1.8.21

Berserah Diri

Sungguh manusiawi jika kita merasa susah dan mengeluh. Tuhan Maha adil membagikan gembira dan lara pada semua orang sesuai porsinya masing-masing, tanpa pandang bulu. Setiap orang memiliki arenanya sendiri. 

Sesuatu yang wajar jika kadang kita merasa bahwa dunia sedang menghantam wajah kita atau kaki-kaki kenyataan mendorong punggung kita agar terjatuh sehingga muka bersilaturahmi dengan trotoar kehidupan. Lebam dan beset sudah risiko. 

Saya semogakan kita selalu memiliki jiwa legowo, ikhlas, dan berserah diri padaNya dalam menjalani proses hidup yang saya rasa hanya sekejap mata ini. Semoga kelak kita akan kembali keharibaanNya dalam keadaan husnul khatimah.

5.7.21

Secuil Jejak Waktu

Kalau-kalau nanti tiga puluh atau delapan puluh tahun umurku
Aku harap diberi setahun atau enam bulan atau sebulan, seminggu
Sehari, sejam, sepuluh menit, atau dua menit
Agar aku bisa lebih memahami dan mengosongkan tanya
yang memburuku tanpa ampun, biar setidak-tidaknya eksistensiku diakui
Sekali dalam genggaman jejak waktu

Dua menit, sepuluh menit, sejam, sehari, apalagi seminggu
Tak pernah tertinggal sejejak pun waktu
Yang sotoynya ku tebak takkan mampu hingga nanti
Aku cemburu pada waktu-waktu yang haram ku katakan secara gamblang
Yang samar-samarnya mengkristal jadi artefak di angan, menghantui tiba-tiba
Sebulan, enam bulan, setahun, tujuh tahun atau sepertiga abad lamanya

Dua menit, sepuluh menit, sejam, sehari, atau setahun
Tak ada jejakku dalam jatah waktu
Maka tak sepetak pun ruang khusus untukku
Kecuali sedikit waktu yang sekadar berdetak tak berbekas
Dua menit, sepuluh menit, sejam, sehari, seminggu, setahun,
Tujuh tahun, tak pernah ada secuil jejak waktu

10.6.21

Biarkan langit memutuskan

Dalam tahun-tahun panjang,
dengan beribu tanda yang terbata-bata terbaca.

Langit masih tak tersentuh.. terlalu jauh.

Dilepasnya dengan lapang, 
biar berserakan di al t a r p  e na n t ia  n.

3.6.21

Sembahyangku hari ini

Perasaan tenang dan dada yang lapang hari ini tidak kau dapat dari sembahyang. Sembahyang bukan lagi kebutuhan tuk merasakan kehadiran Tuhan dalam diri. Sembahyangmu hanyalah berupa gerakan badan. Tak sedikitpun menyentuh jiwa, tak menghangatkan hati, maupun menjernihkan pikiran. Sembahanyangmu disetiap hari, tak lebih dari rutinitas penggugur kewajiban.

24.5.21

Suicide Thought
Everything feels too hard
 She couldn't handle it,
"Take the pills or cut the pulse."
Some people are fighting for their lives,
and she was just hoping to die.*
How pity her mind.
Suicide.

*Dari film Daisy Winters

#feelingnmeaning

There is beauty in simplicity: Flowers
05 | 21


#Imagination #Selfexpression


#Flowerblooms #Imperfections

==========

Kesederhanaan dan keindahan.

Meterial :
Kertas A2, cat acrylic, bulpoin, water color.

18.5.21

Different road

"See you soon, or never."
        She said, unwell, unsure.
        Just some rain tapping the roof.

4.5.21

I don't know what love is

Is love just a woman and a man?
Whether love is life itself and the world, isn't it?
Flowers and butterflies and bees,
Water stream and its gurgling,
Leaves fall and whirlwind,
You and me,
I and live,
Life and the world,
Poets and poetry,
Tea or coffee,
Guitar and music,
Isn't it?

This Sunday evening,
splash water on my face,
A second gone by itself,
The cold linger occupy my mind.
Actually, my heart mystify warm.

27.4.21

Jika aku terlahir tuli buta dan bisu (Siapa lah aku)

Jika aku terlahir tuli.
Akan kah dunia begitu sunyi?
Apakah aku bisa dengar berisiknya suara alam?
Jika aku terlahir buta.
Bisa kah aku lihat warna cahaya?
Akankah aku tetap kagum pada indahnya dunia?
Jika aku terlahir bisu.
Mampukah orang-orang memahami gerakan tangan,
tulisan bahkan maksud dari igauanku?
Bisakah mereka membaca raga, batin, dan jiwaku?
Jika aku terlahir tuli, buta, dan bisu.
Meski tak cacat sedikit pun intuisi, perasaan, dan akalku.
Mampukah aku tetap menerima gelap dan terang dalam aku?
Tapi, bagaimana jika aku terlahir cacat pikiranku.
Bisa kah aku mengenal diri sendiri dan mengenal-Mu?
Lantas, marah kah Engkau karena itu?
Jika aku, tidak pernah lahir, Tuhan..
Jika aku, tidak pernah ada.
Jika aku tidak pernah diciptakan..
Bagaimana jadinya aku?
Adakah aku?..
Siapa lah aku.

