Selalu begini :
Jalan pelan-pelan..
Basah kuyup di bawah derasnya hujan
Menengadah menatap air jatuh dari awan
Perih..
Air jatuh dari mata.
26.1.21
24.1.21
Minggu Kali Ini... (Sebuah Apresiasi untuk Kekosongan)
Kali ini suara-suara dikepala begitu sunyi, tidak ada pertanyaan mencerca, tidak ada jawaban berharap dicari. Seolah seluruh emosi mati rasa. Hasrat memaku mengabadikan kekosongan tuk jadi memoar abstrak membingungkan. Menyuruhku menulis sesuatu yang bahkan tak punya cela untuk satu makna. Memaksaku mendefinisikannya dengan warna-warna, padahal pekat pun tak punya ruang sama sekali. Kegiatan Minggu ini hanya kosong kerompang yang menuntut tuk diapresiasi...
16.1.21
27.12.20
Merayakan Kesedihan
Jika aku diberi kuasa, setiap aku sedih akan ku perintah langit mewakili air mata. Lalu ku suruh angin melukis awan membentuk kesedihanku. Ku tuntun ombak menyanyikan asa dan gunung-gunung bersorak-sorak getir hanya agar orang-orang tau lalu mungkin berempati dan ikut merayakan kemanusiawiannya masing-masing. Hari ini aku merayakan sedih, mau ikut?
18.12.20
To be Loved, To be Free
I just wanna stay
Get deeper everyday
Woo The sun and the Moon
I'm free to be whatever
I choose to be
I just wanna fly
Across the blue sky
Touch the surface of the sea
Flying high break the clouds
Throwing my hand in the top of tree
I feel free the breeze
To be loved and fall in it
Like a leaf leaving a twig
Just as dust speed spread
Loving the wind and fall in it
25.11.20
Berbisik pada Tubuh
Kalaupun nanti aku bisa menatap matahari, biar cahayanya menelusuk mata tanpa retina, maka saat itu aku tak kasat mata karena terangnya telah menyetubuhi sukma. Ku jalin ikatan sahabat dengan denting jam, ku pastikan tak 'kan kau dengar lagi keluh kesah. Aku 'kan pulang sebenarnya pulang pada rumah sebetulnya rumah. Aku benarnya aku tanpa babibu, 'kan ku cumbu tenang dan senang sepanjang waktu. Selamat tinggal tubuh, aku tidak akan merindukanmu!
*Beberapa hari lalu aku mimpi aku mati rasanya nyata dan tenang :') sedikit ngeri tapi menakjubkan.
*Beberapa hari lalu aku mimpi aku mati rasanya nyata dan tenang :') sedikit ngeri tapi menakjubkan.
6.10.20
Pak buk aku tidak bisu
Aku bicara lantang
Pita suaraku hampir putus
Tapi aku tidak pernah didengar
Apa mereka yang tidak punya telinga?
Tapi kulihat dua telinga mereka terpampang
Kenapa mereka tidak bisa mendengarku?
Apa mereka semua tuli?
Setidaknya jika tak punya telinga
Dengar kami dengan hati nurani
Pak buk terimakasih aku tidak buta huruf
Sudah kutulis ratus, ribuan bahkan jutaan kata
Tapi mereka tidak pernah membaca tulisanku
Tak iba pada rongrongan kataku yg meronta-ronta
Apa mereka yang buta huruf?
Tapi mereka bisa membaca
Kesempatan busuk memperkaya sanak family mereka
Pak buk puji Tuhan aku bisa melihat
Hamparan luas rumah tak beratap
Hamparan luas rumah tak beratap
Apa tidak mereka lihat keadaan kita?
Kesejahteraan mana yang mereka bicarakan?
Kita, atau mereka sendiri?
Siapa yang mereka wakilkan?
Kita, atau kemakmuran mereka sendiri?
Siapa yang mereka wakilkan?
Kita, atau kemakmuran mereka sendiri?
Pak buk sumpah apa yang mereka gaungkan?
Tuhan saja mereka kibuli, apalagi kita?
2.10.20
Mikrokosmos
Aku tau..
