7.5.24

A Marriage

I used to think that I will end up being "Single" all the rest of my life. If common people think that they will get married and have family (well, I do too!), but I am on the opposite.

My thoughts on relationship sphere are 90% thinking about--the worst--possibilities--on relationship--that will happen to me someday :
1. Single all the time (60%)
2. Then, die (30%)

the 10% are in relationship : getting married, have my little family, etc.

My thoughts are separated between those 2 terms : SINGLE and DIE. the percentage are fluctuating. Sometimes the percentage of the die higher than the single and vice verca.

But, if I finally get married someday, it'll be with a gentleman who is reliable, full of love, caring and kind. Who have provider mindset and able to make me feel safe around him to be whoever I wanna be.

It’s one thing to love someone, but a whole other level to commit to a marriage.

3.9.23

Si Pembual

Aku si baik hati yang tidak tega melihat orang lain kesusahan. 

Hanya rangkaian kata yang tak menyesap dalam laku kesehariannya.

Tulisan-tulisan mengenai Tuhan, kebaikan, kebajikan, bahkan soal ibadah, hanya hidup dalam tempurung kepalanya. Namun kosong dalam sikap-hidupnya.

Jadi..
Jangan pernah percaya apa yang pembual ini tulis. Apalagi sampai menganggap si pembual ini manusia suci, baik, sholeh hanya dari kata yang ia rangkai. Hapus itu dalam benakmu! Bahkan, saat ini saja dia sedang membual.

15.2.23

Gak Ada Ide ft Kuca

 Let's call him as Kuca, biar lebih gampang, singkatan dari kucing ajaib. Baru sadar kalau selama ini kucing yang kadang memacu kejengkelan itu belum punya nama.

Kali ini, tiba-tiba, dia muncul saat aku sedang rebahan sembari melanjutkan gambaran digitalku. Mungkin, dia muncul karena memang sudah waktunya, bulan Februari.

Sembari sesegukan, yang hampir mirip seperti suara kucing muntah setelah makan rumput, dia bilang, "Ka-kamu ngelupain aku!", sroootttt, rupanya dia ingusan.

Dengan reaksi yang biasa aja, cukup terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Aku jawab santai, masih dengan posisi yang sama, coloring gambaranku : Aliens.

"Gak ada ide."

"Did you lost your feelings? your inspirations, him?", dia tanya ke aku, yang setelah kusadari dia sudah merubah mimik wajahnya menjadi serius dan seolah-olah yang barusan dia lakukan itu cuma nangis akting. Aku cukup mengumpat sedikit lewat batin, 'Anjing nih kucing.'

"Gak, biasa aja..

Dan mungkin aku sedang di tahap flat, karena gak ada lagi pikiran yang bikin aku terjebak dalam perasaan menyakitkan itu, jadi aku lagi gak perlu media untuk "kabur", bercerita atau meluapkan rasa."

Lagi-lagi, dia melakukan anggukan sok iye itu.

"Ok, jadi lagi gak ada ide buat nulis ya? gpp."

.........  ............  ............. krik krik..

"Loh, tapi kok ada ide buat gambar?! hah? MAKSUDNYA AAAPAAAH?!" nadanya berubah sedikit kesal dan jealous.

Gemesin.

Yang kubalas dengan gestur cuek ala gak peduli elu, cuma dengan bahu dan mimik wajah, sembari tetap melanjutkan gambaranku.

28.9.22

Libur Sejenak

Tenang, puisi-puisi tak ikut pergi. Ia masih tumbuh subur, ini hanya libur.

4.9.22

#feelingnmeaning

Butterfly? Bitterfly?
Love? or sorrow?

it is shines from your eyes.
complex and beauty.

6.8.22

Selamat Tinggal.,

"Sudah ku habisi diam-diam.

Dia memegang sepucuk kertas yang berisi dua kata di tangannya.

"Apanya?", tanyamu.

"Perasaanku." Sembari menyerahkan kertas itu pada si penanya.

Selamat tinggal.

, tulisnya.

29.6.22

Santai, jangan mendahului Tuhan.

Santai, jangan mendahului Tuhan.

27.6.22

I don't know what love is (2)

morning sun caresses my skin,
warm and subtle touch my feelings,
I don't know what love is
but maybe this is how it feels?

Cinta itu adalah..

cinta itu adalah..

