Tenang, puisi-puisi tak ikut pergi. Ia masih tumbuh subur, ini hanya libur.
28.9.22
4.9.22
6.8.22
Selamat Tinggal.,
"Sudah ku habisi diam-diam."
Dia memegang sepucuk kertas yang berisi dua kata di tangannya.
"Apanya?", tanyamu.
"Perasaanku." Sembari menyerahkan kertas itu pada si penanya.
Selamat tinggal.
, tulisnya.
29.6.22
27.6.22
I don't know what love is (2)
morning sun caresses my skin,
warm and subtle touch my feelings,
I don't know what love is
but maybe this is how it feels?
5.6.22
Sebuah Pengakuan
Astagfigrullohaladzim. Semoga Allah berkenan mengampuni pendosa ini.😭
31.5.22
#Feelingandmeaning
Tuhan, aku jangan mati dulu.
Masih ada cinta yang ingin aku beri
Pada dunia yang tak ramah
Pada hidup yang sering marah-marah
Aku masih punya harapan
Adik-adikku yang lucu
Orang tuaku yang tak sempurna
Teman-temanku yang menjengkelkan
tapi aku sayang
Kaktus yang harus kusiram tiap minggu
Siapa yang beli rinso untuk cuci baju?
Bayar listrik?
Beli susu untuk si bungsu?
Aku.
Jadi, Tuhan, aku mohon
jangan biarkan aku mati dulu
Walau mulutku ini sering berdoa minta mati
Tapi, aku jangan sampai mati dulu.
Kalau kau berkenan sih, Tuhan.
Tapi jangan minggu ini, atau bulan depan, ya?
Masih banyak yang ingin aku kerjakan.
Meski kadang menyerah sering kulakukan.
Tapi, itu terserah Engkau sih, Tuhan.
Tapi.... Tuhan,
aku jangan mati dulu.
So this is what love feels
Rain drop fall on my skin
I remember the way you look
among your eyes cold and deep
touch my heart
flush my passion
It feels like a cool breeze
Passes me by
Drop my sweat
So, this is how love feels?
11.5.22
DUMB LOVERS
DUMB LOVERS
He asked me, "Why you love me?"
I said I love him because I don't have a choice. I just have nobody to love.
Then, I asked him, "Why do you love me?"
He said, "I love you because I choose you. I know someone else who loves me than you,
but I'll always choose you."
At that moment, somehow, I love him more than ever.
10.3.22
1.2.22
Dialektika ft Kucing Ajaib : Kerudung
Aku yang mendengar itu otomatis lolak-lolok, "Degradasi iman? bahasamu ndakik banget, maksudnya ini gimana?"
Percakapan ini pun ditutup dengan makan ciki bareng-bareng.
27.12.21
23.11.21
Surat tanpa tujuan
Hallo, siapa saja. Semoga kebaikan selalu menyertai kita. Mungkin ini konyol, menulis surat untuk siapa saja yang membaca. Sebelumnya, apa anda berkenan jika saya panggil tuan? Agar lebih mudah dan nyaman jika saya harus menggunakan sebutan dalam surat ini.
Baik, tuan yang baik hati. Pertama-tama saya mohon maaf bila setelah membaca surat ini mungkin anda tidak menemukan manfaat dan hanya membuang-buang waktu. Dan saya ucapkan banyak terimakasih karena tuan mau membaca surat tidak bertujuan ini.
Sebelumnya perkenalkan, saya perempuan biasa dengan kehidupan yang tidak kalah biasa atau bisa dibilang saya termasuk ordinary people with ordinary life. Saya bukan orang yang memiliki ambisi kuat untuk menaklukkan dunia pun bukan orang dengan bakat atau keahlian luar biasa yang bisa membuat orang takjub dan memuji-muji saya, dan hal-hal hebat lainnya. Saya dan hidup saya seperti puisi karya Taigu Ryokan, "too lazy to be ambitious". Tapi dengan kehidupan yang serba biasa ini saya merasa cukup.
Oh, jangan pula anda cepat berasumsi bahwa kehidupan saya ini selalu diliputi kenyamanan. Pastinya tidak. Seperti air laut, tuan, kadang pasang, kadang surut. Kadang airnya tenang, kadang ombaknya menghantam bebatuan karang. Saya selalu percaya bahwa hidup ini seperti slogan iklan makanan ringan yang cukup populer beberapa tahun lalu, life is never flat. Tidak pernah berhenti suka duka menghampiri. Justru menurut saya disitulah nikmatnya.
Tuan yang baik hati, terimakasih banyak sudah berkenan membaca sampai sini. Di paragraf ini perkenankan saya menulis kebenaran yang selama ini saya telan sendiri. Perasaan yang selama ini saya simpan rapat-rapat.