Aku bercermin ke aku
Aku kadang lupa Tuhan
Liyan juga makhluk kompleks sepertiku
Aku sering lupa Tuhan
Hidupku sedetik umur bumi
Apa hidup ini linear?
Atau berulang?
Aku kerap kali lupa Tuhan
Nanti aku pasti lenyap
Tiap hari jatah waktuku pudar
Titik-titik detik mulai menampilkan gambar
Meski samar-samar
Kertas kosong hampir penuh coretan
Tak lama jadi sebuah cerita antar fiktif dan nyata
Oh ya aku lupa Tuhan
Aku manusia
Tak segan ego jadi bos
Yang terekam di otak hanya
Aku aku aku
Aku lupa manusia memang begitu
Aku lupa manusia lain membacaku
Oh ya aku lupa Tuhan
Doaku tentang usia
Tak perlu lama-lama
Tapi tapi tapi
Aku masih bertanya-tanya tentang dunia?
Beri aku waktu lagi!
Oh ya Tuhan
Aku tidak bosan bicara denganMu
Aku pusing memikirkan aku
Aku bingung memahami aku
Aku sepertinya tau..
Aku salah cangkang
Ketinggalan kereta zaman
Aku kesasar di dalam waktu
Aku terjebak dalam aku
Tuhan..
Ragu-ragu gemar menghantui
Takut merusak pintu optimis
Pikiran keruh dibanjiri kata negatif
Ini apa? Bagaimana?
Seperti si dungu yang begitu naif
Bertanya sana sini
Tidak tau banyak hal
Mengkungkung pikirannya sendiri!
Tuhan, sepertinya aku tau..
Aku memang tidak tau!
Tuhan, aku sepertinya tau..
Aku cuma butuh tidur
Lalu terbangun dan sadar kalau ini mimpi
Aku sepertinya tau..
Sekali lagi aku mengoceh
Bla bla bla bla bla
Diperintah otak kolaborasi dengan rasa
Asal tulis tak acuh estetika
Aku seperti tau..
Mikrokosmos itu aku?
14.9.20
Senandika Buruh Kantoran
Tatapanku terpaut besi canggih
Berselancar menyusuri delusif dunia
Sesekali sukmaku mengambil alih
Cekcok dengan diri sendiri
"Biarkan aku pergi,
Menyusuri jalanan mengamati cakrawala
Hanya aku. Ku biarkan kau disini bersama
Benda-benda ini."
"Tidak bisa, aku butuh kamu
Demi tubuh ini, Demi selembar
kertas penukar."
Ku tegakkan badan kembali
Menjerat sukma fokus bekerja
"Sampai kapan?"
"Sampai mampus."
Berselancar menyusuri delusif dunia
Sesekali sukmaku mengambil alih
Cekcok dengan diri sendiri
"Biarkan aku pergi,
Menyusuri jalanan mengamati cakrawala
Hanya aku. Ku biarkan kau disini bersama
Benda-benda ini."
"Tidak bisa, aku butuh kamu
Demi tubuh ini, Demi selembar
kertas penukar."
Ku tegakkan badan kembali
Menjerat sukma fokus bekerja
"Sampai kapan?"
"Sampai mampus."
28.8.20
19.8.20
13.8.20
11.8.20
Melankolis
Malam ini ia duduk dikursi plastik warna biru pucat. Dibalik pagar putih besi bermotif bunga warna emas. Menikmati nyanyian sunyi diiringi gemuruh angin malam meniupi helai-helai rambut puan. Kepalanya meriak menggelombang satu bundel ingatan. Sekejap bercecaran di udara, bergelantungan di langit-langit atap rumah. Ia terpaku memandang elok taburan bintang, adakah jawaban disana?