5.6.22

Sebuah Pengakuan


Akhir-akhir ini perasaan butuh kepada Rahmat dan Ridho Allah kian mengikis. Rasa tentram dan nyaman yang sebelumnya selalu saya peroleh setelah beribadah sudah lama tidak saya rasakan. Doa-doa kecil yang sering saya panjatkan dimanapun dan kapanpun saya butuh sudah saya lupakan.

YA Allah. Astagfigrullohaladzim.

Saya memang bukan hamba yang taat tapi saya rindu perasaan itu. KataNya, Langit dan bumi tidak mampu mencapai Dia, hanya hati yang bisa. Hati saya sudah dipenuhi titik pekat. Hampir tertutup. Saya merasa berpuluh ribu istigfar pun tidak cukup menutupi semua kelalaian saya.

Astagfigrullohaladzim. Semoga Allah berkenan mengampuni pendosa ini.😭

31.5.22

#feelingandmeaning

Jendela Jiwa | 06 Maret, 2018

#Feelingandmeaning

#feelingandmeaning

Tuhan, aku jangan mati dulu.
Masih ada cinta yang ingin aku beri
Pada dunia yang tak ramah
Pada hidup yang sering marah-marah
Aku masih punya harapan
Adik-adikku yang lucu
Orang tuaku yang tak sempurna
Teman-temanku yang menjengkelkan
tapi aku sayang
Kaktus yang harus kusiram tiap minggu
Siapa yang beli rinso untuk cuci baju?
Bayar listrik?
Beli susu untuk si bungsu?
Aku.
Jadi, Tuhan, aku mohon
jangan biarkan aku mati dulu
Walau mulutku ini sering berdoa minta mati
Tapi, aku jangan sampai mati dulu.
Kalau kau berkenan sih, Tuhan.
Tapi jangan minggu ini, atau bulan depan, ya?
Masih banyak yang ingin aku kerjakan.
Meski kadang menyerah sering kulakukan.
Tapi, itu terserah Engkau sih, Tuhan.
Tapi.... Tuhan,
aku jangan mati dulu.

Hope | Mei, 2022

So this is what love feels

Rain drop fall on my skin
I remember the way you look
among your eyes cold and deep
touch my heart
flush my passion
It feels like a cool breeze
Passes me by
Drop my sweat
So, this is how love feels?

11.5.22

DUMB LOVERS

DUMB LOVERS

He asked me, "Why you love me?"
I said I love him because I don't have a choice. I just have nobody to love.
Then, I asked him, "Why do you love me?"
He said, "I love you because I choose you. I know someone else who loves me than you, 
but I'll always choose you.
"
At that moment, somehow, I love him more than ever.

10.3.22

#feelingnmeaning

My Bitterfly


Let the butterflies takes your bitter(ness) away


then grant you a full of joy all day.

1.2.22

Dialektika ft Kucing Ajaib : Kerudung

Kucing itu datang lagi, kali ini dia langsung menyodorkan pertanyaan yang cukup personal.

"Mbak kenapa sampeyan buka kerudung, apa itu berarti anda mengalami degradasi iman?"

Aku yang mendengar itu otomatis lolak-lolok, "Degradasi iman? bahasamu ndakik banget, maksudnya ini gimana?"

Kucing kampret sok iye itu menghabisi jarak, dia duduk disebelahku seperti biasa, lalu menjelaskan, "Jadi gini, intinya yang membuat anda memutuskan untuk menanggalkan kerudung yang sudah anda pertahankan 4-5 tahun kebelakang itu apa? Apakah itu berarti menurunnya keimanan anda? Atau lebih ektrim lagi, apa hijrah agama atau malah seperti saya, atheis? HAHA"

Tanpa sadar aku juga meniru gayanya yang sok iye, menyilangkan tangan ke dada lalu sok-sokan menganggukkan kepala, jari telunjuk kananku menyentuh ujung dahi kanan sebagai tanda bahwa aku sedang berpikir. (Note: epok-epok mikir ben koyok wong yes)

"Ok, nice question, cing!", aku acungi dua jari jempol.

Aku mikir sebentar.. sepuluh menit berlalu.. duapuluh menit.. dua jam.. tiga jam.. lima jam... lalu akhirnya..

"Jadi gini cing..."

Dia sedikit terkejut bangun dari tidurnya yang belum terlelap, "ASTAGFIGRULLOH! Sik kaet sampeyan jawab?!"

