13.2.25

Gak patheken, Gusti!

In lam takun 'alayya ghodlobun fala ubali.
Asalkan engkau tidak marah kepada-Ku ya Allah akan aku terima nasibku didunia.

10.2.25

Dear a Gentleman,

Dear a gentleman, please love me right. I am not come to this life for suffer, you know, right? I am deserve a love from your bottom of the heart. Please, love me purely and harder, show me that no any man can loved me like you do! I wanna feel drunk in your love. I want to hear that your dream is to sleep beside me every night until our skin wrinkles and our hair turn to white one by one, that you want having kids that smart as I am and have eyes as deep as mine. Promise me that you are able to fight to fulfill all my wishes and needs, hug me when I feel the world unfair, and become my safe place to be whoever I wanna be. Tell me that you wouldn't leave me after our worst arguments or my mood swing before periods. Promise me that you will stay by my side until my soul leaves my body. Dear a gentleman, I will love you like you loved me!

6.1.25

marah-marah tapi sedih

muakku sudah sampai ubun-ubun,
ku lewati seribu cara, menghapus resah.
ku rapal doa-doa pada Tuhan, sering.
air mataku tumpah ruah di atas sajadah, sudah.
berdoa di jalanan, pernah.
tapi kenapa tentangnya masih jadi opsi?

apa perlu aku ke dukun, agar cinta ini pergi?
atau ke kyai saja, biar jiwa ini diruqyah?
atau bersekutu dengan setan sekalian?
aku bingung, sumpah!
ini kasih sungguh rekat di angan.

kau apakan aku, Tuhan?
pagi syukurku terganti dengan dukacita,
saat ia mampir ke mimpiku tanpa bicara.
pakai cara apalagi biar aku rela?

..."ku sumpahi kau cepat nikah!
carilah wanita cantik seperti biasanya.
punya anak sepuluh kalau bisa!
biar pahamku khatam,
kalau aku tak punya harapan."

tapi sumpah ini pun tak cukup,
cinta masih mengendap, merajut pilu.
aku terjebak dalam labirin rindu,
di mana langkahku selalu kembali padamu.

20.11.24

Sisa Waktu yang Tak Terucap

Cukup dua puluh lima,
Jika umurku terhampar sampai delapan puluh,
Maka ada lima puluh lima musim yang terbuang,
Yang mengintip dari balik awan,
Tanpa suara, tanpa jejak.

Tak akan kubiarkan ketakutan ini mengikat,
Kunci besar kehidupan yang terpendam dalam diam,
Hari-hariku ragu,
Apakah langit bisa lebih luas dari sempitnya dunia ini?
Apakah aku lebih dari yang terlihat?

Tiap napas yang tersendat adalah beban,
Beban tak terlihat,
Namun mencabik hati yang mengidamkan kebebasan,
Mengabaikan bisikan ilahi,
Yang mengatakan, "Bangkit, anakku.
Kau bukan hanya untuk bertahan."

Kemelaratan, ataukah kesunyian jiwa?
Ketika tiap sudut ruang dihitung dengan harga,
Sedangkan aku berteriak pada kehampaan,
Mengharap lebih dari sekadar mengisi ruang ini.
Tapi dunia memaksaku untuk menatap tanah,
Sementara hati ingin terbang lebih tinggi.

Siapa yang berkata dunia itu abu?
Sementara aku berjalan di atas bara
Yang mengajarkan setiap langkah adalah nilai,
Setiap derap adalah doa,
Tak hanya untuk dunia yang kelabu,
Tapi untuk sesuatu yang tak tampak,
Yang bisa kugapai dari sini,
Walau hanya bayangannya yang ada.


--------------------

Terinspirasi dari :

"I want to live and not just survive"

Itung-itungan Umur, cita-cita, ketakutan dan keraguan
cukup 25 tahun! kalau-kalau umurku sampai 80 tahun : 80 - 25 = 55 tahun. rugilah aku jika sampai takut mengejar yang diimpikan. aku tidak mau terus-terusan hidup dalam ketakutan mengambil keputusan besar dalam hidupku sendiri. aku tidak mau setiap hariku meragukan kata hati bahwa aku bisa lebih dari ini. aku tersiksa setiap hari karena mengabaikan potensi yang dititipkan Tuhan karena hal keduniawian yang tak terpenuhi. aku terlalu takut untuk banyak hal, hatiku selalu berkata bahwa aku mampu melampaui ini, tapi ku abaikan. persetan memang kemelaratan! banyak kesempatan dalam hidup yang tak tergapai karna keterbatasan ekonomi. bagaimana bisa sampai pada tahap hablul minannas kalau alam sadar isinya hanya kiat-kiat agar token listrik tak mati?! siapa yang bilang kalau dunia itu tidak penting dan membandingkan dengan akhirat? ku katakan dengan lantang bahwa keduanya penting dan terkait satu sama lain! selama kita masih hidup di dunia yang serba material ini kita pasti butuh hal-hal duniawi, biar lah hari kematian dan pembalasan sebagai pembatas untuk tindakan tak manusiawi.

