thank you for gave all your love to this flawed woman.
love you~
Cover up my sadness with jokes.
Hiding a crushed spirit behind a job.
Who knew living a tragic life could feel so lavish?
God and I have a pretty tight relationship,
I talk to him every night when my fingers hold the tears.
Somehow I will have to find a way to fulfill my adult responsibilities.
The smell of bitter grapes unwarrented affections
I need to stop letting myself drown in these adulting things.
No, I can't. I let me older by the time.
I used to think that I will end up being "Single" all the rest of my life. If common people think that they will get married and have family (well, I do too!), but I am on the opposite.
My thoughts on relationship sphere are 90% thinking about--the worst--possibilities--on relationship--that will happen to me someday :
1. Single all the time (60%)
2. Then, die (30%)
the 10% are in relationship : getting married, have my little family, etc.
My thoughts are separated between those 2 terms : SINGLE and DIE. the percentage are fluctuating. Sometimes the percentage of the die higher than the single and vice verca.
But, if I finally get married someday, it'll be with a gentleman who is reliable, full of love, caring and kind. Who have provider mindset and able to make me feel safe around him to be whoever I wanna be.
It’s one thing to love someone, but a whole other level to commit to a marriage.
Aku si baik hati yang tidak tega melihat orang lain kesusahan.
Hanya rangkaian kata yang tak menyesap dalam laku kesehariannya.
Let's call him as Kuca, biar lebih gampang, singkatan dari kucing ajaib. Baru sadar kalau selama ini kucing yang kadang memacu kejengkelan itu belum punya nama.
Kali ini, tiba-tiba, dia muncul saat aku sedang rebahan sembari melanjutkan gambaran digitalku. Mungkin, dia muncul karena memang sudah waktunya, bulan Februari.
Sembari sesegukan, yang hampir mirip seperti suara kucing muntah setelah makan rumput, dia bilang, "Ka-kamu ngelupain aku!", sroootttt, rupanya dia ingusan.
Dengan reaksi yang biasa aja, cukup terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Aku jawab santai, masih dengan posisi yang sama, coloring gambaranku : Aliens.
"Gak ada ide."
"Did you lost your feelings? your inspirations, him?", dia tanya ke aku, yang setelah kusadari dia sudah merubah mimik wajahnya menjadi serius dan seolah-olah yang barusan dia lakukan itu cuma nangis akting. Aku cukup mengumpat sedikit lewat batin, 'Anjing nih kucing.'
"Gak, biasa aja..
Dan mungkin aku sedang di tahap flat, karena gak ada lagi pikiran yang bikin aku terjebak dalam perasaan menyakitkan itu, jadi aku lagi gak perlu media untuk "kabur", bercerita atau meluapkan rasa."
Lagi-lagi, dia melakukan anggukan sok iye itu.
"Ok, jadi lagi gak ada ide buat nulis ya? gpp."
......... ............ ............. krik krik..
"Loh, tapi kok ada ide buat gambar?! hah? MAKSUDNYA AAAPAAAH?!" nadanya berubah sedikit kesal dan jealous.
Gemesin.
Yang kubalas dengan gestur cuek ala gak peduli elu, cuma dengan bahu dan mimik wajah, sembari tetap melanjutkan gambaranku.
"Sudah ku habisi diam-diam."
Dia memegang sepucuk kertas yang berisi dua kata di tangannya.
"Apanya?", tanyamu.
"Perasaanku." Sembari menyerahkan kertas itu pada si penanya.
Selamat tinggal.
, tulisnya.
morning sun caresses my skin,
warm and subtle touch my feelings,
I don't know what love is
but maybe this is how it feels?
Rain drop fall on my skin
I remember the way you look
among your eyes cold and deep
touch my heart
flush my passion
It feels like a cool breeze
Passes me by
Drop my sweat
So, this is how love feels?
DUMB LOVERS
He asked me, "Why you love me?"
I said I love him because I don't have a choice. I just have nobody to love.
Then, I asked him, "Why do you love me?"
He said, "I love you because I choose you. I know someone else who loves me than you,
but I'll always choose you."
At that moment, somehow, I love him more than ever.