"Lha sepurane cing. Wong otekku lemot, kamu tau sendiri kan cara berpikirku bagaimana? Jangan marah dong, mau tak jawab atau nggak nih, kalau nggak aku tak balik kamar aja!", jawabku ketus.

"YA ALLAH.." Dia menahan emosinya dengan teknik mengatur nafas. "Silahkan anda jawab, SE-KA-RANG!"

Hehehe aku tersenyum senang melihat dia sedikit geram. Lucu! Kali ini tanpa babibu langsung aku tekan tombol [Aku versi Serius..] di otakku.

"Ok, jadi gini cing.. Sebenarnya kalau masalah lepas kerudung itu sudah lama aku lakukan, kalau aku lagi tidur atau dirumah aja, apalagi pas lagi mandi ya gak pake kerudung..."

"MBAK..!!" Kucing kampret itu langusng mendelik ke aku! 

Dan ternyata tadi aku salah pencet tombol [Aku versi Serius, tapi bo'ong, papalepapale..] diotakku. Maaf ya. Kali ini beneran tombol [Aku versi Serius] ori no kaleng-kaleng aku pencet. Lalu tiba-tiba, KLING! Aku versi serius menguasai otak, jiwa, dan tubuhku.

"Kamu ingat kan, setelah lulus SD aku sudah niat pakai kerudung secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari? Waktu itu juga aku masih ngaji di TPA kampung, jadi narasi mengenai perempuan berkerudung itu sudah lekat dalam ingatan. Pas daftar SMP pun aku memilih seragam untuk siswi berkerudung. Tapi lucunya, waktu itu kalau lagi gerah, kerudungnya tak lepas. Bodo amat haha. Kamu tau sendiri kan cing, dalam hal berpakaian aku lebih memprioritaskan nyaman dan gak ribet?"

"Iya sih mbak, sampeyan memang paling cuek dan anti ribet kalau soal berpakaian."

"Bener, kalau bisa sih ke manapun pakai baju seadanya. Kaos, celana, sendalan.. budal! Tapi gak bisa, aku tetap harus ngikutin norma-norma maupun tradisi yang berlaku karena aku manusia. Kalau kucing kan gak ribet masalah penampilan."

Dia mengangguk-angguk lagi, "Iya juga sih, hamdalah jadi kucing. Ok lanjut tentang kerudung mbak."

"Sebelum aku memutuskan untuk istiqomah memakai kerudung, sekitar tahun 2015an, aku mencari tau apapun tentang kewajiban seorang muslimah untuk memakai kerudung/hijab/jilbab. Tapi kayaknya definisi mereka bertiga ini beda deh, cing. Tapi yawis ben, biar lebih gampang kita sebut aja kerudung ya, cing..", Dia ngangguk doang. 

"Aku gak mau keputusanku ini hanya dipengaruhi oleh trend hijrah atau sekadar ikut-ikutan aja, makanya sebelum pakai kerudung aku cari tau dulu karena aku maunya keputusanku ini diambil dari kesadaran berpikirku sendiri. Dan itu juga karena biar aku bisa istiqomah, aku butuh pondasi yang kuat. Aku butuh niat atau nawaitu yang jejeg, cing."

Aku turun sebentar ngambil minum, snack ciki, dan pindang lalu kembali lagi ke loteng. Duduk, memberikan pindang ke kucing itu, minum beberapa teguk, lalu bercerita kembali..

"..Jadi saat itu, aku sebatas mencari melalui baca-baca di internet sampai pinjam buku entah dari siapa, aku lupa. Disisi lain karena aku gak tau harus tanya dan berdiskusi mengenai ini ke siapa. Jadi aku cari-cari sendiri. Intinya buku itu membahas wajibnya seorang perempuan menutup aurat dengan memakai kerudung tapi disitu ya isinya sekadar perintah-perintah gitu, cing. Long story short, karena pencarianku itu mulailah aku berkerudung. Awalnya sih biasa aja, tapi seiring berjalannya waktu persepsiku tentang kerudung berubah."

Nampak dia sedang menjilati kakinya. Rupanya pindang yang tadi kuberikan tinggal tulang saja. Lalu kembali dia mengangguk-angguk, sok iye.