6.7.20
Kongkalikong sama Tuhan
Kataku ke Tuhan :
Tuhan aku ingin jadi burung agar aku bisa terbang leluasa di angkasa
Eh jangan! nanti aku ditembak manusia buluku dijadikan hiasan di topinya
Tuhan aku ingin jadi kucing kecil lucu di pasar
Eh gak jadi ah! nanti aku ditendang, dipukul, atau gak sengaja ditabrak kendaraan manusia
Tuhan aku ingin jadi pohon agar bisa memberi tempat teduh dan oksigen ke makhluk lain
Ehh nggak ah nanti aku ditebang jadi kertas atau tisu atau lahan untuk bangun pabrik
Kalau gitu aku ingin jadi udara saja, Tuhan! Yang menyelubungi bumi agar makhluk lain bisa tinggal disini. Tapi gak jadi deh soalnya aku takut nanti decemari polusi dari kendaraan dan pabrik-pabrik.
Ehm aku ingin jadi singa saja Tuhan! Gagah berani berdiri di tengah hutan mengaum aauuuhhmm
Eh sebentar! tidak jadi Tuhan nanti aku diburu manusia kulitku dijadikan pakaian
Jadi ikan saja lah. Eh jangan! nanti aku mati karena racun yang dibuang ke laut oleh manusia
Tuhan, aku jadi Iblis saja, boleh tidak? Eh tunggu tunggu! gak mau ah nanti aku dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan manusia
Tanya-Nya : Jadi malaikat?
Kataku : Nggak ah, kurang greget. Aduh enaknya jadi apa ya Tuhan?
Tuhan bertanya antusias : Nah, jadi benda-benda langit saja gimana?
Jawabku pasrah dan sedikit menuntut : Tapi mereka tidak punya kesadaran atas dirinya, tidak bisa berpikir apalagi merasa?? Tapi, Ah yasudah lah! Apa saja deh Tuhan yang penting jauh dari manusia dan tidak seperti manusia. Aku muak jadi manusia!
Tuhan aku ingin jadi burung agar aku bisa terbang leluasa di angkasa
Eh jangan! nanti aku ditembak manusia buluku dijadikan hiasan di topinya
Tuhan aku ingin jadi kucing kecil lucu di pasar
Eh gak jadi ah! nanti aku ditendang, dipukul, atau gak sengaja ditabrak kendaraan manusia
Tuhan aku ingin jadi pohon agar bisa memberi tempat teduh dan oksigen ke makhluk lain
Ehh nggak ah nanti aku ditebang jadi kertas atau tisu atau lahan untuk bangun pabrik
Kalau gitu aku ingin jadi udara saja, Tuhan! Yang menyelubungi bumi agar makhluk lain bisa tinggal disini. Tapi gak jadi deh soalnya aku takut nanti decemari polusi dari kendaraan dan pabrik-pabrik.
Ehm aku ingin jadi singa saja Tuhan! Gagah berani berdiri di tengah hutan mengaum aauuuhhmm
Eh sebentar! tidak jadi Tuhan nanti aku diburu manusia kulitku dijadikan pakaian
Jadi ikan saja lah. Eh jangan! nanti aku mati karena racun yang dibuang ke laut oleh manusia
Tuhan, aku jadi Iblis saja, boleh tidak? Eh tunggu tunggu! gak mau ah nanti aku dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan manusia
Tanya-Nya : Jadi malaikat?
Kataku : Nggak ah, kurang greget. Aduh enaknya jadi apa ya Tuhan?
Tuhan bertanya antusias : Nah, jadi benda-benda langit saja gimana?
Jawabku pasrah dan sedikit menuntut : Tapi mereka tidak punya kesadaran atas dirinya, tidak bisa berpikir apalagi merasa?? Tapi, Ah yasudah lah! Apa saja deh Tuhan yang penting jauh dari manusia dan tidak seperti manusia. Aku muak jadi manusia!
20.6.20
Macam-macam hamba
/1/
didendangkan nada-nada cinta
ditulis puisi kekaguman atas kuasaNya
menatap ciptaanNya penuh takjub luar biasa
tak lupa menyebut namaNya kala bicara
tapi tau tidak? itu hanya bualan semata!
saat tidak ada manusia yang melihat
tak segan dilanggar laranganNya
tak ragu abaikan perintahNya
/2/
Obsesi pada simbol-simbol agama
menyiarkan hukum-hukum Tuhan, sampai lupa
seolah hakim bagi yang tak seiman
seolah sempurna benar bagi yang tak sejalan
tanpa sadar, mengkerdilkan Tuhan
padahal, jangan-jangan,
pikiran sendiri yang dangkal?
