14.2.20

Tongkol untuk kucing ajaib

Dua hari lalu, aku kembali lagi ke loteng rumah. Aku perlu waktu sendiri untuk berpikir dan merenung, atau sekadar duduk-duduk melamun. Ngobrol sama angin, tembok, langit dan akhir-akhir ini sama kucing.
klutaakk..

Refleks aku menolah ke arah suara itu berasal, 'Ealah kucing iku neh, tiwas tak kiro malaikat zabaniyah, jantungku kadung deg-degan tak pikir jatuh cinta', batinku. 'huft!'. aku menatap langit kembali. Dia--kucing itu-- seperti yang lalu, rebahan disebelahku.

"Tekan ndi ae kuwi?", tanyaku saat dia sudah mapan tiduran.

"Tolek pindang, nemu balunge tok. Asu tenan wong-wong iki!"

"Oalah", jawabku singkat tanpa melihat kearahnya.

"Jancik oalah tok, mbok yo sampeyan ki shodakohno iwake sampeyan ning aku sitik ae. Cerit nemen menungso iki!"

"Gelem tahu a?", tanyaku.

"Gak!! SUWON!!", dari nada suaranya nampak dia kesal sekali. "Yawis", balasku cuek, aku menahan tawa melihat dia jengkel sendiri.

Kita terdiam lagi. Dia tidur, aku memangku tangan diatas lutut, kurebahkan kepalaku, melihat kegiatan orang-orang dari atas sini. Saat itu, dari HP acak memutar lagu, Jamrud - Pelangi Dimatamu. 

Mungkin butuh kursus
Merangkai kata untuk bicara
Dan aku benci harus jujur padamu,
Tentang semua ini
........
Aku sayang padamu
Aku sayang padamu

Begitulah liriknya. Tiba-tiba aku ingat seseorang.

"Cing pernah gak kuwi naksir wong tapi ga wani ngomong?", tanyaku ke dia, memecah keheningan.

"Gak blas, nek naksir yo mestine diomongno, wong hak kabeh wong ngungkapno roso. toh iku yo guduk pilihane awakdewe naksir ning dee, pilihane awadewe yo ngungkapno o gak.".

Aku mengangguk-angguk, mengiyakan jawaban sok bijaknya tapi benar itu.

"Terus piye, cing? aku isin, gak nyongko sisan iso sampe seseneng iki ning wong"

"Lanang ta wedok?", tanyanya.

"Lanang lah cuk! jaluk di congor mbun-mbunane", aku menatapnya, dia menatapku balik dengan wajah serius..

"Omongno ae lah, sesuk iki loh pas valentinan. Tukokno saridele ning bulek Ju, mbek kembang kamboja jupuk ndek kuburan cidek samsat konoh."

Aku tertawa ngakak, Jancuk! mana ada orang ngasih kado valentine berupa sebungkus es saridele dan sekotak bunga kamboja? Tapi, boleh juga sih, perpaduan antara lucu, malu-maluin, antimainstream dan gak ada duwit.

"Tambahno surat tanah lak dee gelem", tambahnya. Semakin buatku ngakak tepingkal-pingkal. PARAH! kucing bisa ndagel.

"Nggak ah cing, sik gak wani"

"Ealah yawis, simpeno ae iku perasaan sampeyan sampe blenek", katanya.

"Iyo", jawabku singkat dan jelas. 'Nanti lama-lama juga aku lupa', tambahku dalam hati. Jawaban yang sama seperti jawabanku lima tahun lalu.

Lalu aku teringat sesuatu, aku turun kebawah, buka rak, kuambil separuh tongkol di mangkok lauk punya Ibuku. Lalu aku taruh didepannya. dia bangun dari tidurnya mendengus ikan tongkol tepat didepan hidungnya, terkejut, wajahnya sumringah.

"Gawe aku a, mbot? eh, sowry gak sopan, gawe aku ta, mbak? Gratis gak iki?", tanyanya dengan wajah berseri-seri bahagia.

"Yo'i, Gratis. Iku dalam rangka hari kasih sayang."

"Hari kasih sayang kan gak onok harine, sak mbendino, berarti sampeyan kudu ngeki aku iwak sak mbendino. Yo oraaaa?!" Katanya, dengan wajah yang semakin sumringah.

"Yoi", Jawabku singkat. "Wah, Suwon, mbak sampeyan pancen the best trulala", Tanpa basa-basi, dia langsung melahap tongkol yang kucuri dari rak rumahku sendiri. "Lho, gak moco bismillah sek", protesku.

"Aku atheis."....

4.2.20

Kucing Ajaib

Hari pertama di bulan Februari, kebetulan jatuh pada hari Sabtu, itu berarti di awal bulan kedua ini  setelah gajian aku pulang tiga jam lebih awal dari hari kerja biasanya. Hore! HAHAHA. Kalau sudah kehabisan kegiatan setelah kerja, pikiran secara otomatis buat to do list sederhana.

Seperti biasa kalau tidak ada kegiatan lain, tempat yang jadi tujuan pertama adalah loteng rumah. Tepat di tempat biasa aku duduk, ada kucing rebahan sambil ngopi dan sebat. Aku bercanda! Maklum, imajinasi memang gak masuk akal.

'Mana ada kucing ngopi apalagi rokokan?', batinku.

Tiba-tiba tepat dari sebelahku muncul suara kecil serak-serak basah membalas gejolak batinku..
"Lah piye arep ngopi mbek rokokan tho Mbak, mangan ae susah kudu tolek-tolek ning sampah sik. mending yo nyolong pindang luwih garai weteng wareg."