18.10.24

Degradasi Iman

diantara tumpukan kain-kain urban bermerk
sajadahku usang berdebu tak pernah tersentuh
secara sadar ku tanggalkan sajadahku
aku terlalu sibuk menumpuk mengepul kain-kain itu
dari yang murah sampai yang mahal
sedang sajadahku hanya satu
itu pun usang sudah lama tak tersentuh
hatiku tersentak bersedih
semakin tua mendekat ajal
semakin luruh sujudku
mungkinkah karena dosaku sudah menggunung?
mungkin Tuhan sudah tak mau memaafkanku
tak pernahnya ku ditegur, disapa, seperti biasa
sudah tertutup mata hatiku oleh yang lain
sajadahku berdebu usang tak kusentuh
sudikah Tuhan menaruh kembali nikmat itu?

9.10.24

Kata Jiwa :

"tidak ada satu pun di dunia ini yang memberatkan 'ku untuk terus disini."

ini antara mahabbah atau putus asa?

15.8.24

Imagining a Day of Freedom

In the realm of freedom, 24 hours to spend,
Each moment a treasure, each hour my friend.
Could every day sparkle, feel like a grand play?
Would boredom creep in, or joy lead the way?

At ten on a Monday, I’d dive into tales,
With Spy x Family, where adventure prevails.
Awake ‘til the morning, just staring in space,
Finding stillness in time, a soothing embrace.

Sipping warm tea, at eleven I’d dwell,
Finishing sketches, my heart’s little spell.
In a whirl of creation, my thoughts take their flight,
Writing stories that dance in the soft morning light.

At noon, I would cook, with delight I would sway,
While music surrounds me, I’d let worries stray.
As the washer hums softly, I’d sway with the tune,
And lose track of time, ‘neath the afternoon moon.

Yet, as evening descends, at seven I’ll paint,
Uploading my visions, a world so quaint.
I’d feast on the colors, my palette a dream,
While budgeting life, my future to scheme.

At nine, I would wander where silence prevails,
Gazing up at the stars, while the night gently hails.
Talking to shadows, as the music flows sweet,
My heart whispers secrets, in the night’s quiet beat.

With avocado bites and a chat with the stray,
Under the vast sky, I’d let worries decay.
Then, by eleven, to bed I would glide,
A day filled with wonder, with freedom as guide.

And the next dawn would beckon with fresh, vibrant plans,
Another mosaic, painted by my hands.
A slice of the heavens, wrapped in joy's embrace—
To live in a world where time’s filled with grace.

14.8.24

keluh kesah pekerja 9-5, mana ada kebebasan? apalagi idealisme passion untuk kaum proletar, omong kosong!

Muak!
Bisa gak beli tahu tempe beras pakai idealisme?
Kalau pakai passion gimana?
Aku bisa gambar dikit, nulis bebas juga bisa,
Tapi gak bisa ikut selera orang apalagi pasar, 
ini soal perasaan;
Ah, sudahlah!
Ternyata, betul kata pak Bismarck:
"Kebebasan adalah kemewahan yang tidak semua orang mampu."
haha aku tidak mampu, jadi, ya sudahlah!
9 - 5 jalan ninjaku.
Hidup kaum buruh!

12.6.24

Thanks to a man who said that long hair suits me

thanks for always choose me in ups and down of a life.
my heart overflows with gratitude for the unconditional love you give.
if someday we are not mean to be together in our forever,
you will always have a place in the entirety of my transient life..
I apologize for sometimes being unable to clearly express my feelings.
thank you for gave all your love to this flawed woman.
I'll always need a man like you,
one who can flourish my feminine side.
I love flowers~
I love to be clingy~
I love to be jealous, caring, and talkactive~
I love to express my IRATIONAL emotion to you before my period!
and you—you can handle me with such calm!
now I know that IT IS FUN TO BE IRATIONAL!
thanks for taking the first step to talk about your feelings to this stiff woman..
who struggles to express her heart except through text.
love you~

8.5.24

Adulting

Cover up my sadness with jokes.
Hiding a crushed spirit behind a job.
Who knew living a tragic life could feel so lavish?