25.4.21

Under the vast sky

At night in a crowded city,
People rest themselves.
I sit alone under the vast sky,
On the silent street.
Dream, dream on,
I find solitude and peace.

24.4.21

That years

Tell me-
What will it be?
I find that seasons too,
has come and gone.
Flowers will bloom;
to fall under the wind.
Frolicking by destiny's whirl,
over and over again.

22.4.21

Hopeless

The gloomy clouds above in the dark night
Covering the sky by its pitch black
How will I ever see the light?

10.4.21

Hal yang tidak ingin dilupakan..

Bumi berputar di porosnya mengelilingi matahari dan dikelilingi bulan di salah satu galaksi dari ratusan milyar galaksi; Bima Sakti. Betapa agungnya, menakjubkan, ajaib, Tuhan! Aku, ternyata disini satu percikan kecil dari kesadaran.

10.3.21

Ah, Kita seharusnya Sedih

Semakin kesini makin lawak. Yang disentuh hanya permukaannya saja, masih jauh dari inti. Terpaku pada formalitas, lupa hakikat. Ah, ya Allah, siapa dan apalah aku ini ngomong begini? Tapi, ini membuat aku sedih sekaligus miris melihatnya. Jaman apa ini, aku hidup di masa apa? Sekarang yang di jual tidak cuma berupa barang. Empati, atensi, dan agama jadi produk paling laris.

Hari ini, agama jadi barang dagangan. Shampo hijab, handbody hijab, deterjen hijab bahkan seminar poligami yang paling sering digembor-gemborkan. Ketakwaan dan iman seseorang hanya dinilai dari seberapa panjang hijabnya dan seberapa lebat janggutnya. Bahkan hari ini kita dapat menilai kadar keimanan dan isi hati orang dari postingan di akun instagram. Ah, ya Allah, entah kenapa aku sedih. Apa sekarang jamannya menggerus esensi? Apa jaman sekarang hanya materi yang dijunjung tinggi?

Hari ini bukan jamannya menjajah fisik. HAM begitu kokoh ditegakkan, perang fisik sudah hampir tidak ada. Hari ini kita dijajah dan menjajah pikiran, kepercayaan, psikologis orang. Kita kontrol dan dikontrol apa yang disuka dan dibenci orang. Kita menutupi borok-borok kita dengan kalimat manis berbau amis. Ah, ya Allah. Jaman apa ini?

Hari ini, betapa kita sering menduakan, mentigakan, meseratus ribukan Engkau, Allah. Belanja gila-gilaan, kita sembah ideologi konsumerisme secara sadar atau tidak. Kita lakukan apa saja untuk dapatkan kesenangan sementara. Lupa diri sendiri. Lupa hakikat. Bahkan Tuhan, kita berani menggadaikan hati nurani untuk selembar kertas atau kedudukan. Kita bacok saudara kita. Kita rampok hak-haknya. Ah, ya Allah, aku sedih. Jaman apa ini?

* Setelah nonton sponsor deterjen hijab :(

5.3.21

Time forgets

24.2.21

Beginning Middle End

There's magic in details

14.2.21

#Feelingnmeaning

Connected I | 01.21

Connected II | 02.21

Pro dan Kontra, yin dan yang, b&w, benar dan salah, proton dan neutron dsb. Berbeda tapi saling melengkapi, yang beda tidak sepenuhnya beda, yang sama juga tidak sepenuhnya sama. Ada perbedaan dalam persamaan, dan ada persamaan dalam perbedaan. Semua terhubung dalam entitas yang besar, yaitu kehidupan.

==========

Identity | 02.21

Sebenarnya ini terinspirasi dari sajak yang aku baca di salah satu blog stranger di internet. Identitas manusia terdiri dari nomer-nomer dan dokumen : tanggal lahir, No.KK, NIK, KTP, Akte, No. absen, BB, TB. Dan kita juga punya nilai-nilai personal yang membentuk kita, lalu jadi identitas kita.

==========

Feeling Blue | 09.20

Dari lagunya Bob Marley yang No Woman No Cry. Aku kira kalimat itu bermakna keangkuhan, tapi Setelah aku baca-baca konteks dari lagunya ternyata makna dari judul lagu itu lebih ke mangayomi dan menenangkan. No, woman, no cry.

==========

Ugly Duckling | 12.20

Terinspirasi dari spongebob waktu scene "I'm ugly and I'm proud" dan terpikirkan juga standar kecantikan yang dibicarakan banyak orang. But I think, we are beyond than those standards. We are more than flesh and blood.

“I'm not a body with a soul, I'm a soul that has a
visible part called the body.”

― Paulo Coelho, Eleven Minutes