/3/
darinya Tuhan menjelma penuh kasih sayang
tuturnya lemah lembut pada siapa saja yang datang
mencintai Tuhan sebanding mengasihi ciptaanNya
cintaNya masuk ke relung-relung hati
memenuhi darah, mengiringi detak jantung
menemani tiap langkah laki, hembusan nafas
bahkan kedipan mata
yang nampak hanya cintaNya
yang keluar dari bibir adalah kasihNya
yang terpancar dari perilakunya ialah cahayaNya
/4/
ibadah sebab suatu keharusan
kebiasaan turun temurun
lakunya tak ubah penggugur kewajiban
sembari meminta ini itu
sembari bercerita begini begitu
bak wadah untuk mengadu
bagai ombak di lautan
kadang kejam menghantam bebatuan
kadang kala tenang dalam kedangkalan
didendangkan nada-nada cinta
ditulis puisi kekaguman atas kuasaNya
menatap ciptaanNya penuh takjub luar biasa
tak lupa menyebut namaNya kala bicara
tapi tau tidak? itu hanya bualan semata!
saat tidak ada manusia yang melihat
tak segan dilanggar laranganNya
tak ragu abaikan perintahNya
/2/
Obsesi pada simbol-simbol agama
menyiarkan hukum-hukum Tuhan, sampai lupa
seolah hakim bagi yang tak seiman
seolah sempurna benar bagi yang tak sejalan
tanpa sadar, mengkerdilkan Tuhan
padahal, jangan-jangan,
pikiran sendiri yang dangkal?
/3/
darinya Tuhan menjelma penuh kasih sayang
tuturnya lemah lembut pada siapa saja yang datang
mencintai Tuhan sebanding mengasihi ciptaanNya
cintaNya masuk ke relung-relung hati
memenuhi darah, mengiringi detak jantung
menemani tiap langkah laki, hembusan nafas
bahkan kedipan mata
yang nampak hanya cintaNya
yang keluar dari bibir adalah kasihNya
yang terpancar dari perilakunya ialah cahayaNya
/4/
ibadah sebab suatu keharusan
kebiasaan turun temurun
lakunya tak ubah penggugur kewajiban
sembari meminta ini itu
sembari bercerita begini begitu
bak wadah untuk mengadu
bagai ombak di lautan
kadang kejam menghantam bebatuan
kadang kala tenang dalam kedangkalan
15.6.20
do'a
tak ada jarak
tak laku waktu
doa melanglang buana ke penjuru dunia
tak ada sekat
tak laku liku
doa menulusuk bilik- bilik ragu
tak ada batas
tak laku kelas
doa 'kan menggema di angkasa luas
tak ada raga
tak laku ras, agama, suku
doa selalu berlayar menuju yang dituju
tak laku waktu
doa melanglang buana ke penjuru dunia
tak ada sekat
tak laku liku
doa menulusuk bilik- bilik ragu
tak ada batas
tak laku kelas
doa 'kan menggema di angkasa luas
tak ada raga
tak laku ras, agama, suku
doa selalu berlayar menuju yang dituju
14.6.20
Milik siapa?
Saat muda-mudi dilanda cinta..
Aku mencintaimu karena itu aku ingin kamu jadi milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!, katanya dengan suara penuh penekanan, yakin.
Aku pun mencintaimu, tapi bagaimana kamu bisa memiliki ku jika ragaku saja bukan milik ku?, jawab lainnya sekaligus tanya.
Seketika hening. Mungkin keduanya sibuk mencari jawaban yang tepat.
Aku mencintaimu karena itu aku ingin kamu jadi milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!, katanya dengan suara penuh penekanan, yakin.
Aku pun mencintaimu, tapi bagaimana kamu bisa memiliki ku jika ragaku saja bukan milik ku?, jawab lainnya sekaligus tanya.
Seketika hening. Mungkin keduanya sibuk mencari jawaban yang tepat.

