23.11.21

Surat tanpa tujuan

Hallo, siapa saja. Semoga kebaikan selalu menyertai kita. Mungkin ini konyol, menulis surat untuk siapa saja yang membaca. Sebelumnya, apa anda berkenan jika saya panggil tuan? Agar lebih mudah dan nyaman jika saya harus menggunakan sebutan dalam surat ini.

Baik, tuan yang baik hati. Pertama-tama saya mohon maaf bila setelah membaca surat ini mungkin anda tidak menemukan manfaat dan hanya membuang-buang waktu. Dan saya ucapkan banyak terimakasih karena tuan mau membaca surat tidak bertujuan ini.

Sebelumnya perkenalkan, saya perempuan biasa dengan kehidupan yang tidak kalah biasa atau bisa dibilang saya termasuk ordinary people with ordinary life. Saya bukan orang yang memiliki ambisi kuat untuk menaklukkan dunia pun bukan orang dengan bakat atau keahlian luar biasa yang bisa membuat orang takjub dan memuji-muji saya, dan hal-hal hebat lainnya. Saya dan hidup saya seperti puisi karya Taigu Ryokan, "too lazy to be ambitious". Tapi dengan kehidupan yang serba biasa ini saya merasa cukup.

Oh, jangan pula anda cepat berasumsi bahwa kehidupan saya ini selalu diliputi kenyamanan. Pastinya tidak. Seperti air laut, tuan, kadang pasang, kadang surut. Kadang airnya tenang, kadang ombaknya menghantam bebatuan karang. Saya selalu percaya bahwa hidup ini seperti slogan iklan makanan ringan yang cukup populer beberapa tahun lalu, life is never flat. Tidak pernah berhenti suka duka menghampiri. Justru menurut saya disitulah nikmatnya.

Tuan yang baik hati, terimakasih banyak sudah berkenan membaca sampai sini. Di paragraf ini perkenankan saya menulis kebenaran yang selama ini saya telan sendiri. Perasaan yang selama ini saya simpan rapat-rapat. 

Apa tuan pernah kecewa karena keyakinan yang selama ini anda kira benar ternyata salah? Ini yang saat ini sedang saya alami, penyebabnya karena saya terlalu tinggi menggantung harapan. Saya harap cinta saya ini akan dibalas. Padahal esensi cinta itu sendiri memberi tanpa meminta, tulus dan ikhlas tanpa berharap balasan, saya lupa, tuan. HAHA. Kalau dipikir-pikir mungkin yang selama ini membuat perasaan ini begitu menyiksa karena harapan untuk dibalas itu ya?

Tapi anda tau apa yang membuat kisah ini begitu menyedihkan? Saya bahkan tidak pernah punya secuil kesempatan untuk lebih mengenal. Jika diumpamakan kisah saya ini seperti peserta audisi nyanyi yang baru sampai parkiran sudah didiskualifikasi.

Seolah saya memang cuma ditakdirkan untuk mencintai, memberi tanpa meminta. Saya juga tidak pernah diberi pilihan untuk jatuh cinta pada siapa. Semua orang tidak pernah diberi pilihan memang. Saya hanya dititipkan cinta begitu saja oleh Tuhan. Mungkin kalau boleh kita bayangkan dialog Tuhan saat pertama kali membuat saya jatuh cinta akan seperti ini,

"Ini Aku beri kamu cinta, tolong ya kamu sampaikan ke dia"

Jadi, selama ini saya hanya jadi fasilitator yang menghubungkan cinta Tuhan ke makhluk-Nya. Tuan, jangan salah paham. Ketika saya menyebut diri sendiri sebagai perempuan biasa, bukan berarti saya merendahkan diri saya dan meninggikan dia. Tidak. Bagaimana pun kita sama-sama manusia. Saya menganggapnya mungkin cinta yang dititipkan Tuhan ke dia bukan untuk saya. Tidak apa, setidaknya saya dan dia masih bisa jadi teman selamanya.

Sekarang tugas saya adalah menerima untuk tidak diberi kembali. :') Akhir kata mari kita dengarkan lagu dari Nazareth dengan judul Love Hurts supaya apa yang ingin saya sampaikan disini semakin terwakilkan. Sekali lagi, terimakasih tuan sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca surat ini sampai selesai. Semoga keselamatan dan kebaikan selalu beriringan dengan langkah tuan dimanapun berada. Salam sejahtera.

Nazareth - Love Hurts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar