jatuh dari mata. 

24.1.21

Minggu Kali Ini... (Sebuah Apresiasi untuk Kekosongan)

Kali ini suara-suara dikepala begitu sunyi, tidak ada pertanyaan mencerca, tidak ada jawaban berharap dicari. Seolah seluruh emosi mati rasa. Hasrat memaku mengabadikan kekosongan tuk jadi memoar abstrak membingungkan. Menyuruhku menulis sesuatu yang bahkan tak punya cela untuk satu makna. Memaksaku mendefinisikannya dengan warna-warna, padahal pekat pun tak punya ruang sama sekali. Kegiatan Minggu ini hanya kosong kerompang yang menuntut tuk diapresiasi...