"JUANGKREK!!!", sialnya serangga itu yang tanpa disadari selalu keluar dari mulutku saat aku terkejut, bukan kalimat istigfar. Refleks aku langsung mundur beberapa langkah dari kucing itu.

"Plis mbak aku kucing, guduk jangkrek. Piye tho ra iso mbedakno mamalia mbek serangga, ngetarani gak tau nyimak pas pelajaran IPA.", kucing itu melihatku dengan sinis seakan-akan tidak terima dengan umpatanku.

Aku diam ditempat masih terkejut dan pastinya tidak percaya. Nalarku menggebu-gebu berusaha mencerna kejadian aneh ini. Aku melihat kucing itu lekat-lekat..

"Aku kucing ajaib, mbak. Aku bisa ngomong dan pendengar yang baik juga. Aku sering dengar sampeyan ngomong-ngomong sendiri disini. Aku jug...."

"Lho berarti kuwi ki sering nguping!"

"Astagfigrulloh, nggak mbak. Aku cuma gak sengaja dengar ocehannya sampeyan, wong sampeyan ngomongnya mesti berak-berok ya aku dengar lah. Su'udzhon ini!", dia tampak kesal.

Lucu, baru kali ini aku lihat kucing dengan raut wajah kesal.
"Hehe, maaf, cing", Tidak tau kenapa aku sudah tidak takut dengan kucing ajaib ini, aku mulai memaklumi. Pikirku, toh hadirnya dunia ini juga sama tidak masuk akalnya dengna kucing yang bicara itu. Akhirnya, aku mulai berani kembali duduk ke tempat dudukku semula. Aku terdiam sebentar..

Kemudian dia bertanya..
"Apa aku ini sudah gila ya mbak ngomong sama manusia?"

Aku menoleh kearahnya.. heran.
"Lho, kudune aku sing takon ngunu cing, guduk awamu.. Aneh iki!
Tapi, menurutku wi gak gendeng sih soale gak kabeh hal iso masuk ndek akal, cing. gak kabeh hal kudu mok eroi toh gak mungkin yoan awamu ero sak kabehne, gak kabeh hal kudu dipikirno yoan. Tapi ancen iki gak masuk akal yo, cing?"

Dia manggung-manggut setuju, terlihat seperti mikir dan berkata dengan yakin, "Nah, itu maksudku! Mung nek kabeh ning dunyo iki diukur mek atek nalar tok. Gampangane, film-film kartun favorit'e sampeyan ora bakal ono, mbak."

Sekarang gantian aku yang manggut-manggut setuju. Baru kali ini aku bertemu dengan hewan yang bisa berpikir selain manusia. Kami pun kembali tenggelam dengan dunianya masing-masing. Merenung, berpikir, atau hanya sekedar mengenang masa silam ditemani angin sepoi-sepoi dan langit sore menjelang malam.

6.1.20

Itung-itungan sholat

Berapakah waktu yang dibutuhkan Mat, Ema dan Tika untuk beribadah (sholat fardhu) dalam setahun jika seandainya mereka tidak pernah meninggalkan sholat sekalipun? hitunglah dengan detail beserta penjelasannya! lalu jadikan presentase!

Jawaban :

Ket :
Sehari = 24 jam
Setahun = 365 hari
Setahun = 24 x 365 = 8.760 jam

Jika..
> sholat yang terdiri dari 4 rokaat membutuhkan waktu 15 menit beserta zikir dan doanya.
> sehari ada 3 sholat wajib 4 rokaat.
> sholat yang terdiri dari 3 rokaat membutuhkan waktu 12 menit beserta zikir dan doanya.
> sehari ada 1 sholat wajib 3 rokaat.
> sholat yang terdiri dari 2 rokaat membutuhkan waktu 10 menit beserta zikir dan doanya pula.
> sehari ada 1 sholat wajib 2 rokaat.

Waktu yang dibutuhkan untuk Ibadah dalam setahun :

1 jam = 60 menit
15 menit = 15/60 menit = 1/4 jam
12 menit = 12/60 menit = 1/5 jam
10 menit = 10/60 menit = 1/6 jam

Sholat 4 rokaat dalam setahun :
1/4 x 3 x 365 = 273,75 jam = 274 jam (dibulatkan)

Sholat 3 rokaat dalam setahun :
1/5 x 1 x 365 = 73 jam

Sholat 2 rokaat dalam setahun :
1/6 x 1 x 365 = 60,83 jam = 61 jam (dibulatkan)

Jumlah jam Ibadah wajib selama setahun :
274 + 73 + 61 = 408
Presentase jam Ibadah wajib selama setahun :
408/8.760 = 0,0465 = 4,65 %

Jadi, Mat, Ema dan Tika menggunakan 4,65% waktunya dalam setahun untuk melakukan sholat wajib atau ibadah.

24.10.19

Waktu, Hidup, Mati


Jam dilambangkan sebagai waktu, pohon gersang dilambangkan sebagai mati, tumbuhan yang melilit pohon dilambangkan sebagai hidup.

"SETIAP YANG BERNYAWA PASTI AKAN MERASAKAN MATI"

diambil dari ayat Al-Quran: Ali Imran; 3:185.

"..kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa, hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa." - Kesaksian Sederhana; Cak Nun; 2003.

24.8.19

O.K

This is not what I had planned,
It's all out of my control.
Whatever will be, then will be.
Nobody knows.
I'm not ok, but it's ok.