10.3.21

Ah, Kita seharusnya Sedih

Semakin kesini makin lawak. Yang disentuh hanya permukaannya saja, masih jauh dari inti. Terpaku pada formalitas, lupa hakikat. Ah, ya Allah, siapa dan apalah aku ini ngomong begini? Tapi, ini membuat aku sedih sekaligus miris melihatnya. Jaman apa ini, aku hidup di masa apa? Sekarang yang di jual tidak cuma berupa barang. Empati, atensi, dan agama jadi produk paling laris.

Hari ini, agama jadi barang dagangan. Shampo hijab, handbody hijab, deterjen hijab bahkan seminar poligami yang paling sering digembor-gemborkan. Ketakwaan dan iman seseorang hanya dinilai dari seberapa panjang hijabnya dan seberapa lebat janggutnya. Bahkan hari ini kita dapat menilai kadar keimanan dan isi hati orang dari postingan di akun instagram. Ah, ya Allah, entah kenapa aku sedih. Apa sekarang jamannya menggerus esensi? Apa jaman sekarang hanya materi yang dijunjung tinggi?

Hari ini bukan jamannya menjajah fisik. HAM begitu kokoh ditegakkan, perang fisik sudah hampir tidak ada. Hari ini kita dijajah dan menjajah pikiran, kepercayaan, psikologis orang. Kita kontrol dan dikontrol apa yang disuka dan dibenci orang. Kita menutupi borok-borok kita dengan kalimat manis berbau amis. Ah, ya Allah. Jaman apa ini?

Hari ini, betapa kita sering menduakan, mentigakan, meseratus ribukan Engkau, Allah. Belanja gila-gilaan, kita sembah ideologi konsumerisme secara sadar atau tidak. Kita lakukan apa saja untuk dapatkan kesenangan sementara. Lupa diri sendiri. Lupa hakikat. Bahkan Tuhan, kita berani menggadaikan hati nurani untuk selembar kertas atau kedudukan. Kita bacok saudara kita. Kita rampok hak-haknya. Ah, ya Allah, aku sedih. Jaman apa ini?

* Setelah nonton sponsor deterjen hijab :(

1 komentar:

Posting Komentar