Apa tuan pernah kecewa karena keyakinan yang selama ini anda kira benar ternyata salah? Ini yang saat ini sedang saya alami, penyebabnya karena saya terlalu tinggi menggantung harapan. Saya harap cinta saya ini akan dibalas. Padahal esensi cinta itu sendiri memberi tanpa meminta, tulus dan ikhlas tanpa berharap balasan, saya lupa, tuan. HAHA. Kalau dipikir-pikir mungkin yang selama ini membuat perasaan ini begitu menyiksa karena harapan untuk dibalas itu ya?
Tapi anda tau apa yang membuat kisah ini begitu menyedihkan? Saya bahkan tidak pernah punya secuil kesempatan untuk lebih mengenal. Jika diumpamakan kisah saya ini seperti peserta audisi nyanyi yang baru sampai parkiran sudah didiskualifikasi.
Seolah saya memang cuma ditakdirkan untuk mencintai, memberi tanpa meminta. Saya juga tidak pernah diberi pilihan untuk jatuh cinta pada siapa. Semua orang tidak pernah diberi pilihan memang. Saya hanya dititipkan cinta begitu saja oleh Tuhan. Mungkin kalau boleh kita bayangkan dialog Tuhan saat pertama kali membuat saya jatuh cinta akan seperti ini,
"Ini Aku beri kamu cinta, tolong ya kamu sampaikan ke dia"
Jadi, selama ini saya hanya jadi fasilitator yang menghubungkan cinta Tuhan ke makhluk-Nya. Tuan, jangan salah paham. Ketika saya menyebut diri sendiri sebagai perempuan biasa, bukan berarti saya merendahkan diri saya dan meninggikan dia. Tidak. Bagaimana pun kita sama-sama manusia. Saya menganggapnya mungkin cinta yang dititipkan Tuhan ke dia bukan untuk saya. Tidak apa, setidaknya saya dan dia masih bisa jadi teman selamanya.
Sekarang tugas saya adalah menerima untuk tidak diberi kembali. :') Akhir kata mari kita dengarkan lagu dari Nazareth dengan judul Love Hurts supaya apa yang ingin saya sampaikan disini semakin terwakilkan. Sekali lagi, terimakasih tuan sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca surat ini sampai selesai. Semoga keselamatan dan kebaikan selalu beriringan dengan langkah tuan dimanapun berada. Salam sejahtera.
Nazareth - Love Hurts
17.11.21
tentang aku,
yang tak kunjung berhenti bercerita tentangnya.
tentang rasa,
yang sejengkal pun tak pernah ia jamah.
kisah sepihak ini dengan khidmat dan sentosa.
Mengheningkan cinta dimulai..
(sunyi)
(sepi)
(kau dengar tangismu sendiri)
........
Aamiin.
(Aamiin)
18.10.21
Try Out jadi Netijen Julid
Kali ini tiba-tiba kucing itu muncul didepanku dan dengan cueknya mengomentari apa yang sedang kukerjakan..
"Iki opo tho? Kupu-kupu kok ngene? warnae gak masuk...."
"Loh he, kenapa anda muncul sekarang?" Tanyaku spontan memotong kalimatnya.
"Lha piye, saya yang selalu menemani anda berbicara setiap hari saat tidak ada siapapun. Saya ada dalam diri anda, selalu. Jadi saya bisa muncul kapanpun saya mau."
"Maksudku, sekarang kan masih Oktober, biasanya kamu datang bulan Februari lho. Gak salah jadwal ta?"
Dia tidak peduli dengan pertanyaanku karena terlalu fokus memperhatikan apa yang kukerjakan dengan seksama dan telili. Memicingkan mata, melihat dari sudut kiri, lalu kanan, dari jarak dekat, lalu dari jarak jauh. Sembari berkomentar laiknya juri Master cheff Indonesia..
"Ha? Styleku memang begini, cing. Bebas dan fun. Ini temanya Bitterfly : Let the butterfly takes your bitter(ness) away. Ini salah satu caraku mengekspresikan rasa dan pikiranku alias curhat tapi tetep rahasia. Jadi, aku gak perlu penilaian dan validasi apapun dari siapapun, termasuk kamu."
HAHAHAHAHA...
Tiba-tiba si kucing kampret ini tertawa terbahak membuat aku sedikit kebingungan melihatnya (Aku kira sudah gila).
"Aku tadi cuma latihan jadi netijen julid mbak. Manteb gak ektingku?"
"OOH DOBOL!"
"Mon Maap.. hehe. Selamat bersenang-senang. Cu next year!"