God and I have a pretty tight relationship,
I talk to him every night when my fingers hold the tears.
Somehow I will have to find a way to fulfill my adult responsibilities.

The smell of bitter grapes unwarrented affections
I need to stop letting myself drown in these adulting things.
No, I can't. I let me older by the time.

7.5.24

A Marriage

I used to think that I will end up being "Single" all the rest of my life. If common people think that they will get married and have family (well, I do too!), but I am on the opposite.

My thoughts on relationship sphere are 90% thinking about--the worst--possibilities--on relationship--that will happen to me someday :
1. Single all the time (60%)
2. Then, die (30%)

the 10% are in relationship : getting married, have my little family, etc.

My thoughts are separated between those 2 terms : SINGLE and DIE. the percentage are fluctuating. Sometimes the percentage of the die higher than the single and vice verca.

But, if I finally get married someday, it'll be with a gentleman who is reliable, full of love, caring and kind. Who have provider mindset and able to make me feel safe around him to be whoever I wanna be.

It’s one thing to love someone, but a whole other level to commit to a marriage.

3.9.23

Si Pembual

Aku si baik hati yang tidak tega melihat orang lain kesusahan. 

Hanya rangkaian kata yang tak menyesap dalam laku kesehariannya.

Tulisan-tulisan mengenai Tuhan, kebaikan, kebajikan, bahkan soal ibadah, hanya hidup dalam tempurung kepalanya. Namun kosong dalam sikap-hidupnya.

Jadi..
Jangan pernah percaya apa yang pembual ini tulis. Apalagi sampai menganggap si pembual ini manusia suci, baik, sholeh hanya dari kata yang ia rangkai. Hapus itu dalam benakmu! Bahkan, saat ini saja dia sedang membual.

15.2.23

Gak Ada Ide ft Kuca

 Let's call him as Kuca, biar lebih gampang, singkatan dari kucing ajaib. Baru sadar kalau selama ini kucing yang kadang memacu kejengkelan itu belum punya nama.

Kali ini, tiba-tiba, dia muncul saat aku sedang rebahan sembari melanjutkan gambaran digitalku. Mungkin, dia muncul karena memang sudah waktunya, bulan Februari.

Sembari sesegukan, yang hampir mirip seperti suara kucing muntah setelah makan rumput, dia bilang, "Ka-kamu ngelupain aku!", sroootttt, rupanya dia ingusan.

Dengan reaksi yang biasa aja, cukup terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Aku jawab santai, masih dengan posisi yang sama, coloring gambaranku : Aliens.

"Gak ada ide."

"Did you lost your feelings? your inspirations, him?", dia tanya ke aku, yang setelah kusadari dia sudah merubah mimik wajahnya menjadi serius dan seolah-olah yang barusan dia lakukan itu cuma nangis akting. Aku cukup mengumpat sedikit lewat batin, 'Anjing nih kucing.'

"Gak, biasa aja..

Dan mungkin aku sedang di tahap flat, karena gak ada lagi pikiran yang bikin aku terjebak dalam perasaan menyakitkan itu, jadi aku lagi gak perlu media untuk "kabur", bercerita atau meluapkan rasa."

Lagi-lagi, dia melakukan anggukan sok iye itu.

"Ok, jadi lagi gak ada ide buat nulis ya? gpp."

.........  ............  ............. krik krik..

"Loh, tapi kok ada ide buat gambar?! hah? MAKSUDNYA AAAPAAAH?!" nadanya berubah sedikit kesal dan jealous.

Gemesin.

Yang kubalas dengan gestur cuek ala gak peduli elu, cuma dengan bahu dan mimik wajah, sembari tetap melanjutkan gambaranku.

28.9.22

Libur Sejenak

Tenang, puisi-puisi tak ikut pergi. Ia masih tumbuh subur, ini hanya libur.

4.9.22

#feelingnmeaning

Butterfly? Bitterfly?
Love? or sorrow?

it is shines from your eyes.
complex and beauty.

6.8.22

Selamat Tinggal.,

"Sudah ku habisi diam-diam.

Dia memegang sepucuk kertas yang berisi dua kata di tangannya.

"Apanya?", tanyamu.

"Perasaanku." Sembari menyerahkan kertas itu pada si penanya.

Selamat tinggal.

, tulisnya.