"Oh I see. Setauku ya mbak, konteks kerudung dijaman nabi itu sebagai identitas dan pembeda antara budak dan perempuan terhormat agar tidak diganggu oleh laki-laki hidung belang. Lantas apakah karena itu anda berpikir bahwa kerudung sudah tidak relate di jaman sekarang karena perempuan pakai kerudung atau nggak tetap digoda dan lagipula sekarang perbudakan sudah gak ada, sudah ada HAM. Gitu ta?"

Tanpa ragu-ragu dan dibumbui kegoblokan aku langsung menjawab.

"Iya cing. Itu juga yang mempengaruhi aku. Dan entah kenapa semakin dewasa semakin merasa I lost my old self. Aku kehilangan diriku muda dulu. Aku kangen rambut panjangku tanpa poni yang dikuncir sedikit berantakan, rambut pendekku yang tetep aja aku kuncir dan terlihat lebih berantakan tapi aku suka style begini, pakai kalung taring atau gelang warna-warni kayak dulu, aduh! hahaha dll. Meskipun sebenarnya jaman sekarang fashion berjilbab sudah bermacam-macam dan sama sekali tidak membatasi gerak dan kebebasan bereskpresi, tapi aku merasa lebih nyaman dan lebih jadi diri sendiri saat tidak pakai kerudung. Simple dan tetep aku. Hehe konyol dan goblok ya?"

"OK... emm.." Lalu dia mengangguk-angguk lagi, tapi kali ini gak sok iye.

"Mungkin bisa dibilang ini suatu degradasi iman, cing. Aku kadang masih mikir keputusanku ini bener atau nggak dan masih bertanya-tanya aku mengambil keputusan ini sebenarnya berdasarkan apa. Dan sekarang kalau diamati kerudung itu pragmatis aja, gak ada relasi antara kualitas spiritual seseorang dengan kerudung/jilbab/hijab nya."

"Ok, kalau misal anda mengartikan kualitas spiritual adalah akhlak dan cinta ke Allah, itu terlalu abstrak dan personal mbak. Orang sholat pun belum tentu akhlaknya baik dan bermoral, meskipun hakikatnya sholat itu adalah untuk mencegah keburukan dan mengajak ke kebaikan, yang nantinya membuat kita menjadi orang shaleh secara sosial, menjadi manusia yang berakhlakul kharimah, dan bermanfaat untuk semua makhluk Tuhan; manusia, tumbuhan, hewan, dsb. Kalau sholatnya gak bener yaa sholat cuma jadi sebatas ritual saja. Orang sholat pun ya belum berarti juga dia melakukan itu karena cinta ke Tuhan, hanya kebiasaan semata juga bisa. Tapi, didalam Al-quran menutup aurat bagi perempuan adalah suatu kewajiban mbak. Meskipun memang sih ada perbedaan pendapat batas aurat diantara para ulama.... dan mungkin kita juga perlu mengelaborasi lagi mengenai menutup aurat dengan hijab/jilbab maupun kerudung." 

Aku yang mendengar ini hanya mengangguk-angguk tapi gak sok iye.

"Iya cing. Gimana ya.. aku lebih nyaman begini. Perbedaan pendapat itu juga sih yang mempengaruhi aku memandang hijab/kerudung/jilbab, dan banyak hal. Dan alhamdulillah sekarang aku mulai paham kalau Islam itu agama yang begitu kompleks, gak sekaku atau sehitam putih yang selama ini aku tau dan pikirkan, dan alhamdulillah lagi aku lebih bisa merasakan bahwa Rahmat Allah itu luasssss sekali, gak terbayangkan olehku, bahkan oleh siapapun."

Tiba-tiba dia diam sejenak, "Hmmm.... menarik juga ya mbak, kita harus belajar lebih banyak lagi deh tentang Islam dan banyak hal lainnya." 

"Memang cing. Rasanya mempelajari Islam itu gak akan ada selesainya kayak mempelajari hidup dan alam semesta."

"Ya, karena Islam adalah hidup dan alam semesta itu sendiri.", gumamnya.

"Apa cing? Barusan kamu ngomong apa?" Tanyaku tidak dengar apa yang barusan dia bicarakan.

"Aku setuju kata sampeyan waktu lalu mbak, 'Selama kita hidup kita gak akan pernah berhenti belajar.'...... btw, cikinya gak dimakan nih? Minta boleh?"

"Oh ya lupa, ok."

"Thanks mbak"

Percakapan ini pun ditutup dengan makan ciki bareng-bareng.